Keran Siap Minum, Air Kotor Kini Disulap Jadi Jernih dan Aman Dikonsumsi
Kamis, 29 Jan 2026, 11:27 WIBDi teras sekolah yang masih menyisakan jejak lumpur banjir akhir November 2025, anak-anak berseragam putih merah berbaris kecil di depan keran air siap minum. Dengan gelas di tangan, mereka meneguk air bening tanpa ragu, wajahnya berbinar penuh rasa ingin tahu dan lega usai belajar di ruang kelas dengan duduk di lantai.
Di balik keran sederhana itu berdiri instalasi pengolahan air berlapis filter biru dan pipa-pipa stainless, hingga jejeran rapi tiga tempat penampungan air menjadi simbol perubahan setelah bencana.
Air kotor ataupun berbau kini disulap mengalir jernih, aman, bahkan siap diminum langsung oleh anak-anak hingga orang dewasa.
Upaya itu dilakukan dengan menggunakan teknologi instalasi reverse osmosis (RO) yang bekerja memurnikan air melalui filtrasi dan tekanan tinggi sehingga menghasilkan air bebas bakteri dan virus.
Instalasi penunjang kehidupan itu terpasang rapi di sudut SDN 1 Tualang Cut di Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, salah satu daerah yang terdampak parah diterjang banjir bandang.
Di antara siswa itu, terlihat seorang siswa menoleh sambil tersenyum ke arah temannya, seakan ingin memastikan pengalaman baru ini nyata. Bagi mereka, air bersih bukan lagi kemewahan, melainkan bagian dari rutinitas sekolah yang kembali hidup.
Mutazam, seorang bocah laki-laki kelas IV, berdiri di depan mesin Reverse Osmosis (RO). Dengan hati-hati, ia menadah air ke dalam gelas kaca bening, lalu meminumnya dengan sekali teguk.
"Rasanya enak, tidak berbau," ujar Mutazam dengan senyum lebar hingga memperlihatkan giginya, menggambarkan kepuasan sederhana yang sempat hilang setelah banjir.
Tak jauh darinya, Ahza Mukaramussalim dan Muhammad Vais juga mengantre. Ekspresi mereka tampak lega. Bagi anak-anak ini, air jernih adalah kemewahan setelah berhari-hari bergelut dengan air keruh.
Vais bercerita, kehadiran air RO dari bantuan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Universitas Pertahanan (Unhan) ini sangat meringankan beban mereka. Kini, mereka tak perlu lagi membawa botol minum berat dari rumah.
"Mudah ambilnya, tinggal keran diputar, tadah pakai gelas, kemudian bisa diminum," kata Ahmad Alpi Raisi sambil menunjukkan cara kerja keran tersebut dengan raut wajah bangga. Baginya, air itu terasa segar dan sangat bersih.
Di balik keceriaan anak-anak itu, potret pemulihan sekolah masih terus berjalan. Di sisi lain halaman, puluhan Taruna Akademi TNI berseragam loreng berjibaku dengan sekop dan gerobak sorong merah.
Mereka tampak berkonsentrasi penuh, otot-otot lengan mereka menegang saat mengeruk gundukan tanah dan lumpur padat yang masih menumpuk di area sekolah.
Keringat bercucuran di wajah para prajurit ini, namun semangat mereka seolah tak surut demi mengembalikan kenyamanan belajar bagi siswa yang mengenyam pendidikan dasar di sekolah itu.
Sangat dibutuhkan
Sejak pertengahan Januari 2026, kehadiran unit Reverse Osmosis di SDN 1 Tualang Cut menjadi penopang penting aktivitas sekolah pascabanjir besar.
Pelaksana Tugas Kepala SDN 1 Tualang Cut, Eva Yanti, menyatakan sejak air siap minum tersedia di sekolah, kebutuhan dasar siswa dan guru mulai terpenuhi. Di tengah keterbatasan pembelajaran, keran itu menjadi simbol awal pemulihan.
Air bersih dan layak minum memberi rasa aman bagi anak-anak yang kembali ke sekolah setelah trauma banjir. Bagi Eva, kehadiran RO bukan sekadar fasilitas, melainkan suntikan semangat agar proses belajar bisa kembali berjalan.
Sekolah ini mulai beroperasi kembali pada 5 Januari 2026. Ruang kelas belum sepenuhnya pulih, sebagian pembelajaran masih berlangsung di lantai sekolah yang dibersihkan seadanya dari sisa lumpur.
Di masa pemulihan, fokus utama pembelajaran diarahkan pada trauma healing. Anak-anak diajak bercerita tentang pengalaman banjir, mengekspresikan rasa takut, sekaligus mengambil pelajaran dari peristiwa yang mereka alami.
Kegiatan belajar mengajar tetap disisipkan secara perlahan. Menulis, membaca, dan aktivitas ringan dilakukan tanpa tekanan agar kondisi psikologis siswa pulih seiring waktu.
