- Home
-
- Luar Negeri
-
- Sengketa Hak Suara AI: Goo...
Sengketa Hak Suara AI: Google Diseret ke Pengadilan California
Kamis, 19 Feb 2026, 18:00 WIBJAKARTA - Google dan Alphabet menghadapi gugatan hukum di Pengadilan Tinggi California, Santa Clara County. David Greene, mantan pembawa acara Morning Edition di NPR dan Left, Right & Center di KCRW, menuduh suaranya digunakan tanpa izin untuk melatih sistem AI.
Gugatan ini berfokus pada NotebookLM, asisten riset berbasis AI milik Google dengan fitur Audio Overviews. Fitur ini diperkenalkan musim gugur 2024 dan mengubah dokumen teks menjadi konten audio mirip podcast.
Greene mengklaim publik mulai menyadari kemiripan suara host pria dalam fitur tersebut dengan suaranya. Untuk memverifikasi, ia menggunakan perusahaan forensik independen spesialis pengenalan suara.
Hasil analisis menunjukkan tingkat keyakinan 53-60 persen pada skala -100 hingga 100 persen bahwa suaranya digunakan dalam pengembangan NotebookLM. Temuan ini memperkuat klaim Greene setelah Google menolak mengungkap identitas pengisi suara asli.
Pihak Google menegaskan tudingan Greene tidak berdasar. Suara dalam NotebookLM berasal dari aktor profesional yang direkrut dan dibayar secara sah. Namun, kerahasiaan identitas aktor membuat Greene menempuh jalur hukum.
"Publik mulai menyadari kemiripan suara dengan saya, dan Google tidak mau transparan mengenai pengisi suara aslinya," ujar Greene. Ia menilai ini menimbulkan pelanggaran hak pribadi dan penggunaan suara tanpa izin.
Kasus ini menambah daftar perselisihan antara pengembang AI dan talenta profesional. Sebelumnya, aktris Scarlett Johansson memprotes OpenAI karena kemiripan suara chatbot dengan suaranya. OpenAI akhirnya menarik suara tersebut.
Di sisi lain, beberapa perusahaan seperti ElevenLabs menggunakan jalur lisensi resmi dengan aktor ternama seperti Michael Caine dan Matthew McConaughey. Langkah ini dianggap mencegah sengketa serupa di masa depan.
Greene menekankan pentingnya perlindungan hak suara di era AI. Ia berharap kasus ini menjadi preseden untuk regulasi penggunaan suara profesional dalam pengembangan kecerdasan buatan.
Kasus ini menjadi sorotan industri teknologi karena menyentuh isu hak suara dan etika pengembangan AI. Banyak pihak menilai hasilnya dapat memengaruhi praktik etis dan regulasi AI global.
Pengacara Greene menyatakan gugatan ini juga menuntut transparansi dari perusahaan teknologi besar dalam penggunaan materi talenta profesional. Mereka ingin memastikan AI tidak mengambil keuntungan dari suara orang tanpa kompensasi.
Sementara itu, Google menyatakan tetap berkomitmen pada etika penggunaan AI dan menegaskan NotebookLM menggunakan aktor sah. Namun, Greene menegaskan kerahasiaan ini membuat klaimnya valid.
Kasus ini diperkirakan akan memengaruhi industri AI, terutama terkait lisensi suara dan perlindungan talenta. Pengadilan California akan menjadi arena penting menentukan batas penggunaan suara manusia di teknologi AI.
- Kecerdasan Buatan
- Artificial Intelligence (AI)
- AI
- Notebook LM Plus
- Google Gemini
- Akal Imitasi
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
BEI Bidik Startup dan Industri Kreatif Ramaikan Bursa Saham
-
Jelang Puncak Haji, Kemenhaj Perketat Penataan Tenda dan Mitigasi Layanan Jamaah
-
Intip Detik-Detik OTT Pembuang Sampah di Jagakarsa: Terciduk Basah oleh Kamera Petugas
-
Dari A24 Jadi 'AI24'? Kolaborasi dengan Google DeepMind Picu Gelombang Kritik
-
Klok: Hanya Butuh Satu Poin Segel Gelar Juara, Peluang Persib Ada di Tangan Sendiri
-
East Ventures: Transformasi Digital Indonesia Harus Berujung pada Nilai Ekonomi Nyata
-
Upacara Terakhir SD Kanisius Babadan Sebelum Libur
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.