Meski Sudah Swasembada Beras, Fundamental Kemandirian Pangan RI Masih Rapuh

Selasa, 13 Jan 2026, 01:15 WIB

JAKARTA - Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada 2025 di tengah El Nino patut diapresiasi sekaligus menjadi tantangan agar pencapaian tersebut bisa dipertahankan dan berkelanjutan. 

Presiden RI Prabowo Subianto, saat meresmikan operasional Sekolah Rakyat, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1) mengatakan Indonesia secara resmi telah mencapai swasembada beras per 31 Desember 2025. Keberhasilan tersebut menunjukkan ketangguhan sektor pangan nasional dalam menghadapi tekanan iklim global.

Ket. Foto: Sektor Pertanian - Indonesia Miliki Kekayaan Biodiversitas Karbohidrat yang Luar Biasa — Sumber: antara

Pemerintah kata Prabowo mampu mengatasi dampak cuaca ekstrem sekaligus menjaga stabilitas produksi pangan nasional untuk kebutuhan rakyat. Produksi beras nasional saat ini tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional per Desember 2025 mencapai 34,71 juta ton, surplus sekitar 4 juta ton dibandingkan kebutuhan nasional.

Angka itu nyaris mendekati proyeksi produksi beras di Indonesia yang diumumkan Food and Agriculture Organization (FAO) sebesar 35,6 juta ton. Sementara, United States Department of Agriculture (USDA) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peningkatan produksi beras tertinggi di Asia Tenggara, melampaui Vietnam, Thailand, Filipina, Kamboja, Laos, dan Malaysia.

Menanggapi pencapaian itu, pengamat pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur, Surabaya, Ramdan Hidayat, mengatakan Pemerintah perlu menyiapkan strategi dan kebijalan supaya pencapaian swasembada beras saat ini bisa dipertahankan.

“Pemerintah perlu memikirkan bagaimana mempertahankan dan meningkatkan produksi mengingat kebutuhan ke depan akan semakin meningkat seiring pertambahan populasi penduduk. Tantangan utamanya adalah mencegah alih fungsi lahan dengan memperkuat regulasi perlindungan lahan pertanian, terutama sawah, agar tidak gampang dialihfungsikan,” kata Ramdan.

Selain itu, Pemerintah juga harus konsisten dengan kebijakan pro petani. Jangan sampai rezim berganti, kebijakan pun ikut berubah.

Tidak Terjebak Euforia

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta mengatakan pengumuman Presiden itu memang membawa optimisme, namun dari perspektif agronomis dan kedaulatan pangan, klaim itu memerlukan evaluasi mendalam agar tidak terjebak dalam euforia angka semata.

Dalam ilmu pertanian jelasnya, swasembada seringkali dihitung secara matematis melalui selisih antara total produksi nasional dan kebutuhan konsumsi penduduk. Sebab itu, perlu berhati-hati agar angka itu bukan sekadar hasil kalkulasi di atas kertas.

“Produksi beras yang riil harus divalidasi dengan ketersediaan fisik di pasar dan lumbung-lumbung petani, bukan hanya pada data statistik,”paparnya.

Salah satu aspek teknis yang sering luput dalam perhitungan produktivitas adalah faktor guludan (pematang) dan luas efektif lahan. Saat menghitung estimasi produksi per hektar (ton/ha), seringkali luas yang dihitung adalah luas total lahan tanpa mengurangi area yang digunakan untuk galengan atau infrastruktur pengairan kecil.

“Jika faktor ini tidak dikalikan dengan koefisien koreksi yang tepat, maka angka produksi yang muncul akan cenderung "menggelembung" (overestimated), yang berisiko menciptakan ilusi keberlimpahan padahal stok di lapangan mungkin lebih tipis dari dugaan,”ungkap Muliarta.

Klaim swasembada beras ujarnya seringkali disalahpahami sebagai “Ketahanan Pangan Total”. Secara akademis, ini adalah kekeliruan logika. Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas karbohidrat yang luar biasa, mulai dari sagu di Timur, jagung di Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga umbi-umbian di Jawa dan Papua.

