RI Harus Waspadai Imbas Eskalasi AS - Venezuela

Selasa, 06 Jan 2026, 01:05 WIB

Jakarta – Pemerintah Indonesia diminta tetap mewaspadai potensi dampak lanjutan dari eskalasi politik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, meski sejauh ini belum terlihat pengaruh signifikan terhadap perekonomian nasional. 

Ketegangan kedua negara dinilai berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia serta memengaruhi sentimen pasar global jika berkembang lebih jauh. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan hingga kini eskalasi tersebut belum berdampak pada harga minyak impor Indonesia.

Ket. Foto: Venezuela — Sumber: antara

"Harga minyak kita monitor, kalau satu-dua hari ini pun tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/1).

Seperti dikutip dari Antara, Airlangga menyebut saat ini harga minyak dunia masih relatif rendah atau sekitar 63 dollar AS per barel. Dengan adanya eskalasi politik antara kedua negara, maka diprediksi harga minyak dunia akan melambung, mengingat posisi Venezuela sebagai salah satu sumber minyak dunia yang dapat memengaruhi pergerakan harga minyak global.

Namun demikian, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan selalu memonitor dan berkoordinasi terhadap perubahan harga, serta mempersiapkan langkah antisipasi.

KepentinganStrategis

Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menilai peristiwa serangan militer AS ke Venezuela, tidak dapat dilepaskan dari geopolitik energi global.

Venezuela, dengan cadangan minyak terbesar di dunia, selama satu dekade terakhir menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Tiongkok dalam mengamankan pasokan energi dan memperluas pengaruh finansialnya di Amerika Latin.

 “Maknanya, intervensi AS mencerminkan upaya memutus investasi dan kepentingan strategis Tiongkok, sekaligus mengonsolidasikan kembali dominasi AS dalam sistem energi global dan rezim petrodollar,” ucap dia.

Langkah itu berpotensi mengubah peta kekuatan energi dunia, yaitu geser aliran minyak Venezuela dari Tiongkok ke pasar AS serta memperkuat kembali peran korporasi energi AS.

Selain dengan Tiongkok, Venezuela juga menjalin kerja sama energi yang erat dengan Russia, termasuk joint venture minyak antara perusahaan minyak negara Venezuela (PDVSA) dengan unit Russia seperti Roszarubenzhneft, dan kerja sama itu baru saja diperpanjang sampai 2041.

Selanjutnya, menurut Khoirul Umam, dampak situasi ini bagi RI memang tidak langsung, tetapi tidak bisa diabaikan. Gejolak geopolitik energi berpotensi mempengaruhi harga minyak global, tekanan subsidi energi, stabilitas nilai tukar serta risiko capital outflow dari negara berkembang.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.