Beko, Pupuk Organik yang Perlahan Redam Demam Emas Ilegal

Selasa, 24 Feb 2026, 15:30 WIB

JAKARTA – Di sudut kampung di wilayah Bogor, aroma fermentasi yang menyengat justru menjadi tanda perubahan. Bukan lagi suara mesin penyedot dan gemuruh aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang mendominasi, melainkan deretan jeriken berisi pupuk organik cair (POC) “Beko” racikan Wahyudin.

Pemuda itu memanfaatkan bahan yang kerap dianggap tak bernilai: keong mas hama sawah dan urine domba. Lewat proses fermentasi sederhana namun telaten, keduanya disulap menjadi pupuk organik cair bernutrisi tinggi. Awalnya, tak banyak yang percaya. Namun ketika hasil panen warga mulai menunjukkan perbedaan—tanaman lebih hijau, tanah lebih gembur, biaya pupuk kimia berkurang—perlahan kepercayaan tumbuh.

Ket. Foto: Wahyudin, pemuda asal Desa Kalongliud, Nanggung, Kabupaten Bogor, menciptakan inovasi pembuatan pupuk organik cair (POC) Beko hasil fermentasi keong mas dan urine domba. — Sumber: ANTARA/HO-ANTAM

Bagi Wahyudin, inovasi ini bukan sekadar soal pertanian. Ia melihat bagaimana sebagian warga sebelumnya menggantungkan hidup pada PETI, aktivitas berisiko yang merusak lingkungan sekaligus tak memiliki kepastian hukum. Dengan menghadirkan alternatif ekonomi yang lebih aman dan berkelanjutan, POC Beko menjadi jalan tengah: tetap menghasilkan, tanpa harus mengorbankan alam.

Kini, jeriken-jeriken fermentasi itu seperti simbol pergeseran harapan. Dari lubang-lubang tambang menuju lahan pertanian yang kembali dihidupkan. Di tangan anak muda desa, solusi sederhana berbasis potensi lokal ternyata mampu mengubah arah cerita—bahwa kesejahteraan tak selalu harus digali dari perut bumi, tapi bisa ditumbuhkan dari tanah yang dirawat dengan sabar.

Wahyu, warga Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor itu, mengatakan inovasi pembuatan pupuk cair itu dilakukan untuk menghidupkan kembali lahan terlantar seluas 35 hektare, bersama Kelompok Taruna Muda dan pemuda desa lainnya yang ada di kampung halamannya.

"Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI," kata Wahyu dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (24/2).

Pemuda kelahiran 1988 dengan gelar Sarjana Akuntansi itu mengaku tidak begitu tertarik menuju gedung-gedung perkantoran di kota besar untuk mencari pekerjaan.

Ia justru memilih kembali ke kampung halamannya di Desa Kalongliud, untuk memegang cangkul dan sepatu bot.

Keputusan pria yang akrab disapa Kang Wahyu itu lahir dari kegelisahan panjang. Bertahun-tahun ia menyaksikan desanya berada dalam bayang-bayang aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI).

Menurutnya, himpitan ekonomi dan rusaknya infrastruktur irigasi akibat bencana pada 2020 membuat sebagian warga nekat mencari nafkah di lubang-lubang tambang, mempertaruhkan nyawa demi penghasilan yang tak menentu.

Wahyu menuturkan kekhawatiran dirinya atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan. Hal itu kemudian menjadi penggerak dirinya untuk berkontribusi di desanya.

"Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” tutur Wahyu.

Menurutnya, solusi krisis dan penekanan PETI terletak pada penghidupan kembali tanah pertanian terlantar, karena penertiban semata tidak cukup tanpa menghadirkan alternatif ekonomi yang aman dan layak.

"Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegas Wahyu.

Gayung bersambut pada 2022, lanjut Wahyu, kegelisahannya sejalan dengan visi PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor yang menghadirkan program inovasi sosial Garitan Kalongliud.

Wahyu menuturkan dirinya tidak ingin sekadar hanya menjadi penerima manfaat. Ia memilih berdiri di garis depan, memimpin kelompok taruna muda dan mengajak pemuda desa menghidupkan kembali 35 hektare lahan terlantar.

"Tantangan di lapangan tak sederhana. Harga pupuk kimia melonjak, hama keong mas menyerang padi, dan pasokan air terbatas," ucap dia.

Namun, bagi Wahyu, masalah adalah ruang lahirnya inovasi. Berbekal pelatihan dari ANTAM, ia menginisiasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Beko, hasil fermentasi keong mas dan urine domba.

Langkah tersebut, ditambah pemanfaatan 25 ton limbah kotoran domba sebagai pupuk organik, berhasil memangkas biaya pupuk hingga 50 persen.

Untuk menjawab krisis air, Wahyu mengaku dirinya bersama warga merakit sistem irigasi tetes sederhana yang mampu menghemat penggunaan air hingga 60 persen.

Perubahan tak berhenti pada budi daya, ia juga mendobrak ketergantungan petani pada tengkulak.

"Kelompok Taruna Muda diposisikan sebagai fasilitator pasar, memangkas rantai distribusi dan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati," bebernya.

Dampaknya signifikan, lanjut Wahyu mengatakan, pendapatan kelompok tani meningkat 65 persen. Sepanjang 2024-2025, unit usaha cabai yang dikelola bersama kelompoknya membukukan keuntungan bersih Rp246.258.000.

Namun, bagi Wahyu, angka hanyalah sebagian cerita. Program itu menjadi jaring pengaman sosial bagi anggota kelompok sebagai penerima manfaat langsung, maupun bagi masyarakat lainnya.

"Yang paling membanggakan, 8 mantan pelaku PETI kini telah beralih menjadi petani produktif," jelasnya.

Secara makro, inisiatif kolaborasi bersama ANTAM mencatatkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,34 serta berkontribusi menurunkan tingkat kemiskinan desa sebesar 6,52 persen.

Atas dedikasinya, Wahyu dianugerahi Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2025 sebagai Local Hero Inspiratif. Kini, semangat itu terus menyala melalui Rumah Belajar Garitan yang telah dikunjungi lebih dari 696 orang.

Bagi Wahyu, gelar sarjana dan penghargaan nasional bukanlah puncak pencapaian. Kemenangan terbesarnya adalah melihat tetangganya pulang ke rumah dengan selamat, membawa hasil keringat yang halal.

"Kalau kita merawat tanah dengan hati, tanah akan merawat kehidupan kita. Dan kalau kita bergerak bersama, desa ini akan selalu punya harapan," imbuh Wahyu.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.