Rencana Aksi 2025-2030: RI Jadi Garda Terdepan Lindungi Karbon Biru

Jumat, 20 Feb 2026, 14:20 WIB

JAKARTA – Pengelolaan karbon biru yang tersimpan di ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun, dan bakau, memegang peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim.

Optimalisasi karbon biru tidak hanya menahan emisi karbon ke atmosfer, tetapi juga meningkatkan ketahanan ekosistem pesisir terhadap abrasi, banjir, dan intrusi air laut.

Ket. Foto: Ilustrasi--Padang lamun, hamparan lamun (seagrass) yang menutupi area pesisir atau laut dangkal. — Sumber: Antara

Strategi ini menuntut pendekatan terpadu: rehabilitasi ekosistem, perlindungan habitat kritis, serta integrasi dengan kebijakan pembangunan dan ekonomi lokal.

Investasi dalam karbon biru dapat membuka peluang pendanaan karbon, memperkuat ketahanan lingkungan, dan sekaligus memberi manfaat sosial-ekonomi bagi komunitas pesisir.

Dengan demikian, karbon biru bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga instrumen penting bagi pembangunan berkelanjutan dan adaptasi iklim.

Untuk itu, pemerintah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru (RENAKSI) 2025–2030 untuk memperkuat kontribusi Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim melalui hutan bakau dan lamun.

“Dokumen RENAKSI ini menyelaraskan strategi implementasi dengan instrumen pendanaan berbasis prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI),” kata Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Nani Hendiarti dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (20/2).

Peluncuran RENAKSI pada Rabu (18/2) menegaskan posisi Indonesia sebagai negara dengan sekitar 17 persen cadangan karbon biru dunia, yang ditopang oleh 3,45 juta hektare hutan bakau dan 660 ribu hektare padang lamun.

Penyusunan RENAKSI difasilitasi National Blue Carbon Action Partnership (NBCAP) yang dikoordinasikan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, dengan Konservasi Indonesia sebagai sekretariat kemitraan multipihak tersebut.

Nani mengatakan RENAKSI menjadi acuan nasional untuk menyinergikan perlindungan karbon biru dengan strategi pendanaan yang inklusif.

Ia menyebut implementasi RENAKSI akan dipertajam melalui koordinasi lintas sektor guna menindaklanjuti 21 rencana aksi menjadi program prioritas yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Menurut Nani, komitmen tersebut juga akan dipaparkan dalam Ocean Impact Summit 2026 di Bali sebagai bagian dari penguatan tata kelola karbon biru nasional.

Dukungan terhadap RENAKSI 2025–2030 juga disampaikan Kedutaan Besar Inggris yang menilai dokumen tersebut sebagai tonggak kemitraan iklim bilateral, terutama dalam mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) dan FOLU Net Sink 2030 Indonesia.

Sementara itu, World Economic Forum (WEF) mengapresiasi langkah Indonesia dan menilai Ocean Impact Summit di Bali sebagai momentum strategis untuk mendorong investasi hijau dan pengembangan ekonomi biru.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.