Pekerja Muda Cemas Dampak AI ke Pekerjaan

Rabu, 21 Jan 2026, 01:00 WIB

GDANSK, Polandia – Empat dari lima pekerja meyakini kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan memengaruhi tugas harian mereka di tempat kerja. Generasi Z menjadi kelompok yang paling khawatir, seiring perusahaan semakin mengandalkan chatbot AI dan otomatisasi, demikian hasil survei yang dilakukan Randstad dan dirilis pada Selasa (20/1).

Dikutip dari The Stratis Times, Randstad dalam laporan tahunan Workmonitor menyebutkan, lowongan pekerjaan yang mensyaratkan keterampilan sebagai “agen AI” melonjak hingga 1.587 persen. Data survei menunjukkan bahwa AI dan otomatisasi kian menggantikan peran-peran berkompleksitas rendah dan pekerjaan yang bersifat transaksional.

Ket. Foto: Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) — Sumber: antara

Sebagai salah satu perusahaan perekrutan terbesar di dunia, Randstad mensurvei 27.000 pekerja dan 1.225 pemberi kerja, serta menganalisis lebih dari tiga juta lowongan pekerjaan di 35 pasar untuk menyusun laporan tersebut.

Pasar tenaga kerja kini berada di bawah tekanan besar, seiring perusahaan-perusahaan di seluruh dunia meningkatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat melemahnya sentimen konsumen. Kondisi ini diperparah oleh perang dagang dan langkah kebijakan luar negeri agresif Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengguncang tatanan dunia berbasis aturan.

Perusahaan teknologi yang berfokus pada AI mulai menggantikan sejumlah pekerjaan dengan otomatisasi, meskipun sebagian besar perusahaan masih menanti hasil nyata dari gelombang investasi besar-besaran di bidang AI yang diperkirakan akan membentuk dunia bisnis selama bertahun-tahun ke depan.

“Apa yang secara umum kami lihat di kalangan karyawan adalah antusiasme terhadap AI… namun juga ada sikap skeptis, karena perusahaan menginginkan hal yang sama seperti biasanya: menekan biaya dan meningkatkan efisiensi,” kata CEO Randstad, Sander van ’t Noordende, kepada Reuters.

Laporan tersebut juga menyebutkan, Generasi Z merupakan generasi yang paling khawatir, sementara kelompok Baby Boomer menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi dan menjadi yang paling tidak cemas terhadap dampak AI serta kemampuan mereka untuk beradaptasi.

Hampir setengah dari pekerja yang diwawancarai khawatir teknologi yang masih berkembang ini justru akan lebih menguntungkan korporasi dibandingkan tenaga kerja, demikian ditunjukkan data tersebut.

Laporan itu juga mencatat adanya perbedaan pandangan antara pemberi kerja dan pekerja dalam menilai kinerja bisnis.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.