IHSG Rawan Terseret Konflik, OJK Jangan Tunggu Pasar Panik

Rabu, 04 Mar 2026, 23:10 WIB

JAKARTA – Dalam situasi di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan akibat eskalasi konflik antara Iran, Israel dan Amerika Serikat (AS), penting bagi pelaku pasar dan otoritas untuk menerapkan mitigasi risiko yang lebih terukur.

Sentimen negatif global seperti ini cenderung menekan indeks dan meningkatkan volatilitas, karena investor mengurangi eksposur ke aset berisiko, termasuk saham di pasar berkembang seperti Indonesia.

Ket. Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Fauzan

Pelemahan IHSG terjadi seiring aksi jual yang dominan di sebagian besar saham, mencerminkan kekhawatiran bahwa konflik dapat memperburuk risiko pasokan energi global dan mengerek harga minyak, yang pada gilirannya berdampak pada sektor usaha dan perekonomian secara luas.

Mitigasi risiko harus mencakup strategis yang bersifat makro dan mikro, seperti memperkuat komunikasi kebijakan, menjaga likuiditas pasar, serta dorongan edukasi pelaku pasar untuk menerapkan diversifikasi portofolio dan pengelolaan risiko yang lebih hati-hati.

Selain itu, koordinasi antara otoritas pasar modal dan lembaga terkait diperlukan agar respons terhadap fluktuasi pasar lebih cepat, sehingga gejolak jangka pendek tidak berujung pada tekanan berlarut yang dapat memperlemah kepercayaan investor domestik dan asing.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan memperkuat mitigasi risiko terhadap potensi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terdampak konflik Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS).

"Elastisitas pasar modal Indonesia terhadap dinamika global cukup tinggi. Jika eskalasi konflik terus berlanjut, volatilitas berpotensi meningkat dan memicu aksi jual lanjutan. Ini harus menjadi alarm bagi OJK untuk memperkuat langkah mitigasi risiko," kata konsultan dan perencana keuangan Elvi Diana dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (4/3).

Pada perdagangan Rabu pagi, IHSG bergerak melemah 43,39 poin atau 0,55 persen ke posisi 7.896,38.

Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,29 poin atau 0,41 persen ke posisi 802.31.

Pelemahan itu seiring mode risk-off investor (menghindari aset berisiko) untuk mengantisipasi naiknya harga minyak mentah di tingkat global.

Menurut Elvi, dampak konflik geopolitik biasanya menjalar melalui beberapa jalur, antara lain lonjakan harga minyak dunia, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta keluarnya aliran dana asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang.

Kondisi ini berpotensi memperburuk sentimen investor dan menekan indeks saham domestik.

Maka dari itu, ia menyoroti pentingnya koordinasi erat antara OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan guna menjaga kepercayaan pasar.

"Stabilitas psikologis investor sama pentingnya dengan fundamental ekonomi. OJK perlu memastikan mekanisme pengawasan berjalan optimal serta menyiapkan kebijakan responsif untuk meredam gejolak," jelas dia.

Ia pun mengimbau investor ritel agar tidak panik dalam merespons fluktuasi jangka pendek.

Elvi berpendapat strategi diversifikasi portofolio dan disiplin investasi jangka panjang tetap menjadi kunci menghadapi periode volatilitas tinggi.

"Pasar modal memang sensitif terhadap sentimen global, tetapi keputusan investasi harus tetap berbasis analisis fundamental dan manajemen risiko yang baik," tuturnya.

Dia berharap langkah antisipatif yang cepat dan terukur dari OJK dapat menjaga stabilitas pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang makin kompleks.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.