Jam belajar pun disesuaikan. Siswa masuk pukul 07.30 WIB dan pulang pukul 11.00 WIB, sementara kelas satu dipulangkan lebih awal. Kebijakan ini mengikuti arahan Dinas Pendidikan Aceh Tamiang.
Dari total 324 siswa, belum semuanya kembali ke sekolah. Sebagian masih mengungsi ke luar daerah karena rumah mereka rusak berat atau hancur akibat banjir.
Kondisi sekolah saat banjir tergolong sangat parah. Lumpur setinggi betis memenuhi halaman dan ruang kelas, merusak meja, kursi, serta peralatan elektronik di kantor sekolah.
Pembersihan dilakukan secara gotong royong melibatkan mahasiswa, TNI, Polri. Perabot yang rusak berat dimusnahkan, sementara yang masih bisa diperbaiki dikumpulkan untuk digunakan kembali.
Di tengah keterbatasan fasilitas, seragam sekolah mulai kembali dikenakan. Sekitar 80 persen siswa sudah memakai merah putih, sisanya masih menggunakan pakaian bebas karena seragam mereka terbawa banjir.
Proses belajar mengajar saat ini diperkirakan telah berjalan sekitar 75 persen. Debu, sisa lumpur, dan keterbatasan sarana masih menjadi tantangan yang dihadapi setiap hari.
Namun di antara ruang kelas darurat dan lantai sekolah yang menjadi tempat belajar, keran siap minum terus mengalir. Dari sana, harapan dan energi semangat disuntikkan, membantu anak-anak Aceh perlahan bangkit dan kembali menatap masa depan.
Terpasang 60 unit
Komandan Satuan Tugas Air Bersih di wilayah Aceh Tamiang Kolonel Infanteri Adam Mardamsyah menyatakan metode RO merupakan karya dari dosen kampus militer itu, yang didesain agar air yang terdampak di wilayah bencana dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau pun sebagai konsumsi.
Sejak awal penugasan misi kemanusiaan itu, Adam dan tim memulai langkah dengan pemetaan. Mereka menyusuri wilayah terdampak, mencari titik-titik yang benar-benar membutuhkan air bersih dan air minum, terutama daerah terisolir.
Bagi Unhan, kehadiran di lapangan bukan sekadar tugas teknis. Sebagai think tank pertahanan, Unhan membawa desain harapan, memastikan solusi air bersih tetap berfungsi bahkan setelah masa tanggap darurat berlalu.
Salah satu wujud nyatanya adalah mesin Reverse Osmosis, karya dosen Unhan. Teknologi itu memungkinkan air tercemar di wilayah bencana diolah menjadi air layak pakai, bahkan air minum, langsung dari sumber yang tersedia.
Sejak 20 Desember, Satgas Air telah memasang di berbagai titik air bersih yang tersebar di Bener Meriah hingga Aceh Tamiang, dikerjakan langsung oleh taruna Unhan yang menjalani pendidikan dan pelatihan dasar militer di medan nyata. Air itu kini mengalir di pesantren, sekolah, masjid, hingga kantor pemerintahan.
Bagi Kolonel Adam yang juga Kepala Program Studi (Kaprodi) Informatika Universitas Pertahanan (Unhan), memasang alat bukan akhir pekerjaan.
Ia menekankan pentingnya keberlanjutan, memastikan setiap titik memiliki operator yang paham cara menghidupkan, membersihkan, dan merawat mesin agar tak mangkrak.
Karena itu, setiap pemasangan selalu disertai edukasi. Warga diajari merawat filter, toren, dan sistem dasar, agar keran tetap mengalir hari ini, esok, bahkan bertahun-tahun ke depan.
Semua alat ini dihibahkan langsung kepada masyarakat melalui institusi setempat. Tidak boleh diperjualbelikan. Air harus tetap menjadi hak bersama, bukan komoditas di tengah penderitaan.
Pemilihan lokasi pun dilakukan ketat. Tim Unhan tidak menunggu pengajuan, melainkan turun langsung, menyasar lokasi yang layak.
Di balik keran siap minum itu, ada kerja panjang Diyan Parwatiningtyas, dosen Program Studi Fisika Fakultas MIPA Militer Universitas Pertahanan. Selama hampir satu dekade, ia menekuni riset Reverse Osmosis untuk mengembalikan air pada esensinya: jernih, aman, dan layak dikonsumsi.
Bagi Diyan, air bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan fondasi pemulihan pascabencana. Ia merancang teknologi yang mampu menyaring air terdampak banjir menjadi air bersih dan air minum melalui filtrasi berlapis, tekanan tinggi, serta pemanfaatan batuan mineral alami.
Teknologi Reverse Osmosis yang dikembangkan tidak bekerja secara sederhana. Air dipantau secara otomatis melalui parameter Total Dissolved Solids, pH, dan salinitas untuk memastikan tidak ada partikel berbahaya yang lolos dan membahayakan kesehatan masyarakat.
