- Home
-
- Luar Negeri
-
- Oxfam Peringatkan Lonjakan...
Oxfam Peringatkan Lonjakan Kekayaan Konglomerat akan Jadi Ancaman Politik
Selasa, 20 Jan 2026, 01:05 WIBDAVOS, Swiss â Kekayaan kolektif para miliarder dunia melonjak ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah pada 2025, demikian dilaporkan lembaga amal Oxfam pada Senin (19/1). Oxfam memperingatkan adanya konsekuensi politik yang âsangat berbahayaâ seiring berkumpulnya para elite global dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF).
Dikutip dari The Straits Times, kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS Donald Trump, khususnya, disebut mendorong peningkatan kekayaan kelompok superkaya. Dalam tahun pertama masa jabatan keduanya, kekayaan mereka melonjak 16,2 persen menjadi 18,3 triliun dollar AS (sekitar 23,56 triliun dollar Singapura), menurut laporan tahunan Oxfam yang dirilis menjelang forum Davos.
âTindakan pemerintahan Trump, termasuk mendorong deregulasi dan melemahkan kesepakatan untuk menaikkan pajak perusahaan, telah menguntungkan orang-orang terkaya di seluruh dunia,â kata Oxfam.
Untuk pertama kalinya, jumlah miliarder dunia kini melampaui 3.000 orang. Oxfam menambahkan, 12 orang terkayaâdipimpin oleh CEO Tesla dan SpaceX Elon Muskâmemiliki âkekayaan yang lebih besar dibandingkan separuh penduduk termiskin dunia, atau lebih dari empat miliar orangâ.
Oxfam menilai, semakin banyak kekayaan tersebut digunakan untuk membeli kekuasaan politik. Lembaga itu menyoroti praktik para taipan yang membeli surat kabar dan media lain, seperti pengambilalihan X oleh Elon Musk atau pembelian The Washington Post oleh pendiri Amazon Jeff Bezos.
âKesenjangan yang semakin melebar antara orang kaya dan masyarakat lainnya pada saat yang sama menciptakan defisit politik yang sangat berbahaya dan tidak berkelanjutan,â ujar Direktur Eksekutif Oxfam, Amitabh Behar.
Trump dijadwalkan tiba di Davos dengan salah satu delegasi AS terbesar sepanjang sejarah konferensi tersebut. Ia diperkirakan akan mendominasi agenda pertemuan yang secara resmi mengusung tema âA Spirit of Dialogueâ atau âSemangat Dialogâ.
 Rencana Bertemu Trump
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menanggapi peluang Presiden RI Prabowo Subianto bertemu Presiden AS Donald Trump dalam rangkaian forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, dengan menyebut belum ada pembaruan agenda terkait pertemuan tersebut.
âNanti coba kami cek ya karena kita belum mendapatkan update apakah memang betul ada agenda ketemu dengan Presiden Trump,â kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin. Adapun terkait agenda Presiden Prabowo di forum WEF, Prasetyo mengatakan Kepala Negara akan menjadi salah satu pembicara dalam forum tersebut. âDijadwalkan beliau juga akan menjadi salah satu pembicara.
 Tentu di forum ekonomi dunia ini, ini adalah bagian dari kita membuka potensi- potensi kerja sama dengan seluruh negara-negara sahabat,â kata dia. Diketahui, Presiden Prabowo dijadwalkan memberikan pidato kunci (keynote speech) dalam acara World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis, 22 Januari 2026.
 Di laman resmi World Economic Forum, pidato khusus (special address) dari Presiden Prabowo dijadwalkan berlangsung pada pukul 14.00-14.30 waktu setempat (CET). Dalam acara tersebut, Presiden Prabowo dijadwalkan berbagi panggung dengan Presiden dan CEO World Economic Forum Børge Brende.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Jakarta Terus Menekan Ketimpangan Ekonomi
-
Panglima TNI Terima Pesawat A-400M dari Presiden RI, TNI Tambah Kekuatan Udara Strategis
-
Dua Kali Jatuh, Marquez Terpuruk di Latihan MotoGP Indonesia
-
Eddy Soeparno Ingatkan soal Krisis Iklim yang Melanda, Perlu Mitigasi Nyata, Bukan Sekadar Adaptasi
-
Bulog Belitung Terima Pasokan Minyakita 98 Ribu Liter
-
Jembatan gantung Lubuk Sidup Aceh Tamiang
-
Pemkot Palembang Angkat 2.181 Honorer Jadi PPPK, Pertama di Indonesia Manfaatkan Sisa Anggaran 2025
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.