AI Jadi Teman Baru Gen Z? Ini Temuan Mengejutkan Studi Kaspersky

Rabu, 19 Agu 2026, 04:15 WIB

ISTANBUL - Perusahaan perangkat lunak asal Rusia, Kaspersky, merilis hasil studi global terbaru yang menunjukkan lebih dari seperempat Generasi Z (Gen Z) pengguna gawai teknologi berinteraksi dengan kecerdasan buatan (AI) dan seolah-olah sedang berkomunikasi dengan seorang teman.

Teknologi tersebut dimanfaatkan oleh Gen Z untuk mendapat dukungan emosional dan urusan pribadi, menurut sebuah studi yang dirilis pada Selasa.

Ket. Foto: Orang-orang mengunjungi Konferensi Internet Dunia 2025 Light of Internet Expo di Wuzhen, Provinsi Zhejiang, China, Kamis (6/11/2025). — Sumber: Antara foto/Xinhua

Survei yang melibatkan 7.200 responden itu menunjukkan bahwa Generasi Z menggunakan AI jauh lebih aktif dibandingkan generasi lain.

Sebanyak 27 persen dari responden survei itu menggunakan teknologi tersebut layaknya seorang teman, sehingga menandai pergeseran pandangan terhadap AI sebagai alat yang hanya berorientasi pada tugas menjadi sumber dukungan emosional dan persahabatan.

Studi tersebut mengungkapkan 28 persen Gen Z berkonsultasi dengan AI mengenai masalah pribadi yang mereka ragu untuk membagikan kepada orang lain. Hal itu menunjukkan betapa sistem percakapan tersebut secara alami menyatu dengan kebiasaan digital mereka.

Kemudian, hampir setengah dari respon, yaitu 47 persen, menggunakan AI setiap hari atau secara berkala yang menandai tingkat tertinggi di antara semua kelompok demografis.

Kaum muda memanfaatkan AI untuk berbagai tujuan, di mana 56 persen di antaranya mencari informasi, 49 persen untuk belajar, 47 persen untuk menghasilkan ide, dan 39 persen menggunakannya untuk bekerja.

Meskipun tingkat aktivitas dan kepercayaan diri mereka tinggi di dunia digital, banyak peserta meremehkan risiko terkait dengan AI.

Hanya 42 persen Gen Z pengguna teknologi yang secara rutin menerapkan langkah-langkah keamanan, seperti memverifikasi informasi dari sumber terpercaya dan menghindari pembagian data rahasia.

Kemudian, 52 persen lainnya hanya sesekali mengambil langkah-langkah pencegahan tersebut, sedangkan 6 persen sama sekali tidak menerapkan langkah-langkah keamanan apa pun.

Para ahli pun memperingatkan bahwa seiring dengan interaksi yang semakin personal, pengguna harus ingat bahwa informasi yang dimasukkan ke dalam teknologi AI sebaiknya dianggap sebagai data non-rahasia secara default.

Kaspersky memperingatkan hal itu karena sistem-sistem tersebut dapat menghasilkan jawaban salah dan membocorkan data sensitif.

Manajer grup Pusat Penelitian Teknologi AI Kaspersky, Vladislav Tushkanov, mengatakan bahwa dibandingkan dengan generasi lain, Gen Z memahami tren AI yang terus berkembang jauh lebih baik serta menemukan berbagai cara baru untuk mengintegrasikan teknologi itu ke dalam kehidupan sehari-hari.

Tushkanov menekankan interaksi yang bersifat personal tidak boleh disamakan dengan percakapan pribadi atau sepenuhnya dapat diandalkan.

Dia juga mendorong para pengguna muda untuk mendukung rasa ingin tahu mereka dengan kebiasaan, seperti memverifikasi informasi dan melindungi data pribadi.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.