Karakter air di Aceh dan Sumatera menjadi tantangan tersendiri. Kandungan oksalat tinggi dan pH rendah membuat Diyan harus meracik ulang formulasi batuan mineral agar air baku bisa dinormalisasi sebelum masuk ke proses pemurnian lanjutan.
Batuan-batuan alam itu bukan diambil secara acak. Diyan meneliti, menguji, dan memadukan berbagai karakter batuan lokal agar mampu menaikkan pH, menurunkan kekeruhan, sekaligus mempertahankan mineral yang dibutuhkan tubuh manusia.
Dalam satu unit mesin, air dibagi menjadi dua jalur. Jalur pertama menghasilkan air bersih untuk mandi dan mencuci, sementara jalur kedua difokuskan menjadi air siap minum yang kembali disaring, dimineralisasi, dan disterilkan dengan sinar ultraviolet.
Hasilnya, satu mesin mampu memproduksi hingga sekitar 15 ribu liter air per hari. Jumlah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan banyak keluarga, sekolah, hingga fasilitas umum yang terdampak bencana.
Riset ini lahir dari proses panjang yang tidak selalu mulus. Kegagalan pernah terjadi, mulai dari air yang kembali keruh hingga tekanan yang salah perhitungan. Namun semua itu justru memperkuat sistem pengendalian mesin yang kini digunakan di lapangan.
Pengalaman mengolah air payau hingga air laut di wilayah pesisir sebelumnya menjadi bekal penting bagi Diyan dan tim. Teknologi itu kini disesuaikan untuk kondisi bencana, dengan fokus pada kecepatan, keandalan, dan kemanfaatan langsung.
Misi kemanusiaan
Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang meninggalkan jejak duka dan kelelahan panjang bagi ribuan warga.
Hingga 26 Januari 2026 pukul 18.00 WIB, bencana hidrometeorologi ini tercatat berdampak luas, menjangkau 12 kecamatan dan 209 kampung, menjadikannya salah satu musibah terberat yang pernah dialami daerah tersebut.
Di balik angka-angka itu, ada kehilangan yang tak tergantikan. Sebanyak 101 warga meninggal dunia dan 18 lainnya mengalami luka-luka. Setiap korban adalah cerita keluarga yang terputus, rumah yang kehilangan tawa, dan kampung yang berduka bersama.
Tekanan hidup juga dirasakan oleh ribuan keluarga yang terdampak. Sebanyak 1.120 kepala keluarga atau 4.221 jiwa terpaksa mengungsi ke 58 titik pengungsian, bertahan dengan keterbatasan ruang, logistik, dan kenyamanan.
Sementara itu, puluhan ribu keluarga lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing meski berada dalam kondisi tidak sepenuhnya aman.
Kerusakan fisik meluas hampir ke seluruh sendi kehidupan masyarakat. Lebih dari 75 ribu rumah terdampak dengan tingkat kerusakan bervariasi, dari ringan hingga rusak berat.
Jalan sepanjang ratusan kilometer ikut rusak, jembatan terputus, serta tanggul sepanjang 4 kilometer lebih mengalami kerusakan yang mengancam akses dan keselamatan warga.
Fasilitas publik pun tak luput dari terjangan banjir. Ratusan fasilitas layanan kesehatan, sekolah, pasar, perkantoran, hingga sarana ibadah terdampak, sebagian di antaranya rusak berat. Kondisi ini membuat pelayanan dasar masyarakat terganggu dan memperlambat pemulihan aktivitas sosial.
Sektor ekonomi warga ikut terpukul keras. Ribuan hektare sawah dan kebun terendam, lahan perikanan rusak, serta lebih dari 137 ribu ekor ternak terdampak. Ruko, kios, dan pasar yang menjadi nadi ekonomi masyarakat juga mengalami kerusakan, membuat banyak keluarga kehilangan sumber penghidupan.
Data ini bukan sekadar deretan angka, melainkan potret nyata perjuangan masyarakat Aceh Tamiang untuk bangkit. Di tengah kerusakan dan duka, semangat gotong royong, solidaritas, dan harapan terus tumbuh menjadi modal utama untuk memulihkan kembali kehidupan yang sempat terhenti oleh banjir.
Keran air bersih dan siap minum itu merupakan misi kemanusiaan sesuai perintah Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pertahanan agar hadir dalam mengatasi bencana banjir Aceh salah satunya di Kabupaten Aceh Tamiang.
Kini, Aceh Tamiang perlahan menata langkah untuk bangkit. Data kerusakan menjadi pijakan untuk pemulihan, sementara solidaritas, gotong royong, dan kehadiran layanan dasar seperti keran siap konsumsi menjadi fondasi kebangkitan.
Keran air siap minum dari RO Kemhan dan Unhan adalah langkah nyata kehadiran negara menyalakan harapan, menguatkan ketahanan warga, dan menjadi simbol awal kebangkitan dari duka dan kerusakan pascabencana banjir Aceh.
- Keran Siap Minum
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.