Sinyal Positif Dunia Usaha, Apindo Yakin Ekonomi Indonesia Diproyeksi Lebih Kencang di 2026

Kamis, 12 Feb 2026, 20:21 WIB

JAKARTA – Optimisme pengusaha menjadi indikator kunci kesehatan ekonomi karena memengaruhi keputusan investasi, ekspansi usaha, dan penyerapan tenaga kerja.

Ketika pelaku usaha percaya pada prospek ekonomi nasional, mereka cenderung meningkatkan kapasitas produksi dan belanja modal, menciptakan efek berantai bagi pertumbuhan. Sebaliknya, melemahnya kepercayaan dunia usaha dapat menahan laju ekonomi.

Ket. Foto: Aktivitas bongkar muat kontainer di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA FOTO/ Aditya Pradana Putra

Karena itu, menjaga optimisme pengusaha lewat kepastian kebijakan, stabilitas makro, dan iklim usaha yang kondusif menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan nasional.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meyakini perekonomian nasional pada 2026 lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen.

Head of Sectoral Policy, Public Policy Division Apindo Ajib Hamdani menyampaikan bahwa 2025 menjadi fase transisi akibat perpindahan episentrum politik dan ekonomi yang membuat sebagian pelaku usaha bersikap wait and see, namun di tahun ini, optimisme mulai menguat.

"Kita cukup confident bahwa 2026 ini relatif akan lebih bagus daripada 2025. Kita lihat 2025 itu memang sedang ada perpindahan epicentrum dalam konteks politik maupun ekonomi. Sehingga kecenderungannya kemudian secara alamiah itu teman-teman pengusaha wait and see," kata dia di Jakarta, Kamis (12/2).

Ia menjelaskan, dalam mengambil keputusan investasi, pelaku usaha mempertimbangkan dua faktor utama, yakni kepastian kebijakan dan imbal hasil.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dari sisi imbal hasil ekonomi, karena memiliki jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa yang secara nilai ekonomi dan ruang pertumbuhan masih terbuka lebar.

“Pertanyaannya adalah bagaimana certainty-nya, bagaimana kepastian hukumnya, bagaimana transparansinya, itu yang menjadi PR besar,” katanya.

Apindo mencatat, pada 2025 sekitar 40 persen pengusaha belum melakukan ekspansi usaha. Ini dipengaruhi faktor ketidakpastian serta permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi.

Di sisi lain, likuiditas perbankan dinilai masih cukup longgar, seperti loan to deposit ratio (LDR) berada di kisaran 87 persen atau masih di bawah 90 persen, yang menunjukkan ruang pembiayaan masih tersedia.

Bahkan dengan tambahan likuiditas sekitar Rp200 triliun yang dikucurkan pemerintah, kata dia kapasitas perbankan dinilai tetap memadai.

“Pertanyaannya adalah bagaimana dengan demand-nya. Memang problem kita sementara di-demand,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Apindo menekankan pentingnya mendorong sektor riil melalui kebijakan fiskal dan insentif yang tepat sasaran guna memperkuat penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Dengan berbagai faktor tersebut, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen. Angka ini lebih konservatif dibandingkan target pemerintah yang mencapai 6 persen.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang tercatat 5,11 persen secara tahunan (yoy) masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB).

Dari sisi pengeluaran, kontribusi kedua komponen itu secara akumulatif mencapai 82,65 persen.

Sebagaimana diketahui, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp13.580,5 triliun, sementara PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat Rp23.821,1 triliun.

BPS merinci, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,62 persen.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.