UE Janji Jatuhkan Sanksi pada Teheran

Rabu, 14 Jan 2026, 02:40 WIB

BRUSSELS - Kepala Uni Eropa (UE), Ursula von der Leyen, pada Selasa (13/1) mengatakan bahwa Brussels akan segera mengusulkan sanksi baru terhadap Iran, setelah ada peningkatan dramatis jumlah korban jiwa akibat penindakan terhadap aksi protes massal.

"Meningkatnya jumlah korban jiwa di Iran sangat mengerikan. Saya dengan tegas mengutuk penggunaan kekuatan yang berlebihan dan pembatasan kebebasan yang terus berlanjut," tulis Von der Leyen secara daring.

Ket. Foto: Seorang pria mengacungkan jari tanda mendukung aksi protes di Iran di luar kantor Kedubes Iran di London, Inggris, pada Senin (12/1). Hingga Selasa (13/1) dilaporkan bahwa korban tewas pada aksi protes di Iran telah mencapai lebih dari 600 jiwa. — Sumber: AFP/HENRY NICHOLLS

"Sanksi lebih lanjut terhadap mereka yang bertanggung jawab atas penindasan akan segera diusulkan," imbuh dia.

UE telah menyatakan dukungannya kepada warga Iran yang berpartisipasi dalam aksi protes nasional yang merupakan salah satu tantangan terbesar bagi kepemimpinan ulama sejak revolusi Islam 1979 menggulingkan kekuasaan Shah Iran.

UE sebelumnya telah menjatuhkan sanksi kepada ratusan pejabat Iran atas tindakan keras terhadap gerakan protes sebelumnya dan dukungan Teheran terhadap perang Russia di Ukraina.

Dalam unggahannya di media sosial, Von der Leyen juga menegaskan kembali bahwa UE telah memasukkan Garda Revolusi ke dalam daftar hitam pembekuan aset dan larangan visa atas pelanggaran hak asasi manusia.

Kecaman juga datang dari kepala hak asasi manusia PBB yang menyatakan amat terkejut atas tindakan dan kekerasan terhadap para demonstran di seluruh Iran tengah laporan bahwa ratusan orang telah tewas.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, mendesak Teheran untuk menghentikan semua bentuk kekerasan dan penindasan terhadap para demonstran damai, dan segera memulihkan akses penuh ke internet dan layanan telepon.

“Pembunuhan terhadap demonstran damai harus dihentikan, dan pelabelan para pengunjuk rasa sebagai teroris untuk membenarkan kekerasan terhadap mereka tidak dapat diterima," kata Turk dalam sebuah pernyataan.

"Siklus kekerasan mengerikan ini tidak bisa terus berlanjut. Rakyat Iran dan tuntutan mereka akan keadilan, kesetaraan, dan kebenaran harus didengar," imbuh dia.

Turk juga mengatakan bahwa semua pembunuhan, kekerasan terhadap demonstran, dan pelanggaran hak lainnya harus diselidiki sesuai dengan norma dan standar hak asasi manusia internasional dan mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban.

Pihak berwenang Iran bersikeras bahwa mereka telah mendapatkan kembali kendali, tetapi kelompok hak asasi manusia menuduh pemerintah menggunakan tembakan langsung terhadap para demonstran dan menutupi skala penindakan tersebut dengan pemadaman internet.

LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengatakan telah mengkonfirmasi 648 orang tewas selama protes, termasuk sembilan anak di bawah umur dan ribuan lainnya terluka, serta memperingatkan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan jauh lebih tinggi yang menurut beberapa perkiraan lebih dari 6.000 jiwa.

Seruan Farah Pahlavi

Sementara itu janda dari Shah Iran yang digulingkan oleh revolusi Islam, pada Selasa mendesak pasukan keamanan untuk mendukung aksi protes yang mengguncang kepemimpinan di Iran.

Seruan Farah Diba Pahlavi, 87 tahun, itu menggemakan apa yang dicetuskan oleh putranya, Reza Pahlavi, sebelumnya dengan mengatakan bahwa ia percaya bahwa cahaya akan menang atas kegelapan meskipun ada tindakan keras oleh pihak berwenang yang dikhawatirkan para aktivis telah menyebabkan ratusan orang tewas.

"Saya tahu bahwa orang-orang yang berpikiran gelap telah memutus jalur komunikasi Anda dengan dunia luar karena takut mendengar suara Anda, tetapi ketahuilah bahwa pesan Anda terlalu lantang untuk dibungkam," kata Farah, merujuk pada pemadaman internet yang telah berlangsung lebih dari empat hari.

"Dengarkan jeritan kemarahan dan amarah para demonstran. Bergabunglah dengan saudara-saudari kalian sebelum terlambat dan jangan mengikat nasib kalian dengan nasib para pembunuh," imbuh dia. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.