Kegiatan Bulog Gerakan Ekonomi Nasional, Beri Multiplier Effect Sebesar Rp48,54 Triliun

Selasa, 04 Agu 2026, 20:05 WIB

JAKARTA – Perum BULOG mencatat nilai multiplier effect atau efek berganda ekonomi dari kegiatan pengadaan dan pengelolaan pangan lembaga tersebut mencapai Rp48,54 triliun pada Semester I 2026. Angka itu naik signifikan dari Rp34,99 triliun sepanjang 2025. 

Lonjakan ini menunjukkan pengadaan dan pengelolaan pangan oleh BULOG mampu menggerakkan aktivitas ekonomi berlapis, dari hulu di tingkat petani hingga hilir ke konsumen.

Ket. Foto: Direktur Utama Perum BULOG, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani (kiri) mengatakan penugasan pemerintah kepada BULOG tidak berhenti pada menjaga stok. Lebih dari itu, BULOG menjadi penggerak roda ekonomi nasional — Sumber: istimewa

Direktur Utama Perum BULOG, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan penugasan pemerintah kepada BULOG tidak berhenti pada menjaga stok. Lebih dari itu, BULOG menjadi penggerak roda ekonomi nasional.

"Nilai multiplier effect dari kegiatan pengadaan dan pengelolaan pangan BULOG menggambarkan luasnya aktivitas ekonomi yang bergerak melalui penyerapan hasil petani, pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga perdagangan pangan," ujar Ahmad Rizal di Jakarta, Selasa (4/8).

Di sisi hulu, BULOG mencatat pengadaan Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 4,53 juta ton sepanjang 2025. Itu merupakan rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan. Penyerapan besar ini memberi kepastian harga dan pasar bagi petani.

Di sisi hilir, BULOG menjalankan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Bantuan Pangan untuk menjaga keterjangkauan harga dan melindungi daya beli masyarakat.

"Ketika kegiatan produksi, pengolahan, penyimpanan, logistik, dan distribusi bergerak bersama, manfaat ekonominya akan meluas ke berbagai sektor," jelas Ahmad Rizal.

Melalui SPHP, BULOG menetapkan harga maksimal beras Rp12.500/kg di Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi. Rp13.100/kg untuk wilayah Sumatera lain, NTT, dan Kalimantan. Serta Rp13.500/kg untuk Maluku dan Papua.

Sepanjang 2025, BULOG menyalurkan 795,5 juta kg beras SPHP dan 719,3 juta kg Bantuan Pangan. Sementara Semester I 2026, penyaluran mencapai 627,56 juta kg beras SPHP dan 676,28 juta kg Bantuan Pangan.

Hemat Rp26,76 Triliun 

Dampak langsungnya terasa di kantong masyarakat. Program SPHP menciptakan penghematan belanja sebesar Rp1,99 triliun pada 2025 dan Rp1,57 triliun pada Semester I 2026.

Sementara Bantuan Pangan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga penerima manfaat sebesar Rp11,96 triliun pada 2025 dan Rp11,24 triliun pada Semester I 2026.

"Secara kumulatif, manfaat ekonomi langsung dari SPHP dan Bantuan Pangan mencapai Rp26,76 triliun sepanjang 2025 hingga Semester I 2026," kata Ahmad Rizal.

Menurutnya, multiplier effect tersebut membuktikan kebijakan pangan pemerintah melalui BULOG mampu membangun siklus ekonomi yang saling menguatkan. Petani dapat pasar, pelaku usaha logistik dan pengolahan tumbuh, masyarakat dapat pangan terjangkau.

"Penugasan yang kami jalankan bukan hanya berkaitan dengan jumlah stok. Di dalamnya ada perlindungan petani, aktivitas ekonomi bagi pelaku usaha, stabilitas harga, pengendalian inflasi pangan, serta perlindungan pengeluaran rumah tangga," tegasnya.

Komitmen ke Depan

Ke depan, BULOG akan terus meningkatkan efektivitas penyerapan gabah dalam negeri, memperkuat pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah, menjaga kualitas pangan, serta memastikan penyaluran SPHP dan Bantuan Pangan tepat jumlah, mutu, harga, dan sasaran.

"Penguatan peran dari hulu hingga hilir ini membuat BULOG terus hadir sebagai instrumen strategis Pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan, mendukung kesejahteraan petani, melindungi daya beli masyarakat, serta menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan bagi Indonesia," pungkas Ahmad Rizal.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.