Ekspor Senjata Global Melonjak karena Permintaan dari Eropa

Selasa, 10 Mar 2026, 02:40 WIB

STOCKHOLM - Aliran senjata global meningkat hampir 10 persen dalam lima tahun terakhir, dengan impor Eropa meningkat lebih dari tiga kali lipat, menurut sebuah laporan yang dirilis Senin (9/3).

“Lonjakan pembelian senjata di negara-negara Eropa dapat dijelaskan, setidaknya sebagian, oleh fakta bahwa mereka membeli senjata untuk dipasok ke Ukraina dan karena mereka berupaya meningkatkan kemampuan militer mereka sendiri terhadap ancaman yang dirasakan dari Russia,” ungkap Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).

Ket. Foto: Mathew George — Sumber: sipri.org

Menurut laporan terkini SIPRI, volume aliran senjata di seluruh dunia meningkat sebesar 9,2 persen pada periode 2021 hingga 2025 dibandingkan dengan periode lima tahun sebelumnya.

SIPRI menganalisis tren selama setengah dekade karena beberapa pengiriman kontrak besar dapat mempengaruhi angka tahunan.

“Meskipun impor senjata ke Eropa masih belum mencapai tingkat yang terlihat selama Perang Dingin, Eropa sekarang menjadi penerima senjata terbesar," kata Mathew George, direktur Program Transfer Senjata SIPRI, kepada AFP.

"Pengiriman ke Ukraina sejak tahun 2022 adalah faktor yang paling jelas, tetapi sebagian besar negara Eropa lainnya juga mulai mengimpor senjata dalam jumlah yang jauh lebih banyak untuk memperkuat kemampuan militer mereka dalam menghadapi ancaman yang dirasakan semakin meningkat dari Rusia," imbuh dia.

Negara-negara Eropa menyumbang 33 persen dari impor senjata global, meningkatkan impor mereka sebesar 210 persen dari periode lima tahun sebelumnya. Hampir setengah dari senjata yang dikirim ke Eropa, yaitu 48 persen, berasal dari Amerika Serikat (AS).

AS sendiri mendominasi ekspor senjata, menyumbang 42 persen dari seluruh transfer senjata internasional pada periode tersebut, naik dari 36 persen dalam lima tahun sebelumnya.

Terlepas dari pembicaraan tentang perlunya Eropa menjadi lebih mandiri, George mencatat bahwa transfer antar negara Eropa hanya mencakup seperlima dari arus di kawasan tersebut. "Pemasok Eropa masih memasok sebagian besar barang ke luar Eropa daripada ke dalam Eropa," kata George.

Dalam laporan SIPRI juga terungkap bahwa Jerman berhasil menyalip Tiongkok dan menjadi pengekspor senjata terbesar keempat pada tahun 2021-2025, dengan 5,7 persen dari total ekspor senjata global.

Hampir seperempat ekspor Jerman dikirim ke Ukraina sebagai bantuan dan hanya 17 persen yang dikirim ke negara-negara Eropa lainnya, artinya lebih dari setengahnya meninggalkan benua tersebut.

“Dominasi AS dalam memasok Eropa kemungkinan akan berlanjut dalam waktu dekat,” kata George, seraya menunjukkan bahwa lebih dari 460 jet tempur F-35 sedang menunggu pengiriman.

Sementara impor senjata ke Timur Tengah menyusut sebesar 13 persen antara tahun 2016-2020 dan 2021-2025. Namun, tiga importir terbesar dunia masih berasal dari kawasan ini, yang menerima lebih dari setengah impornya, 54 persen, dari AS.

Arab Saudi menyumbang 6,8 persen dari impor global, sementara Qatar dan Kuwait masing-masing menyumbang 6,4 persen dan 4,8 persen.

"Kedepannya, kami melihat daftar panjang barang-barang yang sedang menunggu pengiriman ke Timur Tengah. Jadi, ketika barang-barang itu dikirim, kita bisa melihat angka-angka tersebut berpotensi meningkat," kata George.

Prancis, eksportir terbesar kedua, yang mencatat pertumbuhan ekspor sebesar 21 persen, hanya menyumbang 9,8 persen dari total ekspor senjata global pada tahun 2021-2025.

Russia, eksportir terbesar ketiga, adalah satu-satunya dari 10 negara teratas di dunia yang mengalami penurunan ekspor. Penjualan senjatanya turun 64 persen berdasarkan volume pada tahun 2021-2025 dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya, mengurangi pangsa ekspor globalnya dari 21 persen pada tahun 2016-2020 menjadi 6,8 persen pada tahun 2021-2025.

Penurunan ekspor Rusia sebagian dapat dijelaskan oleh fakta bahwa Moskwa menggunakan lebih banyak peralatan yang diproduksinya untuk perang di Ukraina, dan juga karena AS dan Eropa telah mendorong negara-negara ketiga untuk tidak membeli senjata Russia, kata George.

Selain itu, dua importir utama persenjataan Russia yaitu Tiongkok dan India, sedang mempertimbangkan pengembangan dan produksi teknologi pertahanan dalam negeri, kata George.

Dalam kasus India, negara tersebut juga mempertimbangkan untuk melakukan diversifikasi pemasok senjata mereka.

Langkah Tiongkok menuju produksi dalam negeri yang lebih besar dan menjauhi impor dari Russia menyebabkan impor keseluruhannya turun sebesar 72 persen.

Menurut SIPRI, negara tersebut keluar dari daftar 10 importir terbesar untuk pertama kalinya sejak awal tahun 1990-an.

Meskipun kawasan Asia dan Oseania merupakan importir terbesar kedua, penurunan impor Tiongkok menyebabkan penurunan volume sebesar 20 persen di kawasan tersebut pada tahun 2021-2025 dibandingkan dengan tahun 2016-2020.

Meskipun demikian, Tiongkok tidak berhenti berinvestasi dalam kemampuan militernya, sehingga beberapa negara tetangganya pun mengikuti jejaknya.

"Kekhawatiran atas niat Tiongkok dan kemampuan militernya yang terus meningkat terus mempengaruhi upaya persenjataan di bagian lain Asia dan Oseania, yang seringkali masih bergantung pada senjata impor," kata Siemon Wezeman, seorang peneliti senior di SIPRI.

Antara tahun 2016-2020 dan 2021-2025, Jepang meningkatkan impor senjatanya sebesar 76 persen, sementara Taiwan meningkatkannya sebesar 54 persen. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.