Grok Batasi Fitur Gambar Usai Kontroversi Konten Seksual, Hanya Bisa Diakses Pengguna Berbayar
Jumat, 09 Jan 2026, 16:15 WIBJAKARTA - Fitur pembuatan dan penyuntingan gambar pada Grok, kecerdasan buatan milik Elon Musk yang terintegrasi dengan platform X, resmi dibatasi untuk sebagian besar pengguna. Keputusan ini diambil setelah muncul gelombang kecaman terkait maraknya pembuatan gambar dan video seksual serta kekerasan berbasis AI yang beredar tanpa persetujuan korban.
Pembatasan tersebut membuat hanya pengguna berbayar yang kini dapat mengakses fitur pembuatan gambar Grok. Dalam pernyataan resminya di X, Grok menuliskan bahwa âpembuatan dan pengeditan gambar saat ini dibatasi untuk pelanggan berbayarâ. Artinya, mayoritas pengguna X tidak lagi bisa menggunakan fitur tersebut.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap Elon Musk dan perusahaannya. Dalam beberapa pekan terakhir, Grok dilaporkan disalahgunakan untuk memanipulasi foto perempuan dengan cara menghapus pakaian mereka atau menempatkan korban dalam posisi seksual. Sejumlah laporan juga menyebutkan adanya pembuatan video pornografi nonkonsensual serta gambar kekerasan ekstrem, termasuk perempuan yang digambarkan ditembak atau dibunuh.
Riset yang diungkap media internasional menunjukkan ribuan gambar seksual berbasis AI telah dibuat dan disebarluaskan tanpa izin dalam kurun dua minggu terakhir, sejak fitur pembuatan gambar Grok diperbarui pada akhir Desember. Kondisi ini memicu ancaman sanksi, denda, hingga potensi pemblokiran X di sejumlah negara, termasuk Inggris.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, secara terbuka mengecam konten tersebut dan mendesak X untuk bertindak tegas. Ia menyebut maraknya foto-foto AI yang menampilkan perempuan dan anak-anak secara seksual sebagai sesuatu yang âmemalukanâ dan âmenjijikkanâ. Starmer juga menegaskan dukungan penuh pemerintah Inggris kepada regulator komunikasi Ofcom untuk mengambil tindakan hukum.
Menurut Starmer, penyebaran konten semacam itu melanggar hukum dan tidak dapat ditoleransi. Pemerintah Inggris bahkan disebut telah membuka seluruh opsi, termasuk langkah regulasi lebih keras, jika X tidak segera menertibkan platformnya.
Dengan membatasi akses ke pengguna berbayar, X dinilai ingin meningkatkan kontrol dan akuntabilitas. Pengguna berbayar tercatat memiliki identitas dan informasi pembayaran yang tersimpan, sehingga lebih mudah ditelusuri apabila terjadi penyalahgunaan fitur.
Meski demikian, langkah ini belum sepenuhnya meredakan kritik. Sejumlah pihak menilai pembatasan saja tidak cukup tanpa sistem moderasi yang lebih ketat dan perlindungan yang jelas bagi korban konten AI nonkonsensual.
Hingga berita ini ditulis, pihak X belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut terkait kemungkinan perubahan kebijakan lanjutan atau sanksi internal terhadap penyalahgunaan Grok.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan
Berita Terkait:
-
OpenAI Rilis Fitur Health di ChatGPT, Terhubung ke Apple Health dan Rekam Medis
-
Ribuan Wisatawan Kunjungi Kepulauan Seribu saat Libur Tahun Baru Islam
-
Harimau Sumatra Terekam Kamera Jebak di Hutan Harapan
-
Trump: Kesepakatan AS-Iran akan Ditandatangani Hari Minggu, Selat Hormuz akan Dibuka
-
Polres Karawang Bongkar Jaringan Sabu Karawang-Bekasi
-
EwasteRJ dan Acer Libatkan 50 SMA Jabodetabek dalam Program Pengelolaan Sampah Elektronik
-
Pemkot Bandung Gercep Tangani Longsoran Tebing di Dago Bengkok
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.