- Home
-
- Luar Negeri
-
- Respons Konflik Timur Teng...
Respons Konflik Timur Tengah, Presiden Macron Kerahkan Kapal Induk Charles de Gaulle
Rabu, 04 Mar 2026, 19:35 WIBJAKARTA - Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan kapal induk Charles de Gaulle beserta kekuatan udara dan fregat pengawalnya untuk bergerak menuju kawasan Mediterania sebagai respons atas eskalasi konflik di Timur Tengah. Langkah tersebut diumumkan dalam pidato yang disiarkan secara nasional pada Selasa malam waktu setempat, di tengah meningkatnya ketegangan akibat penutupan Selat Hormuz dan ancaman terhadap Terusan Suez serta jalur pelayaran di Laut Merah.
Macron menegaskan bahwa situasi yang berkembang telah berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi dan perdagangan internasional yang bergantung pada keamanan jalur laut strategis tersebut. Ia menyatakan bahwa Prancis tidak dapat tinggal diam ketika arus minyak, gas, dan logistik dunia terganggu oleh konflik yang terus meluas tanpa kepastian penyelesaian diplomatik.
"Kita memiliki kepentingan ekonomi yang harus dilindungi, karena minyak, gas, dan perdagangan internasional sangat terpengaruh oleh perang ini," ujar Macron dalam pidatonya di hadapan publik Prancis.Â
Ia menambahkan bahwa pengerahan armada laut merupakan langkah pencegahan sekaligus sinyal politik bahwa Paris siap menjaga kepentingan nasional dan sekutunya di kawasan yang semakin tidak stabil.
Selain kapal induk, Prancis juga telah mengirimkan fregat ke Siprus serta melakukan pencegatan drone di wilayah udara negara-negara Teluk yang menjadi mitra pertahanan. Jet tempur Dassault Rafale dikerahkan dalam operasi tersebut, sejalan dengan komitmen pertahanan Prancis terhadap Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab berdasarkan perjanjian kerja sama militer yang telah lama terjalin.
Di sisi lain, pemerintah Prancis juga memfokuskan perhatian pada keselamatan warganya yang berada di wilayah terdampak konflik dengan menyiapkan penerbangan evakuasi menuju Paris. Macron menyebut dua pesawat dijadwalkan tiba pada malam hari dan menegaskan bahwa langkah-langkah pengamanan tambahan telah diperkuat di sejumlah lokasi strategis di dalam negeri guna mengantisipasi dampak lanjutan dari krisis tersebut.
Dalam pernyataannya, Macron turut menyinggung peran Iran yang dinilai memikul tanggung jawab atas meningkatnya ketegangan, namun ia juga mengkritik operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang disebut berada di luar kerangka hukum internasional. Menurutnya, Prancis tidak dapat memberikan dukungan terhadap tindakan yang menyimpang dari prinsip hukum internasional, sekaligus tetap mendorong solusi diplomatik untuk mencegah konflik regional berkembang menjadi krisis global yang lebih luas.
- konflik timur tengah
- kapal induk
- Wilayah Mediterania
- Konflik Iran
- Kapal perang Angkatan Laut Prancis Charles de Gaulle (R91)
- Emmanuel Macron
- Penutupan Selat Hormuz
- Konflik Iran-Israel
- Konflik AS-Iran
- selat hormuz
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Gencatan Senjata di Timur Tengah Terancam Setelah Iran Lancarkan Serangan Rudal ke Israel
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
-
AS Buka Jalur Bagi 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan Lintasi Selat Hormuz
-
JD Vance: Kekuatan Militer Bukan Solusi
-
Trump Mengaku Bicara dengan Hezbollah dan Netanyahu, Konflik Lebanon Memasuki Babak Baru
-
Menlu Marco Rubio Tegaskan Perang AS-Iran Telah Berakhir
-
Iran Kembali akan Tutup Selat Hormuz sebagai Protes Serangan Israel di Lebanon
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.