Trump Goyang Peta Minyak Dunia: India Diseret ke Venezuela, Tiongkok Ikut Dipersilakan Masuk

Minggu, 01 Feb 2026, 19:33 WIB

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan India akan mengalihkan pembelian minyaknya ke Venezuela dan tidak lagi bergantung pada Iran. Pernyataan ini sekaligus membuka pintu bagi Tiongkok untuk ikut membeli minyak Venezuela di tengah dinamika geopolitik energi global.

Trump menyampaikan klaim tersebut saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan menuju Palm Beach, Florida. Ia menegaskan bahwa kesepakatan konsep telah dicapai dengan India terkait perubahan sumber pasokan energi tersebut.

Ket. Foto: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan India akan mengalihkan pembelian minyaknya ke Venezuela dan tidak lagi bergantung pada Iran. — Sumber: Anadolu Agency

"Kita sudah membuat kesepakatan. India akan masuk, dan mereka akan membeli minyak Venezuela, bukan dari Iran. Jadi, kita sudah membuat kesepakatan itu, konsep kesepakatannya, tetapi China dipersilakan untuk masuk dan membeli minyak," kata Trump.

Pernyataan Trump muncul sehari setelah India dan Venezuela menyepakati penguatan hubungan bilateral di berbagai sektor strategis. Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan bahwa New Delhi dan Caracas sepakat memperdalam kerja sama saat berbicara dengan Delcy Rodriguez, penjabat presiden Venezuela.

Kesepakatan tersebut datang di tengah situasi politik yang memanas di Venezuela menyusul operasi militer Amerika Serikat pada 3 Januari. Dalam operasi itu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya ditangkap dan dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan terkait narkotika dan senjata.

Trump menyebut pemerintahannya akan mengambil alih pengelolaan Venezuela dan aset minyaknya selama masa transisi politik. Langkah ini menegaskan bahwa sektor energi menjadi fokus utama Washington dalam strategi pengaruhnya di Amerika Latin.

Di sisi lain, Trump juga menekan India dengan kebijakan tarif impor. Pemerintah AS telah memberlakukan tarif 50 persen terhadap sejumlah barang asal India dengan alasan pembelian minyak New Delhi yang masih berlanjut dari Russia.

Tekanan ekonomi ini dipandang sebagai alat negosiasi Washington agar India menyesuaikan arah kebijakan energinya. Langkah tersebut sekaligus menegaskan bahwa isu minyak kini menjadi instrumen diplomasi keras Amerika Serikat.

Trump juga menanggapi pernyataan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang mengkhawatirkan potensi krisis kemanusiaan di Kuba. Kekhawatiran itu muncul setelah Amerika Serikat memperketat sanksi terhadap negara-negara pemasok minyak ke negara Karibia tersebut.

"Saya pikir mereka mungkin akan datang kepada kita. Kuba akan merdeka kembali. Mereka akan datang kepada kita. Mereka akan membuat kesepakatan," ujar Trump.

Selain itu, Trump turut menyinggung perkembangan hubungan Amerika Serikat dengan Iran. Ia menyebut Teheran saat ini sedang melakukan pembicaraan serius dengan Washington terkait berbagai isu strategis.

"Tentu saja, saya tidak bisa memberi tahu Anda itu, tetapi kami memang memiliki kapal-kapal yang sangat besar dan kuat yang menuju ke arah sana. Saya harap mereka menegosiasikan sesuatu yang dapat diterima," kata Trump.

Trump menambahkan bahwa sebagian pihak menilai Iran tidak akan mencapai kesepakatan tanpa memiliki senjata nuklir. Namun, ia menegaskan bahwa pembicaraan masih berlangsung dan Amerika Serikat terus menekan agar hasil negosiasi sesuai dengan kepentingan Washington.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Trump kembali menempatkan energi, perdagangan, dan tekanan militer sebagai paket strategi terpadu. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Amerika Latin dan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengubah arah kerja sama energi Asia dan peta perdagangan global.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.