Korsel Desak Tiongkok Bantu Kekang Senjata Nuklir Korut

Kamis, 08 Jan 2026, 02:55 WIB

SHANGHAI - Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae-myung, pada Rabu (7/1) mengatakan bahwa ia telah mendesak pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, untuk membantunya mengekang program nuklir Korea Utara (Korut) dan menyatakan bahwa pembekuan pengembangan senjata pemusnah massal adalah mungkin jika dilakukan dengan syarat yang tepat.

Kunjungan Lee ke Tiongkok pekan ini adalah kunjungan pertama pemimpin Korsel dalam kurun waktu enam tahun, dengan Seoul berupaya melakukan penataan ulang hubungan secara menyeluruh dengan mitra dagang terbesarnya serta meminta bantuan dalam menghadapi Korut yang keras kepala.

Ket. Foto: Presiden Korsel, Lee Jae-myung (kiri), berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Balairung Agung Rakyat di Beijing pada Senin (5/1). Presiden Lee berkunjung ke Tiongkok salah satu misinya yaitu mendesak Tiongkok untuk membantunya mengekang program nuklir Korut. — Sumber: AFP/YONHAP

Lee bertemu dengan Xi di Beijing pada Senin (5/1) lalu, sehari setelah Pyongyang menembakkan dua misil balistik ke Laut Jepang.

Berbicara kepada wartawan di Shanghai saat mengakhiri kunjungannya, ia mengatakan telah mendesak bantuan Beijing untuk membawa Pyongyang kembali ke meja perundingan. Dia pun mengatakan kepada Xi bahwa ia ingin Tiongkok memainkan peran mediasi dalam isu-isu yang berkaitan dengan Semenanjung Korea, termasuk program nuklir Korut.

"Semua saluran kami diblokir sepenuhnya," kata Presiden Lee. "Kami berharap Tiongkok dapat berperan sebagai mediator untuk perdamaian," imbuh dia.

Sebagai tanggapan, pemimpin Tiongkok mendesak Seoul untuk menunjukkan kesabaran terhadap Pyongyang mengingat betapa renggangnya hubungan antara kedua Korea, tambah Lee.

"Dan mereka benar. Selama periode yang cukup lama, kita melakukan aksi militer yang akan dianggap sebagai ancaman oleh Korut," ucap Lee.

Pihak Kementerian Luar Negeri Tiongkok tidak memberikan tanggapan spesifik terkait komentar Lee saat berada di Shanghai ketika ditanya pada hari Rabu.

"Menjaga perdamaian dan stabilitas di Semenanjung (Korea) adalah kepentingan bersama semua pihak. Tiongkok akan terus memainkan peran konstruktif dalam hal ini dengan caranya sendiri," kata juru bicara Mao Ning dalam konferensi pers rutin.

Pada Rabu, Lee juga memaparkan rencana di mana Pyongyang akan membekukan program nuklirnya sebagai imbalan atas kompensasi.

"Hanya dengan berhenti pada level saat ini, tidak ada produksi senjata nuklir tambahan, tidak ada transfer material nuklir ke luar negeri, dan tidak ada pengembangan lebih lanjut dari ICBM (misil balistik antarbenua), semua itu sudah akan menjadi sebuah keuntungan," ucap Lee.

"Dalam jangka panjang, kita tidak boleh menyerah pada tujuan Semenanjung Korea yang bebas nuklir," tegas dia.

Korut telah berulang kali menyatakan dirinya sebagai negara nuklir yang tidak dapat diubah dan hubungan antara kedua Korea telah merosot ke tingkat terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Pendahulu Lee, yang digulingkan tahun lalu karena upaya gagal untuk menangguhkan pemerintahan sipil, dituduh telah mencoba memprovokasi Pyongyang sebagai dalih untuk mendeklarasikan pemerintahan militer.

Krisis Geopolitik

Pada Senin lalu, Pyongyang mengatakan bahwa pasukan nuklirnya siap berperang dan bahwa mereka terus memantau krisis geopolitik baru-baru ini, yang jelas-jelas merujuk pada serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela akhir pekan lalu.

Operasi itu merupakan skenario mimpi buruk bagi kepemimpinan Korut, yang telah lama takut akan apa yang disebut "serangan pemenggalan kepala" itu dan menuduh Washington DC berupaya menggulingkannya dari kekuasaan.

Selama beberapa dekade, Pyongyang membenarkan program nuklir dan misilnya sebagai pencegahan terhadap dugaan upaya perubahan rezim oleh Washington DC, dan Korut juga telah meningkatkan uji coba misil secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Menanggapi hal itu, Lee pada Senin mengatakan bahwa ia ingin membuka fase baru dalam hubungan dengan Tiongkok, berdasarkan kepercayaan antara dirinya dan Xi.

Selama beberapa dekade, Seoul telah menempuh jalan tengah yang tipis antara Tiongkok, mitra dagang utamanya, dan AS yang menjadi penjamin pertahanan utamanya. AFP/I-1

  • xi jinping
  • china yuan
  • korean won

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.