Jepang Penuhi Komitmen Investasi Tahap Pertama Energi Senilai $550 Miliar

Kamis, 19 Feb 2026, 01:00 WIB

WASHINGTON DC – Amerika Serikat (AS) pada Selasa (17/2), mengumumkan gelombang pertama investasi Jepang dari total komitmen besar senilai 550 miliar dollar AS yang dijanjikan Tokyo dalam kesepakatan perdagangan dengan Presiden Donald Trump.

Dikutip dari The Daily Star, Komitmen investasi sebesar 36 miliar dollar AS untuk tiga proyek infrastruktur tersebut muncul ketika Jepang berada di bawah tekanan untuk memenuhi janji yang dibuat pada 2025 sebagai imbalan atas penurunan tarif perdagangan AS.

Ket. Foto: PM Jepang Sanae Takaichi dan Presiden AS Donald Trump — Sumber: AFP/Carl Court/SAUL LOEB

“Jepang kini secara resmi dan finansial bergerak maju dengan rangkaian investasi pertama di bawah komitmen 550 miliar dollar AS untuk berinvestasi di Amerika Serikat,” tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.

“Skala proyek-proyek ini sangat besar dan tidak mungkin dilakukan tanpa satu kata yang sangat penting, yaitu tarif,” tambahnya.

Pengumuman tersebut disampaikan menjelang kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ke Gedung Putih bulan depan, menyusul kunjungan Trump ke Jepang pada Oktober lalu.

Takaichi mengatakan proyek-proyek itu akan memperkuat aliansi Jepang–AS melalui pembangunan bersama rantai pasok yang tangguh di sektor strategis bagi keamanan ekonomi, seperti mineral kritis, energi, serta pusat data kecerdasan buatan (AI).

“Kami percaya inisiatif ini mencerminkan tujuan Strategic Investment Initiative, yakni menciptakan manfaat bersama, meningkatkan keamanan ekonomi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Takaichi melalui platform X.

Ia menambahkan kedua negara akan terus bekerja sama untuk menyempurnakan detail proyek agar implementasinya dapat berjalan cepat dan lancar.

Tiga proyek utama tersebut meliputi pembangunan fasilitas gas alam di Ohio, fasilitas ekspor minyak lepas pantai di Teluk Meksiko, serta fasilitas manufaktur berlian sintetis.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyebut pengumuman itu sebagai “kemenangan perdagangan besar yang mengutamakan Amerika”. Menurutnya, pembangkit listrik tenaga gas alam yang dibangun akan menjadi yang terbesar dalam sejarah dengan kapasitas mencapai 9,2 gigawatt.

Takaichi mengatakan listrik dari fasilitas tersebut akan memasok kebutuhan pusat data AI dan fasilitas industri sejenis. Pada kapasitas penuh, pembangkit itu setara dengan sembilan reaktor nuklir atau konsumsi listrik sekitar 7,4 juta rumah tangga, sebagaimana dilaporkan Bloomberg News.

Proyek ekspor minyak diperkirakan menghasilkan ekspor minyak mentah AS senilai 20–30 miliar dollar AS per tahun sekaligus memperkuat posisi AS sebagai pemasok energi global.

Kurangi Impor Tiongkok

Sementara itu, fasilitas produksi serbuk berlian sintetis diharapkan mengurangi ketergantungan AS terhadap impor, terutama dari Tiongkok yang saat ini mendominasi pasokan.

“Jepang menyediakan modal, sementara infrastruktur dibangun di Amerika Serikat,” kata Lutnick. Ia menambahkan skema keuntungan dirancang agar Jepang memperoleh imbal hasil, sementara AS mendapatkan aset strategis, peningkatan kapasitas industri, dan penguatan dominasi energi.

Sebelumnya, pada Juli, Tokyo sepakat menginvestasikan hingga 550 miliar dollar AS sampai 2029 untuk membangun kembali dan memperluas industri inti Amerika, menurut Gedung Putih. Komitmen tersebut menjadi bagian dari kesepakatan pengurangan ancaman tarif impor AS dari 25 persen menjadi 15 persen terhadap produk Jepang.

Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa menyebut hanya sekitar satu hingga dua persen dari total investasi berupa modal langsung. Sisanya berasal dari obligasi, pinjaman Japan Bank for International Cooperation (JBIC), serta kredit dengan jaminan publik.

Menjelang kunjungan Takaichi ke Gedung Putih yang dijadwalkan pada 19 Maret, sejumlah laporan media menyebut ketegangan mulai meningkat. Pada Januari, Trump juga memperingatkan Korea Selatan—yang dijadwalkan berinvestasi 350 miliar dollar AS—akan menghadapi kenaikan tarif karena dianggap belum memenuhi komitmen.

Para analis menilai perusahaan Jepang masih berhati-hati akibat kurangnya kejelasan prosedur administratif dan finansial, serta kekhawatiran terhadap kekurangan tenaga kerja di AS.

  • hubungan dagang

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.