Dulux Rilis Tiga Warna Bernuansa Biru untuk Ciptakan Ruang yang Menenangkan
Senin, 26 Jan 2026, 18:58 WIBJAKARTA - Aktivitas serba instan, paparan digital tanpa henti, serta tuntutan untuk selalu responsif membuat banyak orang kesulitan menemukan jeda untuk bernapas dan memulihkan diri. Di tengah dinamika kehidupan modern yang semakin cepat dan penuh tekanan, kebutuhan akan ruang yang mampu menghadirkan ketenangan menjadi semakin relevan.
âDalam konteks ini, rumah dan ruang publik kembali dipandang bukan sekadar ruang fungsional, melainkan tempat pemulihan emosional dan keseimbangan hidup,â ujar Head of Marketing AkzoNobel Decorative Paints Indonesia Niluh Putu Ayu Setiawati dalam keterangannya pada hari Senin (26/1).
Menjawab kebutuhan tersebut, Dulux memperkenalkan Colours of The Year 2026 dengan tema Rhythm of Bluesâ¢, sebuah pendekatan warna yang dirancang untuk membantu masyarakat menemukan ketenangan melalui ruang di sekitarnya.
Diusung melalui kampanye #TemukanTenangmu, inisiatif tersebut lahir dari proses riset tahunan yang mengamati perubahan sosial, budaya, dan emosional manusia serta hubungannya dengan warna dan pengalaman ruang.
Berbeda dari tren warna sebelumnya yang hanya memperkenalkan satu warna tunggal, tahun ini Rhythm of Blues⢠menghadirkan tiga nuansa biru yang merepresentasikan ritme hidup yang beragam, karena kami percaya setiap orang memiliki ritmenya masing-masing.
Slow Swing⢠menawarkan biru gelap yang menenangkan untuk membantu melambat dan memulihkan energi, cocok untuk ruang istirahat dan refleksi. Mellow Flow⢠menghadirkan biru terang yang lembut untuk menciptakan rasa seimbang dan kebersamaan di ruang keluarga maupun area komunal. Sementara Free Groove⢠menjadi nuansa biru yang lebih ekspresif dan energik, memberi ruang bagi kreativitas tanpa kehilangan rasa nyaman.
Warna biru telah lama diasosiasikan dengan ketenangan, stabilitas, dan rasa aman. Berbagai kajian psikologi warna menunjukkan bahwa paparan warna biru kerap dikaitkan dengan respons emosional yang lebih tenang serta pengalaman ruang yang terasa lebih nyaman dan seimbang.
Pemahaman inilah yang menjadi dasar pemilihan spektrum biru dalam Rhythm of Bluesâ¢, menjadikan warna bukan sekadar elemen estetika, tetapi bagian dari pengalaman ruang yang mendukung kesejahteraan emosional.
Menanggapi pendekatan tersebut, Niluh, menyampaikan bahwa pemilihan warna dalam Rhythm of Blues⢠berangkat dari pemahaman bahwa setiap individu memiliki ritme hidup dan kebutuhan emosional yang berbeda.
âKami ingin mengajak setiap orang untuk melihat warna bukan hanya sebagai elemen visual, tetapi sebagai bagian dari pengalaman ruang yang dapat mendukung rasa aman, nyaman, dan seimbang dalam kehidupan sehari hari. Setiap individu memiliki cara berbeda dalam menemukan ketenangan,â ujarnya.
âLewat Rhythm of Bluesâ¢, kami ingin menunjukkan bahwa ketenangan itu personal. Ada biru untuk setiap ritme hidup dan setiap ruang. Warna bukan hanya soal tampilan, tetapi tentang bagaimana ruang bisa mendukung kekuatan emosional penggunanya,â papar Ayu.
Dari perspektif arsitektur, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto, menilai bahwa seiring meningkatnya kebutuhan akan ruang yang berorientasi pada kesejahteraan, warna kini menjadi bagian integral dalam perancangan.
âDalam praktik desain saat ini, kami tidak lagi hanya memikirkan bentuk dan fungsi, tetapi juga bagaimana ruang memengaruhi kondisi mental penggunanya. Warna biru membantu menurunkan intensitas visual dan menciptakan rasa stabil, sehingga ruang terasa lebih tenang tanpa menjadi dingin atau pasif,â jelasnya.
Pendekatan ini juga relevan dalam konteks kesehatan mental dan kesejahteraan sosial. Sylvia M. Siregar, Founder & Board of Patrons Filoksenia Foundation, menekankan bahwa ruang dan warna memiliki peran penting dalam mendukung kondisi emosional anak- anak dengan neurodiverse, terutama di tengah dunia modern yang semakin sarat rangsangan visual.
âBagi anak-anak dengan neurodiverse, ruang dan warna bukan sekadar estetika. Lingkungan visual yang tepat dapat membantu menurunkan kecemasan, meredam overstimulasi, dan menciptakan rasa aman. Dalam pengalaman kami, warna biru sering menjadi penyeimbang emosional yang membuat anak lebih tenang dan fokus,â jelas Sylvia.
Sementara itu, dari perspektif feng shui, Jenie, Feng Shui Expert, memandang rumah sebagai pusat keseimbangan energi di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan. Menurutnya, dalam feng shui, rumah ideal adalah rumah yang membantu penghuninya menurunkan ritme setelah aktivitas yang padat.
âWarna biru memiliki karakter yang lembut dan menenangkan, sehingga mudah diterapkan di berbagai ruang. Dengan pilihan nuansa biru seperti Slow, Flow, dan Free dalam Rhythm of Bluesâ¢, warna dapat disesuaikan dengan fungsi ruang dan kebutuhan energy penghuninya. Pendekatan ini membantu menciptakan rumah yang lebih seimbang, personal, dan nyaman untuk ditinggali,â ungkapnya.
Melalui peluncuran Dulux Colours of The Year 2026: Rhythm of Bluesâ¢, Dulux mengajak masyarakat Indonesia untuk memandang warna sebagai bagian dari solusi hidup yang lebih seimbang. Karena pada akhirnya, ketenangan adalah hak setiap orang di setiap ruang.
- desain interior
- Kesehatan Mental
- Dulux Colours of The Year 2026
- Rhythm of Blues
- Tren Warna 2026
- Warna Biru
- Psikologi Warna
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Satu Ruangan Kini Dipakai Banyak Fungsi, Desain Rumah Harus Berubah
-
Seorang Perempuan Akan Melakukan Sesuatu Dekat Istana Presiden, Ternyata Ini yang Mau Dilakukan
-
Soal Pajak THR Swasta, Purbaya Pastikan Kebijakan Dijalankan dengan Adil
-
Progres MRT Jakarta Fase 2A Tembus 56,88%, Target Monas Beroperasi 2027
-
BREAKING NEWS: Bayern Muenchen Depak Raphael Guerreiro Akhir Musim Ini
-
Pendaki Rinjani Musim Sekarang Mesti Waspada. Korban Pendaki WNA Diselamatkan
-
Pramono Anung Tinjau Produksi Dodol Betawi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.