Memfokuskan narasi keberhasilan hanya pada beras justru mempersempit makna ketahanan pangan. Ketahanan pangan yang sejati seharusnya diukur dari kemampuan negara menyediakan beragam sumber pangan yang sesuai dengan budaya lokal.

“Jika kita swasembada beras tetapi masih mengimpor gandum, kedelai, atau gula secara masif, maka fundamental kemandirian pangan kita sebenarnya masih rapuh. Terlalu dini menyebut sektor pangan kita “tangguh” jika kita masih terjebak dalam ketergantungan pada satu komoditas tunggal (single commodity dependence),” ungkap Muliarta.

Klaim swasembada beras jelasnya cenderung melihat pangan dari sisi kuantitas (ketersediaan), namun mengabaikan sisi distribusi dan kualitas. Swasembada secara nasional tidak menjamin bahwa penduduk di pelosok memiliki akses harga yang sama dengan penduduk di pusat produksi.

“Pangan yang menumpuk di satu daerah tanpa sistem logistik yang efisien tetap akan menciptakan kerentanan pangan di daerah lain,”tegasnya.

Ketahanan pangan yang berkualitas tegasnya harus mencakup aspek keamanan pangan (food safety) dan keragaman nutrisi. Keberhasilan pangan yang sesungguhnya adalah ketika angka stunting menurun dan kualitas konsumsi protein serta mikronutrien masyarakat meningkat.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Wow Fantastis! QRIS Makin Diminati, Pengguna di Sulsel Kini Tembus 1,5 Juta

Kabut Asap Karhutla Makin Pekat, Warga Kompleks Aeropolis Banjarbaru Mulai Mengungsi

Bayern Muenchen Buktikan Kelasnya, Juara Piala Super Jerman!

Gempa Cukup Kuat M 5,4 Guncang Sulteng, Perairan Pulau Puh Jadi Titik Episentrum

Situasi Makin Genting! Kapolda Kalsel Pimpin Pemadaman Karhutla Dekat Bandara

Jakarta Perangi Tawuran! Pemprov DKI Pastikan Penanganan Dilakukan Berkelanjutan

Mengejutkan di Liga Inggris! Manchester United Dipermalukan Tim Promosi Hull City dengan Skor 0-2

KAI Palembang Tambah Kereta Eksekutif Saat Libur Maulid Nabi, Cek Jadwalnya!

Luar Biasa Indonesia Borong Medali! Tampil Gemilang di Kejuaraan Open Water Swimming Asia Tenggara

Wow Canggih Terobosan BRIN Ini! Inovasi Kayu Transparan dengan Memanfaatkan Bahan Organik

Melon Jadi Harapan Baru! Kelompok Tani di Kulon Progo Genjot Ketahanan Pangan

AS Kenakan Tarif 50 Persen untuk Barang Kanada Senilai US$20 Miliar, Ottawa Siapkan Balasan

Gubernur Pramono Tegas! Efisiensi Bukan Alasan untuk Mengorbankan Layanan Dasar Warga Jakarta

Pasukan Tambahan Berdatangan! Tiga Batalyon dari Jawa Bantu Atasi Karhutla Kalimantan

Mengkhawatirkan! 9 Kali Meletus dalam Sehari, Gunung Anak Krakatau Jadi Sorotan

Koperasi Tak Boleh Kuno Lagi! Menkop Ferry Dorong Digitalisasi hingga Ekspansi Bisnis

Dugaan Jual Beli Kursi Jalur Mandiri Unsoed Terjadi di Masa Rektor Akhmad Sodiq.

Gempa NTT, Pelni Cabang Ambon Siapkan Layanan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan.

Relawan Medis UMI Makassar Tembus Pegunungan Manggarai, Bantu Warga Terdampak Bencana.

Baznas Salurkan 1.000 Mushaf Al Quran kepada Masyarakat Kampung Baduy.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.