• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Mengapa Remaja Cepat Terli...

Mengapa Remaja Cepat Terlibat Gas Tertawa

Jumat, 30 Jan 2026, 12:25 WIB

JAKARTA – Saat ini tengah marak gas yang bisa membuat orang tertawa dan makin diminati para remaja. Psikolog Cakra Medika Ayu S. Sadewo, S.Psi., mengatakan remaja sering mengikuti tren karena kebutuhan diterima teman sebaya dan rasa takut ketinggalan, atau fear of missing out (FOMO).

“Yang penting bagi mereka adalah diterima. Risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama. Ketika ada tren yang dianggap populer, muncul rasa kalau tidak ikut berarti ketinggalan atau tidak nyambung,” ujar Ayu.

Ket. Foto: jangan ikut-ikutan — Sumber: ist

Selain kebutuhan akan penerimaan, rasa ingin tahu mendorong remaja mencoba hal-hal baru. Tren yang ramai dibicarakan sering dianggap bagian dari proses memahami diri sendiri dan menentukan pilihan.

“Masa remaja saat seseorang ada dalam fase mencari identitas. Di usia ini, penerimaan orang lain jadi faktor yang penting bagi mereka – dianggap keren, dianggap seru, dianggap ‘sama’,” tambah psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

Fenomena ini terlihat pada tren gas tertawa atau whip pink yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Gas tertawa adalah nitrous oxide (NO2), zat yang biasanya digunakan secara medis sebagai anestesi, tetapi disalahgunakan secara rekreasional karena menimbulkan efek euforia sesaat.

Sementara Whip pink adalah salah satu merek tabung nitrous oxide yang sering muncul dalam perbincangan tersebut. Kepopuleran tren ini mencuat setelah kematian pemengaruh sekaligus kreator konten Lula Lahfah dikaitkan oleh warganet dengan penggunaan gas tersebut, meski hingga kini penyebab kematian belum dipastikan pihak berwenang.

Ayu menekankan, banyak remaja sebenarnya tidak sepenuhnya memahami dampak tren yang diikuti. Fokus mereka lebih pada validasi sosial, merasa diakui, dan diyakini mampu mengambil keputusan sendiri seperti teman-temannya.

Fenomena whip pink menjadi peringatan tentang bagaimana tren di media sosial dapat memengaruhi perilaku remaja, sekaligus menekankan pentingnya pemahaman risiko sebelum mengikuti sesuatu yang populer. 

Ikut-ikutan

Sementara itu, psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menjelaskan faktor psikologis yang membuat remaja cenderung mengikuti tren dan norma sosial di lingkungannya.

“Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan,” kata Shabrin, Kamis (29/1).

Sistem limbik adalah bagian otak yang mengatur reward system atau sistem penghargaan, sementara prefrontal cortex adalah bagian otak yang berfungsi menganalisis risiko dan mengambil keputusan. Pada remaja, sistem limbik berkembang lebih cepat dibanding prefrontal cortex, sehingga mereka lebih cenderung memilih perilaku yang memberi kesenangan, memicu adrenalin, atau rasa puas, meski risikonya belum dipikirkan matang.

Selain faktor neurologis, proses pencarian identitas juga memengaruhi perilaku remaja. Pada masa ini, kebutuhan akan penerimaan sosial meningkat. Lingkungan dengan norma tertentu mendorong remaja menyesuaikan diri agar diterima. Kesadaran diri yang tinggi membuat mereka yakin orang lain memperhatikan penampilan, kesalahan, atau perilaku mereka. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan remaja mengikuti tren agar merasa setara dengan teman-temannya.

Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada itu menambahkan, remaja biasanya mencari penerimaan dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya, sekaligus kesempatan mencoba hal baru yang memicu adrenalin.

  • gas tertawa

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.