• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Cegah Risiko Stunting, Sim...

Cegah Risiko Stunting, Simak Cara Atasi Berat Badan Anak Kurang

Sabtu, 07 Mar 2026, 12:12 WIB

JAKARTA – Dalam momen Hari Gizi Nasional 2026, PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) meluncurkan kampanye “Pejuang Berat Badan Anak.” Inisiatif ini mengajak para Bunda pejuang berat badan anak agar lebih memahami pentingnya nutrisi seimbang, deteksi dini, dan pemantauan rutin agar anak mencapai berat badan ideal serta terhindar dari gangguan pertumbuhan.

Kampanye tersebut merupakan keberlanjutan dari upaya Sarihusada pada tahun 2025 lalu melalui gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) dan kampanye aksi “3 Langkah Maju” yang telah meraih Rekor MURI untuk kategori skrining pertumbuhan anak terbanyak dengan menjangkau 1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Ket. Foto: Peluncuran kampanye Pejuang Berat Badan Anak, di Jakarta pada hari Jumat (6/3). Di tengah prevalensi berat badan kurang (underweight) pada balita meningkat, kampanye ini mengedukasi tentang pentingnya nutrisi seimbang, deteksi dini melalui Growth Checker, dan pentingnya protein hewani guna mencegah risiko gagal tumbuh dan stunting pada anak Indonesia. — Sumber: Koran Jakarta - Haryo Brono

Dalam masa pertumbuhan anak, pencapaian berat badan ideal merupakan indikator penting dalam menilai status gizi. Jika anak mengalami kondisi berat badan kurang, hal tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, baik secara fisik maupun kognitif. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh asupan gizi yang tidak memadai, termasuk kurangnya asupan kalori dan protein.

Untuk mengatasi hal itu, perlu deteksi dini dan pemantauan berat badan secara rutin sangat krusial untuk mencegah risiko gagal tumbuh. Namun, berdasarkan data hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi underweight atau berat badan kurang pada anak di bawah 5 tahun masih berada di angka 16,8%, meningkat dari 15,9% pada 2023. Kondisi ini memerlukan perhatian serius karena berisiko meningkatkan angka stunting di Indonesia.

Dokter Spesialis Anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A., mengatakan, status gizi anak adalah salah satu tolok ukur penilaian tercukupinya kebutuhan asupan gizi harian. Berat badan dan tinggi badan merupakan dua parameter penting dalam penilaian tersebut.

“Orang tua dianjurkan menimbang berat badan anak minimal sebulan sekali pada usia di bawah 1 tahun dan minimal tiga bulan sekali sampai usia 2 tahun. Jika asupan nutrisi terpenuhi seoptimal mungkin, tumbuh kembangnya akan optimal,” paparnya.

“Sebaliknya, status gizi yang bermasalah berisiko memengaruhi perkembangan hingga dewasa. Oleh karena itu, gejala berat badan kurang atau sulit naik (BB seret) perlu diwaspadai sebagai tanda gangguan pertumbuhan,” tambahnya.

Dalam upaya mencegah atau mengatasi berat badan kurang, penting untuk memenuhi gizi tepat dengan memastikan menu makan mengandung karbohidrat, protein hewani, sayur, dan lemak sehat. Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging, serta susu sangat penting. Selain itu, lakukan pemantauan rutin minimal sebulan sekali hingga usia 5 tahun di Puskesmas, Posyandu, atau rumah sakit.

“Deteksi dini memungkinkan intervensi lebih cepat. Jika diperlukan, dokter bisa merekomendasikan susu tinggi kalori untuk mengejar kenaikan berat badan. Namun, pemberian ini harus dengan rekomendasi dan pemantauan dokter spesialis anak,” jelas dr. Ian.

CEO PT Sarihusada Generasi Mahardhika, Joris Bernard, menuturkan, pihakya berkomitmen mendukung tumbuh kembang optimal anak Indonesia, khususnya dalam mengatasi masalah berat badan kurang. Gerakan ‘Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS)’ telah memecahkan dua Rekor MURI pada 2025.

“Rekor pertama untuk ‘Jumlah Skrining Pertumbuhan Dan Status Gizi Balita Terbanyak’ dan rekor kedua untuk ‘Jumlah Edukasi dan Skrining Stunting secara Luring Terbanyak’. Pada 2026 ini, komitmen tersebut diperkuat melalui kampanye ‘Pejuang Berat Badan Anak’ guna memperluas edukasi dan mendorong deteksi dini,” ucapnya.

Aktris dan ibu dari dua anak, Cut Meyriska, mengungkapkan, Kondisi BB seret sering jadi kekhawatiran utama karena berat badan adalah indikator yang mudah dipantau. Untuk para orang tua, jangan merasa sendirian.

“Saat anak mengalami BB seret, terpenting adalah tetap tenang, pantau rutin, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan. Saya mengapresiasi inisiatif Sarihusada sehingga para Bunda bisa mendapatkan akses edukasi dan cek pertumbuhan si Kecil dengan mudah,” ungkapnya.

Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director Sarihusada, Angelia Susanto, mengatakan, sebagai kelanjutan gerakan GMBS sejak 2023, kampanye tersebut bertujuan memperluas jangkauan edukasi. Pihaknya mengajak para Bunda melakukan deteksi dini melalui Growth Checker di bit.ly/pejuangbbanak-alodokter.

“Kami berharap kampanye ini membantu pemerintah mengatasi masalah kesehatan anak sedini mungkin melalui intervensi gizi yang tepat agar mereka tumbuh menjadi generasi maju,” ujarnya.

  • Rekor MURI
  • Berat Badan
  • protein hewani
  • tengkes
  • Sarihusada
  • Nutrisi anak
  • Stunting
  • Parenting Indonesia
  • Hari Gizi Nasional 2026
  • Pejuang Berat Badan Anak
  • Growth Checker
  • Cut Meyriska
  • Generasi Maju
  • Underweight Balita

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.