Coco Gauff Dukung Tes Genetik demi Fairness, tetapi Khawatir Disalahgunakan untuk Menyerang Komunitas Transgender

Jumat, 07 Agu 2026, 09:29 WIB

TORONTO – Bintang tenis Amerika Serikat Coco Gauff menyatakan mendukung penerapan tes genetik wajib bagi atlet tenis pada ajang Olimpiade Los Angeles 2028 demi menjaga keadilan dalam olahraga putri. Namun, juara Grand Slam itu juga mengingatkan adanya risiko bahwa kebijakan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyerang komunitas transgender di luar konteks olahraga.

Pernyataan Gauff disampaikan setelah ia memastikan langkah ke babak ketiga National Bank Open di Toronto usai mengalahkan kompatriotnya, Kayla Day, Kamis (6/8) waktu setempat.

Ket. Foto: Coco Gauff — Sumber: WTA

Isu ini kembali menjadi perhatian setelah penyelenggara Olimpiade Los Angeles 2028 menetapkan tes DNA terhadap segmen gen SRY sebagai syarat wajib bagi seluruh peserta cabang tenis. Pemeriksaan tersebut bertujuan mendukung kebijakan kelayakan kategori putri berdasarkan regulasi yang berlaku.

Tes serupa sebenarnya telah lebih dahulu diterapkan di sejumlah cabang olahraga Olimpiade lainnya, termasuk atletik, tinju, dan beberapa disiplin olahraga musim dingin.

Gauff menilai upaya menjaga keadilan dalam kompetisi putri merupakan hal yang penting. Meski demikian, ia mengaku tidak nyaman melihat bagaimana isu tersebut berkembang menjadi perdebatan yang semakin terpolarisasi.

"Ya, saya rasa saya setuju dengan upaya melindungi keadilan dalam olahraga perempuan," ujar petenis berusia 22 tahun itu.

Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak menyukai dampak sosial yang muncul dari perdebatan tersebut.

"Yang tidak saya sukai adalah serangan-serangan yang kemudian muncul. Ada orang-orang yang sebenarnya tidak benar-benar peduli terhadap persoalan ini, tetapi menjadikannya alasan untuk menyerang komunitas transgender. Saya juga bukan penggemar hal seperti itu," kata Gauff.

Petenis peringkat atas dunia itu berharap diskusi mengenai kebijakan tersebut tetap berfokus pada aspek olahraga dan tidak berubah menjadi ajang menyerang kelompok tertentu.

Dalam beberapa pekan terakhir, isu mengenai kelayakan atlet berdasarkan jenis kelamin juga ramai dibahas di berbagai cabang olahraga, termasuk WNBA.

Salah satu pemain Indiana Fever, Sophie Cunningham, sebelumnya menyatakan bahwa ia ingin melindungi atlet perempuan muda di ruang ganti serta mendukung agar mereka tidak harus bersaing melawan atlet yang menurutnya memiliki keunggulan biologis sebagai laki-laki.

Pernyataan Cunningham memicu beragam reaksi. Dalam beberapa pertandingan tandang Indiana Fever, sejumlah suporter menyampaikan protes melalui spanduk dan yel-yel di kota-kota seperti Portland, Chicago, Minnesota, dan Seattle.

Meski demikian, Cunningham mengungkapkan bahwa diskusi yang ia lakukan dengan pelatih Minnesota Lynx, Cheryl Reeve, berlangsung secara terbuka dan saling menghormati.

"Banyak orang bersembunyi di balik layar dan menyukai perdebatan seperti ini. Dia memiliki pengalaman yang membentuk sudut pandangnya, begitu juga saya. Kami mengakhiri percakapan dengan rasa saling menghormati dan kasih. Menurut saya, itulah yang terpenting," ujar Cunningham.

Sementara itu, Cheryl Reeve menilai diskusi publik mengenai atlet transgender sering kali dibingkai secara keliru sehingga memunculkan stigma yang tidak tepat.

Menurut Reeve, narasi yang berkembang terkadang menciptakan kesan seolah-olah perempuan transgender merupakan ancaman di ruang ganti, sesuatu yang menurutnya tidak sesuai dengan fakta.

Ia menekankan bahwa pembahasan mengenai kebijakan olahraga seharusnya dilakukan secara akurat, berbasis fakta, dan tanpa membangun stereotip terhadap kelompok tertentu.

Penerapan tes genetik wajib pada cabang tenis menjadi bagian dari upaya penyelenggara Olimpiade Los Angeles 2028 untuk menyelaraskan regulasi dengan sejumlah federasi olahraga internasional yang telah lebih dulu menerapkan kebijakan serupa.

Meski mendapat dukungan dari sebagian atlet, termasuk Gauff dalam konteks menjaga keadilan kompetisi, peraturan tersebut diperkirakan akan terus memicu diskusi luas mengenai keseimbangan antara integritas olahraga, inklusi, serta hak dan martabat setiap atlet.

Di tengah perdebatan tersebut, Gauff berharap pembicaraan publik tetap berlangsung secara sehat dan tidak berubah menjadi alat untuk menyerang kelompok tertentu di luar substansi kebijakan olahraga.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.