Foto: PBM Sarana Bandar Nasional resmikan Depo Kalimas
Direktur Utama PT PBM Sarana Bandar Nasional (Pelni Logistics) Sukendra (tengah) bersama Direktur Operasi (atau Direktur Operasional dan Komersial) untuk PT PBM Sarana Bandar Nasional (PELNI Logistics) saat ini dijabat oleh I Komang Budiswastawan (kanan) dan VP Usaha Barang Non Komersial PELNI Sauban Muksin berbincang saat peresmian Depo Kalimas Surabaya.PT PBM Sarana Bandar Nasional (Pelni Logistics) resmi mengoperasikan depo baru di Surabaya, Jawa Timur, untuk aktivitas pemuatan (stuffing) dan pembongkaran (stripping) kontainer. Depo yang terletak di Jalan Kalimas Baru, Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantian, Surabaya, itu akan difokuskan bagi kontainer untuk kapal penumpang.
PT PBM Sarana Bandar Nasional (Pelni Logistics) resmi mengoperasikan depo baru di Surabaya, Jawa Timur, untuk aktivitas pemuatan (stuffing) dan pembongkaran (stripping) kontainer. Depo yang terletak di Jalan Kalimas Baru, Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantian, Surabaya, itu akan difokuskan bagi kontainer untuk kapal penumpang. Direktur Utama Pelni Logistics Sukendra menyebut perluasan depo ini salah satunya untuk mengalihkan sebagian proses bongkar-muat dari depo yang telah ada sebelumnya di Prapat Kurung, Surabaya. Apalagi, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni akan kedatangan kapal baru sehingga berpotensi menambah kebutuhan kontainer.
Depo Kalimas Surabaya saat ini masih menempati separuh dari total lahan yang diberikan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) sekitar 5.000 meter persegi. Ketika kebutuhannya meningkat, depo tersebut dapat diperluas. Sampan & Perahu“Tentunya ini akan terjadi peningkatan terus. Apalagi nanti kalau kapal kami datang dan mungkin untuk tol laut juga akan menambah satu trayek, sehingga memang sangat dibutuhkan perluasan depo,” papar Sukendra. Menurutnya, untuk Surabaya, Pelni Logistics melayani sekitar 8.000 sampai 10.000 kontainer per tahun. Dengan penambahan tiga kapal baru, pihaknya membutuhkan tambahan lahan untuk depo sekitar 5.000-6.000 meter persegi.
Di sisi lain, dengan depo yang tidak jauh dari pelabuhan, hal itu akan menekan biaya logistik hingga 15%. “Yang jelas, biaya trucking-nya lebih murah. Kalau depo kami 10 kilometer di luar sana, ongkos trucking-nya jadi lebih mahal. Tentunya sangat menekan (biaya). Hampir bisa mendekati sampai 15% untuk biaya-biaya kalau misalnya deponya itu tidak terlalu jauh,” jelas Sukendra. Perluasan depo juga bertujuan untuk mempercepat proses bongkar muat. Sukendra menyebut Pelni Logistics menggunakan standar operasional prosedur (SOP) H-1 untuk sudah closing time. “Artinya diharapkan ketika kapal datang tanggal 15, tanggal 14 itu sudah clear semuanya. Jadi tidak terjadi menunggu muatan yang belum dimasukkan dalam kontainer dan belum digeser ke lini 1 (pelabuhan),” paparnya.
Sukendra menegaskan berbagai upaya peningkatan layanan dilakukan untuk menumbuhkan perekonomian hingga ke pelosok Nusantara. Pada 2026, PT Pelni (Persero) mengoperasikan delapan trayek Tol Laut untuk memperkuat distribusi barang ke wilayah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan (3TP). “Kita disubsidi oleh pemerintah untuk memicu ekonomi dengan adanya trayek yang dibuat reguler. Dalam shipping ada yang namanya ship follow the trade dan trade follow the ship. Kami dasarnya adalah trade follow the ship, sebagai perintis. Ketika daerah itu kita masuki rutin, otomatis akan terjadi bisnis,” ungkapnya.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.