Pakis, Rebung, dan Jalan Keluar Petani Lebak dari Kemiskinan

Minggu, 25 Jan 2026, 21:55 WIB

LEBAK – Di balik hiruk-pikuk Jakarta, ada cerita sederhana yang lahir dari hutan dan kebun di Kabupaten Lebak, Banten.

Sejumlah petani kini menggantungkan harapan dari daun pakis dan rebung—hasil alam yang dulu kerap dianggap sebelah mata.

Ket. Foto: Petani asal Lebak, Banten menjual daun pakis di Pasar Tanabang Jakarta sehingga menghasilkan pendapatan ekonomi relatif baik dan mampu mensejahterakan keluarga. — Sumber: ANTARA/ Mansyur

Setiap pagi, mereka memetik hasil hutan itu, mengikatnya rapi, lalu membawanya menempuh perjalanan jauh menuju ibu kota.

Di lapak-lapak kecil pasar tradisional hingga sudut permukiman Jakarta, pakis dan rebung dari Lebak perlahan menemukan pembelinya.

Permintaan yang stabil membuat penghasilan para petani ikut mengalir rutin. Dari hasil jualan itulah kebutuhan rumah tangga terpenuhi, anak-anak bisa tetap bersekolah, dan dapur tetap mengepul.

Bagi mereka, pakis dan rebung bukan sekadar sayuran. Ia menjadi jalan keluar dari keterbatasan ekonomi, sekaligus bukti bahwa potensi desa—jika dikelola dengan tekun—mampu membuka pintu menuju kehidupan yang lebih layak.

Dari alam Lebak ke meja makan warga Jakarta, harapan pun ikut tumbuh bersama setiap ikatan daun hijau yang terjual.

"Kami dari jualan daun pakis dan rebung bambu mampu menghasilkan pendapatan ekonomi rata-rata Rp1,3 juta per hari," kata Sukatma (55) seorang petani di Kecamatan Muncang Kabupaten Lebak, Minggu (25/1).

Selama ini, dirinya setiap hari menjual daun pakis dan rebung m, karena permintaan konsumen cukup tinggi.

Konsumen mereka, selain pelanggan rumah makan Padang juga dijual pengecer di pasar Kebayoran , Palmerah dan Tanabang, Jakarta.

Bahkan, dirinya sudah empat tahun terakhir ini mampu lepas dari kemiskinan, terlebih tinggal di kampung sulit untuk mendapatkan ekonomi.

Saat ini, kata dia, dirinya merasa bahagia setelah adanya commnuterline atau Kereta Rel Listrik (KRL) bisa menjual hasil pertanian ke Jakarta.

Produksi daun pakis dan rebung juga terkadang membawa jengkol dan dimasukkan ke atas menggunakan jasa angkutan KRL itu.

Pendapatan hasil penjualan daun pakis sebanyak 50 ikat dan dijual Rp20 ribu/ikat jika dikalkulasikan menghasilkan pendapatan Rp1 juta.

Begitu itu juga penjualan rebung dengan banyak 30 plastik dan dijual Rp10 ribu/ plastik, bila dikalkulasikan menghasilkan pendapatan Rp300 ribu.

"Kami hampir setiap hari menjual daun pakis dan rebung bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga," kata Sukatma.

Begitu juga petani lainnya di Kecamatan Maja Kabupaten Lebak Saman (50) mengaku dirinya sudah berlangsung 20 tahun menjual daun pakis, daun singkong, daun kangkung, daun bayam hingga daun genjer, juga terkadang buah rambutan, manggis dan dukuh jika musim panen.

Komoditas pertanian itu, selain miliknya juga terkadang menampung dari petani lain.

Namun, dirinya dijual ke tingkat pedagang pengecer di Pasar Kebayoran, Palmerah dan Ciputat menggunakan kendaraan colt mini.

"Kami bisa menghasilkan keuntungan relatif lumayan dan lepas dari kemiskinan," katanya menjelaskan.

Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki mengatakan pemerintah daerah mendorong petani agar mendongkrak hasil pertanian, sehingga dapat meningkatkan ekonomi keluarga ,sekaligus menghapuskan kemiskinan ekstrem.

Apalagi, sekarang PT Kereta Api Indonesia menyediakan gerbong khusus untuk komoditas pertanian, sehingga bisa dipasarkan ke luar daerah.

"Kami minta petani mampu produksi komoditas pertanian dan bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga," katanya menjelaskan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.