• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Laporan AwanPintar.id: Inf...

Laporan AwanPintar.id: Infrastruktur IT Indonesia Banyak Jadi 'Zombie' Pengirim Malware

Selasa, 17 Feb 2026, 19:15 WIB

JAKARTA – AwanPintar.id, platform threat intelligence ancaman siber nasional dari PT Prosperita Sistem Indonesia, merilis laporan bertajuk "Indonesia Waspada: Ancaman Digital di Indonesia Semester 2 Tahun 2025". Laporan ini menemukan bahwa serangan siber yang berasal dari dalam negeri meningkat secara signifikan, menempatkan Indonesia sebagai sumber serangan spam dan malware terbesar di sepanjang tahun 2025.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa banyak infrastruktur IT di dalam negeri, seperti server perusahaan, PC, hingga perangkat Internet of Things (IoT), sudah terkompromi dan rentan terhadap eksploitasi pihak luar.

Ket. Foto: Ilustrasi kejahatan siber.Laporan AwanPintar.id mengungkap Indonesia jadi sumber spam & malware terbesar di 2025. Serangan melonjak 75%, incar perangkat IoT dan celah keamanan admin. — Sumber: Freepix

Laporan AwanPintar.id® mendapati tren serangan siber di Indonesia berada pada level kewaspadaan tinggi dengan jumlah total 234.528.187 serangan di sepanjang semester 2 tahun 2025, yang berarti telah terjadi rata-rata 15 serangan siber per detik. Angka serangan ini meningkat drastis hingga 75,76% dibandingkan semester 1 tahun 2025.

Khusus pada bulan Desember 2025, jumlah serangan menyentuh angka 90.590.833, yang kemungkinan besar dipicu oleh tingginya aktivitas serangan Distributed Denial of Service (DDoS) serta eksploitasi terhadap lalu lintas transaksi ekonomi digital selama periode libur panjang akhir tahun.

“Laporan AwanPintar.id® menemukan adanya upaya sistematis untuk melumpuhkan kepercayaan publik terhadap ekosistem digital nasional. Pelaku serangan siber dalam negeri tidak lagi hanya bergerak secara individu, melainkan mulai menunjukkan pola kerja sama yang terorganisir untuk menargetkan layanan publik serta platform ekonomi,” ujar Founder AwanPintar.id, Yudhi Kukuh, melalaui keterangannya pada hari Senin (16/2).

“Kondisi ini mencerminkan adanya kebutuhan mendesak untuk memperkuat edukasi literasi keamanan di seluruh lapisan masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam skema manipulasi yang dibuat oleh pelaku lokal,” ucapnya.

Makin Agresifnya Upaya Melumpuhkan Infrastruktur Penting

Salah satu jenis serangan yang melonjak signifikan adalah Attempted Administrator Privilege Gain, yaitu upaya untuk mencuri hak akses admin pada sistem Windows, yang naik 57,74% dibandingkan semester 1 2025. Hal ini menunjukkan pelaku serangan siber jauh lebih agresif dalam mengeksploitasi kerentanan pada OS yang belum ditambal (patched) serta menggunakan serangan yang lebih canggih seperti DDoS untuk melumpuhkan infrastruktur yang bersifat krusial.

Pelaku serangan siber kini jauh lebih agresif dalam menargetkan hak akses kontrol utama (Administrator), dipicu oleh upaya eksploitasi kerentanan baru pada sistem operasional yang belum ditambal atau masih terbuka (unpatched).

Bertahannya botnet Mirai terindikasi memberikan sumbangsih yang sangat besar pada kenaikan serangan ini. Botnet Mirai adalah ancaman siber yang terdeteksi aktif kembali sejak semester 1 2025. Botnet yang pertama kali terdeteksi pada 2016 ini muncul kembali dalam wajah yang lebih canggih serta jauh lebih agresif. Botnet berbasis Linux ini aktif menginfeksi berbagai perangkat IoT lalu dijadikan jaringan zombie untuk melancarkan serangan DDoS dalam skala yang masif.

Penjahat siber juga terdeteksi fokus memanfaatkan pintu belakang (backdoor) untuk merebut hak akses admin tanpa terdeteksi, lalu mengeksekusi ransomware atau melakukan pencurian data secara diam-diam. Dominasi backdoor DoublePulsar yang mencapai hampir 100 persen menunjukkan bahwa infrastruktur digital di Indonesia masih sangat rentan terhadap eksploitasi dan menjadi peringatan keras bagi pengelola IT untuk segera melakukan audit keamanan pada OS yang usang dan menutup celah kerentanan. Serangan yang memanfaatkan DoublePulsar terkenal sangat tersembunyi dan sering tidak disadari oleh sistem keamanan standar.

