Generasi Muda Tunda Punya Anak Mengapa? Ternyata Ini yang Jadi Alasan Mereka
Rabu, 25 Feb 2026, 18:22 WIBJakarta, 25/2 (ANTARA) - Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNFPA menyatakan tantangan biaya hidup, ketidakpastian lapangan kerja, hingga pengasuhan anak yang belum setara menjadi alasan generasi muda lebih memilih menunda memiliki anak.Â
Asia and the Pacific Regional Director ad interim for UNFPA, Aleksandar Bodiroza, mengemukakan pentingnya pemerintah Indonesia merespons fenomena ini dengan tidak sekadar melihat angka, tetapi fokus pada pengembangan sumber daya manusianya.
"Kita sudah melakukan survei, mereka (responden) sebenarnya rata-rata ingin memiliki lebih dari dua anak, tetapi mereka berpikir kemungkinan hanya akan memiliki satu anak. Ketika ditanya alasannya, 39 persen menjawab karena faktor keuangan atau tidak cukup uang, sekitar 20â22 persen menyebutkan perumahan karena mereka belum memiliki rumah untuk membangun keluarga," katanya saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/2).Â
Aleksandar atau yang akrab disapa Sasha itu melanjutkan, sekitar 20 persen menyebutkan karena ketidakpastian pekerjaan, dan 16 persen perempuan mengatakan bahwa tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam pengasuhan anak belum setara.
"Tantangan itu di antaranya biaya hidup, kondisi keuangan, perumahan, pengasuhan anak, cuti ayah, cuti ibu, serta pembagian tanggung jawab yang setara antara pasangan dalam pengasuhan anak," ujar Sasha.
Ia juga menjelaskan, permasalahan utama yang sedang terjadi di dunia bukan terletak pada krisis fertilitas, melainkan anak muda kini tidak memiliki pilihan untuk menentukan kapan dan berapa anak yang ingin mereka miliki. Â
"Di Indonesia juga terdapat angka fertilitas yang diinginkan, ketika pasangan muda ditanya berapa anak yang ingin mereka miliki, rata-rata mereka menjawab 2,4 anak, tetapi, ketika ditanya berapa anak yang mereka perkirakan benar-benar akan mereka miliki, jawabannya lebih mendekati angka fertilitas Jakarta, yaitu sekitar 1,9. Jadi ada perbedaan," paparnya.
Sasha juga menegaskan, alih-alih fokus pada angka, seluruh pihak harus mulai fokus membangun manusia untuk mengatasi tantangan dan kesenjangan tersebut. Seluruh dunia saat ini sebuah transisi demografis, termasuk kekhawatiran fiskal yang sedang ditangani secara memadai oleh negara-negara yang lebih dulu mengalaminya.
"Kuncinya bukan pada penyebutan situasi ini sebagai krisis. Tantangannya bukan pada angka-angka demografis itu sendiri, melainkan apakah kita siap atau tidak menghadapi pergeseran demografis tersebut, itulah yang ingin kami dorong, yang paling penting adalah menjaga agensi reproduksi. Ini soal pilihan dan hak," ujar dia.
Menurutnya, ketika pasangan muda menyadari kapan, bagaimana, dan berapa banyak anak yang ingin mereka miliki, mereka akan jauh lebih siap dalam membentuk keluarga.
"Kita masih melihat adanya kesenjangan antara jumlah anak yang mereka inginkan dan jumlah yang mereka perkirakan akan mereka miliki. Kesenjangan inilah yang sedang kami tangani bersama pemerintah melalui berbagai dukungan kebijakan," ucap Sasha. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Oman Pastikan Iran Tetap Berkomitmen pada Jalur Negosiasi
-
Sebatang Kara, Lansia Perempuan Ditemukan Meninggal dalam Rumah di Semolowaru Surabaya
-
Pemprov DKI dan BPIP Revitalisasi Mapel Pancasila di Semua Jenjang Pendidikan
-
Usai Libur Lebaran, Arus Kendaraan di Jalan Basuki Rachmat Jaktim Kembali Padat
-
All England 2026 Tanpa Gelar, Eng Hian Bongkar Borok Pelatnas dan Janji Rombak Total Pembinaan
-
Lewat Kompetisi Redmi 15, Xiaomi Ajak Anak Muda Wujudkan Mimpi Umrah untuk Orang Tercinta
-
Sambut Imlek, Festival Lampion Terbesar di Dunia Dibuka di Sichuan, Tiongkok
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.