FIFA Pertimbangkan Sanksi Tegas bagi Aksi Menutup Mulut di Lapangan
Selasa, 03 Mar 2026, 08:20 WIBLONDON, INGGRIS â Presiden FIFA, Gianni Infantino, melontarkan wacana tegas dalam upaya memerangi rasisme di sepak bola. Ia menyatakan bahwa pemain yang menutup mulut saat berbicara dengan lawan berpotensi langsung dikartu merah apabila ucapan tersebut terbukti mengandung unsur rasis.
Pernyataan itu muncul menyusul tuduhan terhadap gelandang Benfica, Gianluca Prestianni, yang diduga melontarkan ujaran rasis kepada penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, dalam laga Liga Champions bulan lalu. Dalam momen yang dipersoalkan, pemain asal Argentina tersebut terlihat menutupi mulutnya dengan jersey saat berbicara.
Isu ini turut dibahas dalam pertemuan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) pada hari Sabtu lalu.
âJika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu yang berujung pada konsekuensi rasis, maka ia harus dikeluarkan dari lapangan, tentu saja,â ujar Infantino kepada Sky News.
Ia menambahkan bahwa tindakan menutup mulut menimbulkan dugaan adanya ucapan yang tidak semestinya disampaikan. âHarus ada praduga bahwa ia mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Kalau tidak ada yang disembunyikan, mengapa harus menutup mulut? Sesederhana itu,â tegasnya.
Menurut Infantino, langkah tegas diperlukan agar komitmen melawan rasisme tidak sekadar slogan. âInilah tindakan yang bisa dan harus kita ambil untuk menunjukkan keseriusan dalam memerangi rasisme.â
Kongres FIFA berikutnya akan digelar bulan depan di Vancouver. Dalam forum tersebut, badan sepak bola dunia berpeluang membahas dan bahkan menerapkan kebijakan yang melarang pemain menutup mulut saat berbicara di ajang Piala Dunia tahun ini.
Infantino juga mengemukakan kemungkinan pendekatan berbeda dalam menjatuhkan sanksi terhadap pelaku ujaran rasis, tergantung pada sikap yang bersangkutan setelah kejadian.
âMungkin kita perlu memikirkan bukan hanya menghukum, tetapi juga mengubah budaya kita, memberi ruang bagi pemain atau siapa pun yang melakukan kesalahan untuk meminta maaf,â katanya.
Ia menilai bahwa tindakan yang terjadi dalam situasi emosional bisa saja disesali. âAnda bisa melakukan sesuatu dalam momen kemarahan dan kemudian meminta maaf. Jika demikian, sanksinya mungkin harus berbeda. Kita mungkin perlu mempertimbangkan hal seperti itu.â
Prestianni saat ini menjalani skorsing sementara untuk leg kedua babak tersebut, sambil menunggu hasil investigasi dari UEFA. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman larangan bermain hingga 10 pertandingan. Pemain itu membantah telah melakukan pelecehan rasis terhadap Vinicius.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Harga Minyak Turun Usai Trump Beri Sinyal Berunding Lagi dengan Iran
-
Ambulans Terbang Segera Terwujud? BRIN Matangkan Ekosistem Pesawat N219
-
BPBD Jatim Perkuat Pemadaman Karhutla di Kawasan Gunung Bromo
-
Taman Safari Kembali Gelar Kompetisi Fotografi dan Video Satwa IAPVC, Tahun Ini Ada Dua Kategori Baru!
-
IHSG Hari Ini Menguat, Dipicu Optimisme Arah Kebijakan "Dovish" Bank Sentral Global
-
Karhutla di Magetan dan Jombang Berhasil Dipadamkan Kurang Dari 24 Jam
-
Persib Bandung Tindak Lanjuti Sanksi FIFA terkait Kasus Mantan Pelatih Rene Albert pada 2022
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.