Indonesia Pengirim Spam dan Malware Terbesar

Sementara itu, serangan spam dan malware di Indonesia di sepanjang tahun 2025 menunjukkan pola yang sangat dinamis. Setelah cukup aktif di kuartal pertama, serangan spam melonjak pada bulan Juli (mencapai 36,34%, dari sebelumnya pada kisaran 19-24% pada semester 1 2025) yang menunjukkan adanya kampanye spam masif yang menargetkan Indonesia. Spam email masih menjadi instrumen utama yang dipakai oleh penyerang karena biayanya murah namun memiliki daya hancur tinggi melalui skema phishing.

Indonesia menduduki posisi pertama sebagai negara pengirim spam terbanyak, di mana infrastruktur digital dalam negeri justru menjadi sumber utama gangguan bagi pengguna internet di tanah air sendiri. Indonesia menjadi negara pengirim spam terbesar (melonjak jadi 56,29% dari 21,45% pada semester 1 2025) yang menunjukkan banyak IP publik, server, hingga perangkat IoT di Indonesia yang telah dikompromi dan dipakai oleh penjahat siber sebagai mesin pengirim pesan massal.

Sementara intensitas serangan malware menunjukkan pola yang lebih fluktuatif. Setelah meledak pada awal tahun 2025, serangan malware sempat melandai sebelum melonjak lagi pada bulan Juni, tepat sebelum ledakan spam di bulan Juli. Hal ini mengindikasikan bahwa distribusi malware dilakukan lebih awal guna mempersiapkan infrastruktur botnet sebelum serangan massal dijalankan.

Memasuki semester kedua, aktivitas malware menurun drastis bahkan menyentuh angka 0,30% di bulan Desember 2025. Indonesia lagi-lagi menjadi pengirim serangan malware terbanyak (61,32%). Hal ini menunjukkan banyak infrastruktur dalam negeri, seperti server perusahaan hingga PC, telah terinfeksi dan dijadikan ‘zombie’ untuk menyebarkan program jahat tersebut.

Peningkatan Tajam Eksploitasi Celah Keamanan Siber

Laporan AwanPintar.id® menemukan pergeseran dalam upaya eksploitasi terhadap celah keamanan siber atau Common Vulnerabilities & Exposures (CVE). Penyerang mulai beralih dari kerentanan lama dan mencoba mengeksploitasi kerentanan pada protokol jaringan serta infrastruktur yang penting. Bahkan produk yang banyak digunakan oleh UKM dan konsumen tak luput dari incaran mereka karena dianggap memiliki pengawasan yang lemah.

Salah satunya adalah lonjakan eksploitasi pada CVE-2020-11900 (kerentanan pada tumpukan TCP/IP Treck), yang meroket dari 1,39% menjadi 22,97% (naik 21,58%), dan ancaman terhadap CVE-2018-13379 yang menargetkan infrastruktur VPN (Fortinet), yang mencapai 20,12%. Penyerang juga terdeteksi mengeksploitasi CVE yang terkait dengan React Server Components untuk pengembangan aplikasi web modern.

Selain itu, ada tren baru yang menunjukkan kecepatan para aktor dalam merespons celah keamanan yang baru saja dipublikasikan. Dari pantauan terhadap CVE yang baru dirilis pada tahun 2025, makin banyak CVE yang langsung dieksploitasi di bulan yang sama, terutama CVE yang berkaitan dengan perangkat IoT dan sistem komunikasi. Hal ini menunjukkan makin agresifnya para penyerang untuk melumpuhkan atau menyusup ke jaringan internal, serta mulai membidik infrastruktur aplikasi modern alih-alih sekadar menyerang aplikasi lama.

AwanPintar.id® merekomendasikan perusahaan untuk segera melakukan update pada firmware perangkat jaringan dan melakukan audit terhadap akses VPN untuk memitigasi risiko pencurian kredensial yang sedang marak. Organisasi juga sangat disarankan untuk memprioritaskan patching pada layanan yang terbuka ke publik.

“Ketahanan siber nasional saat ini berada pada titik yang krusial di mana pertahanan pasif saja tidak lagi mencukupi. Industri dan perusahaan perlu mengadopsi budaya keamanan digital yang lebih proaktif dengan menerapkan manajemen kerentanan yang sangat ketat,” ucap Yudhi Kukuh.

  • Infrastruktur IT
  • serangan siber
  • keamanan siber
  • Phishing
  • spam
  • Keamanan Digital
  • Threat Intelligence
  • malware
  • Serangan Siber Indonesia
  • AwanPintar.id
  • Botnet Mirai
  • Data Breach
  • Yudhi Kukuh

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.