Praktik Pembangunan Modern Perlu Berkaca dari Kebun Raya Bogor: Jaga Kearifan Lokal dan Jamin Keberlanjutan
Selasa, 10 Feb 2026, 10:42 WIBJAKARTA-Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong agar pertumbuhan ekonomi nasional tidak merusak lingkungan. Upaya mengejar devisa tidak boleh mengorbankan alam. Praktik pembangunan modern yang kerap merusak lingkungan harus segera diakhiri.Â
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur mendorong agar praktik pembangunan perlu berkaca dari ruang hijau Kebun Raya Bogor. Itu menjamin keberlanjutan. Makanya HIMKI dalam kegiatanya kerap menggunakan bambu, bahan baku ramah lingkungan dan lebih sustain.
Namun, kata Sobur apa suasana di Kebun Raya Bogor kontras dengan praktik pembangunan modern. Hutan digerus, sungai dipersempit, dan tanah dieksploitasi atas nama efisiensi dan investasi. Alam merespons dengan bahasa yang tegas: banjir, longsor, kekeringan, hingga ancaman krisis pangan. âBencana bukan takdir, melainkan konsekuensi dari pilihan,â kata Abdul Sobur yang juga pemerhati lingkungan dan kearifan lokal, Selasa (10/2).
Dia menuturkan, di tengah dunia yang kian gaduh oleh konflik geopolitik, tekanan ekonomi, dan kecemasan global yang merembes hingga ke ruang domestik, sebuah pesan sunyi datang dari ruang hijau Kebun Raya Bogor. Bukan slogan besar atau retorika pembangunan, melainkan pengingat sederhana tentang keseimbangan antara manusia dan alam.
Kebun Raya Bogor berdiri di atas lapisan sejarah panjang. Di kawasan inilah dahulu Pakuan Pajajaran bersemiâpusat peradaban Sunda yang memandang alam sebagai mitra hidup. Hutan dijaga, air dimuliakan, dan ruang hijau diperlakukan sebagai penyangga kehidupan, bukan cadangan komoditas. "Kearifan itu tidak lahir dari grafik ekonomi, melainkan dari kesadaran batas dan kemampuan menahan diri,"urainya.
Di Kebun Raya Bogor, ironi itu terasa menenangkan sekaligus menyentil. Dalam skala yang relatif kecil, ruang ini menunjukkan bahwa hidup berdampingan dengan alam bukan utopia. Pohon dibiarkan menua, air mengalir tanpa dipaksa, dan manusia hadir tanpa merusak. Alam dirawatâdan sebagai balasannya, ia merawat kembali: udara sejuk, ketenangan batin, dan rasa cukup.
Menurut Abdul Sobur, di sinilah pelajaran penting kepemimpinan seharusnya dipelajari. âKepemimpinan bukan semata menambah produksi, devisa, atau target, tetapi juga keberanian untuk berkata âcukupâ dan kebijaksanaan untuk menyisakan kehidupan bagi esok,â ujarnya. Ia menegaskan, keberlanjutan bukan sekadar slogan global, melainkan praktik lokal yang diwariskan secara sunyi oleh leluhur.
Pesan tersebut relevan di tengah tantangan pembangunan saat ini. Kesadaran akan daya dukung alam dan tanggung jawab manusia menjadi fondasi keputusan publik yang lebih arif. âPeradaban besar bukan yang paling rakus, melainkan yang paling mampu menjaga keseimbangan,â pungkas Abdul Sobur.
- Kebun Raya Bogor
- HIMKI
- Bencana Ekologis
- arah pembangunan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Rupiah Melemah, Tapi Masih Lebih Tahan Dibanding Mata Uang Asia
-
Kemenperin Dorong Industri di Kalimantan Naik Kelas
-
Wisata Museum Zoologi dan Kebun Raya Bogor
-
Soroti Rencana Perluasan Kebun Sawit di Papua, Legislator: Belajar dari Bencana Sumatra!
-
Sabalenka dan Kyrgios Antusias Sambut Tantangan “Battle of the Sexes”
-
Pemkot Cirebon Pastikan Terminal Harjamukti Siap Layani Mudik Lebaran
-
Depok Sukses dalam Pembangunan sehingga Dianugerahi Penghargaan Terbaik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.