Muhammadiyah Resmi Tetapkan Ramadhan 2026 Mulai 18 Februari, Ini Alasan Pakai Kalender Global
Jumat, 30 Jan 2026, 18:05 WIBJAKARTA - Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini dilakukan menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis perhitungan astronomi global dan tidak mengandalkan pengamatan lokal.
Keputusan tersebut diumumkan setelah Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah melakukan perhitungan hisab secara menyeluruh. Metode KHGT dipilih karena dinilai mampu menghadirkan keseragaman penanggalan Hijriah secara global.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Rahmadi Wibowo menjelaskan bahwa KHGT disusun dengan prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Prinsip ini dikenal sebagai konsep one day, one date globally.
Menurut Rahmadi, dalam konsep KHGT, seluruh permukaan bumi dipandang sebagai satu kesatuan matlaâ. Dengan pendekatan tersebut, tidak ada pembagian zona penanggalan Hijriah berdasarkan wilayah regional.
"Jika bumi dibagi ke dalam zona-zona, maka tidak mungkin ada keseragaman tanggal. Bisa saja satu wilayah sudah masuk tanggal baru, sementara wilayah lain belum," ujar Rahmadi dalam Pengajian Tarjih di Yogyakarta, Jumat (30/1/2026).
Rahmadi menegaskan bahwa kalender Hijriah jangka panjang hanya dapat dibangun melalui metode hisab atau perhitungan astronomi. Menurutnya, metode rukyah memiliki keterbatasan karena hanya dapat memastikan awal bulan untuk waktu dekat.
Ia menyebut sistem rukyah tidak cukup kuat untuk membangun kalender global yang konsisten dan terprediksi. Oleh karena itu, Muhammadiyah memilih pendekatan hisab sebagai fondasi utama penanggalan.
Dalam sistem KHGT, awal bulan Hijriah ditetapkan apabila sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan di bumi yang memenuhi dua kriteria astronomis utama. Kriteria tersebut adalah elongasi bulan dan matahari minimal 8 derajat serta ketinggian hilal minimal 5 derajat saat matahari terbenam.
Jika dua syarat utama tersebut belum terpenuhi, maka digunakan parameter lanjutan. Parameter ini dirancang untuk memastikan siklus waktu global selama 24 jam tetap terpenuhi.
Parameter lanjutan pertama mensyaratkan terjadinya ijtimak atau konjungsi bulan di Selandia Baru sebelum waktu fajar setempat. Selandia Baru dipilih karena merupakan wilayah berpenghuni yang paling awal memasuki hari baru.
Parameter lanjutan kedua mengharuskan terpenuhinya kriteria elongasi dan ketinggian hilal di wilayah daratan benua Amerika. Wilayah ini diposisikan sebagai penutup siklus 24 jam global.
Berdasarkan hasil hisab Majelis Tarjih, ijtimak bulan menjelang Ramadhan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 GMT. Namun hingga sebelum pukul 24.00 GMT di hari yang sama, belum ada wilayah daratan yang memenuhi dua kriteria utama KHGT.
Karena syarat utama belum terpenuhi, Majelis Tarjih kemudian menggunakan parameter lanjutan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ijtimak di Selandia Baru terjadi sebelum fajar setempat.
Pada waktu yang sama, wilayah Bethel di Alaska tercatat telah memenuhi syarat elongasi bulan di atas 8 derajat dan ketinggian hilal lebih dari 5 derajat. Dengan terpenuhinya dua parameter lanjutan tersebut, awal bulan Ramadhan secara global ditetapkan pada hari berikutnya.
Rahmadi menegaskan bahwa dalam sistem KHGT, posisi hilal di Indonesia tidak menjadi faktor penentu. Data astronomi menunjukkan bahwa saat itu posisi hilal di Indonesia, Makkah, dan Turki masih berada di bawah ufuk.
Namun karena KHGT menggunakan prinsip kesatuan matlaâ, keterpenuhan parameter di satu wilayah dunia berlaku secara global. Dengan demikian, hasil hisab di wilayah lain dapat ditransfer sebagai penetapan untuk seluruh bumi.
"Jika masih memakai wujudul hilal lokal, Indonesia akan memulai Ramadhan pada 19 Februari. Tetapi karena kita menggunakan KHGT, maka hasil hisab di Alaska itu ditransfer secara global," ujar Rahmadi.
Ia menambahkan bahwa sistem ini dirancang untuk mengakhiri perbedaan penanggalan yang kerap terjadi antarnegara. Muhammadiyah menilai keseragaman kalender Hijriah global penting untuk memperkuat persatuan umat Islam lintas wilayah.
Dari seluruh rangkaian perhitungan tersebut, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah akhirnya menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini kemudian diumumkan secara resmi kepada warga persyarikatan dan masyarakat luas.
Rahmadi berharap umat Islam dapat menyambut bulan suci Ramadhan dengan kesiapan fisik dan spiritual. Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat ibadah dan solidaritas sosial.
Dengan penetapan ini, Muhammadiyah kembali menegaskan komitmennya terhadap penggunaan kalender Hijriah global berbasis sains astronomi. Organisasi tersebut menilai pendekatan ilmiah menjadi kunci dalam membangun sistem penanggalan yang stabil dan berkelanjutan.
- Muhammadiyah
- Ramadhan
- Puasa Ramadan
- ibadah puasa
- Hilal
- Penetapan 1 Ramadhan
- Awal Puasa
- Kalender Hijriah
- Ramadan 2026
- Ramadhan 2026
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Hari Lebaran, TNGGP Tutup Sementara Seluruh Destinasi Wisata di Gede-Pangrango
-
AMD Ryzen AI Embedded P100 Series, Solusi AI Skalabel untuk Industri 2026
-
Pemprov DKI dan Muhammadiyah Bersinergi Wujudkan Jakarta sebagai Kota Global
-
Dilematis, Bank Sentral di Asia Hadapi Tekanan Antara Pertumbuhan dan Inflasi
-
Singapura Antisipasi Lonjakan Lalu Lintas di Pos Pemeriksaan Darat Selama Libur Sekolah dan Idul Fitri
-
Liga Champions: Menuju Perempat Final, Liverpool, Bayern, Barcelona Jalani Leg Pertama yang Menentukan
-
Harga Sejumlah Kebutuhan Pokok Naik, DPRD DKI Pastikan Stok Pangan Aman
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.