Sinyal Positif Ekonomi Bali: BBM dan UMK Jadi Booster Bisnis
Jumat, 20 Feb 2026, 15:57 WIBDENPASAR â Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menilai penurunan harga BBM nonsubsidi yang dibarengi kenaikan upah minimum kabupaten (UMK) menjadi kombinasi positif bagi iklim usaha di Pulau Dewata.
Turunnya biaya energi membantu menekan ongkos operasional pelaku usaha, sementara kenaikan UMK berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong konsumsi domestik.
Dua faktor ini menciptakan efek ganda terhadap optimisme bisnis: dari sisi biaya produksi yang lebih efisien dan dari sisi permintaan yang lebih kuat.
Jika tren ini konsisten, maka aktivitas perdagangan, pariwisata, dan sektor jasa di Bali berpeluang tumbuh lebih solid dalam jangka menengah.
âIndeks penjualan riil sebesar 124,2 yang tumbuh secara tahunan sebesar 6,5 persen dan masih berada di level optimis,â kata Kepala Perwakilan BI Bali Erwin Soeriadimadja di Denpasar, Jumat (20/2).
Sedangkan secara bulanan, kinerja penjualan eceran per Januari 2026 berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali juga tumbuh 0,9 persen diiringi optimisme pelaku usaha seiring penurunan harga BBM jenis Pertamax per 1 Januari 2026 dari Rp12.750 per liter menjadi Rp12.350 per liter.
Menurut survei bank sentral, pelaku usaha meyakini adanya dorongan berbelanja sejalan dengan kenaikan UMK sebesar tujuh persen di seluruh wilayah Bali.
Survei bulanan dilakukan BI terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.
Lebih lanjut Erwin menjelaskan, penjualan obat-obatan dan vitamin mengalami kenaikan permintaan yang disebabkan oleh peralihan cuaca, sehingga harga obat-obatan dan vitamin turut meningkat.
Pelaku usaha peralatan sekolah juga menunjukkan optimisme penjualan, karena adanya momentum peralihan tahun ajaran baru.
Bank sentral itu menambahkan terdapat enam sub sektor pembentuk Indeks Penjualan Riil (IPR) dengan pertumbuhan bulanan tertinggi pada kategori Barang Lainnya yaitu farmasi, kosmetik, elpiji untuk rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga dengan peningkatan sebesar 3,2 persen.
Kemudian Bahan Bakar Kendaraan Bermotor naik sebesar 3,2 persen, Sandang dengan peningkatan sebesar 2,6 persen, Peralatan Informasi dan Komunikasi naik sebesar 2,3 persen.
Selain itu, Barang Budaya dan Rekreasi mencakup alat tulis dan alat olahraga melonjak sebesar 2,3 persen serta Makanan, Minuman dan Tembakau yang terkerek sebesar 1,4 persen.
Adapun kinerja IPR di Bali yang bertumbuh, menurut dia, menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat di Bali masih dalam tren positif.
Sementara itu, untuk indeks ekspektasi penjualan (IEP) dalam tiga bulan atau pada Maret 2026 diperkirakan sebesar 126, lebih rendah dari IEP Februari 2026 sebesar 164.
Sedangkan penjualan dalam enam bulan ke depan atau pada Juni 2026 diperkirakan masih pada level optimistis sebesar 184, lebih tinggi dari IEP Mei 2026 sebesar 176.
Untuk mendukung stabilitas ekonomi domestik, BI masih mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,75 persen per Februari 2026.
Di sisi lain, ia mengatakan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali juga mengakselerasi pasar murah menjelang libur Imlek, Ramadhan dan Nyepi untuk komoditas strategis.
- Upah Minimum Regional (UMR)
- Penurunan Harga BBM
- ekonomi bali
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Status Siaga! Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi sebanyak Tiga Kali
-
Sinopsis Film 'Anaconda' Versi Terbaru, Teror Ular Raksasa Berbalut Komedi di Hutan Amazon
-
KKP Prioritaskan Izin Usaha Penangkapan Ikan di Daerah Terdampak Bencana
-
Buat Perbandingan Side-by-Side dengan Pembuat Video AI Gratis
-
Tiga Karyawan Transjakarta Korban Dugaan Pelecehan Masih Alami Trauma
-
Malut United vs Persija: Krisis Lini Belakang Saat Duel Sengit Lawan Macan Kemayoran
-
MU vs Bournemouth Berakhir Imbang 4-4, Setan Merah Gagal Naik ke Posisi Kelima
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.