Korea Utara Kembali Luncurkan Sejumlah Misil Balistik

Senin, 05 Jan 2026, 02:20 WIB

SEOUL – Pihak militer Korea Selatan (Korsel) menyatakan bahwa Korea Utara (Korut) pada Minggu (4/1) telah menembakkan sejumlah misil balistik di lepas pantai timurnya. Peluncuran misil tersebut merupakan yang pertama untuk tahun ini hanya beberapa jam sebelum pemimpin Korsel menuju Tiongkok untuk mengikuti pertemuan puncak.

Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan bahwa mereka telah mendeteksi beberapa proyektil, yang diduga merupakan misil balistik yang ditembakkan dari dekat Ibu Kota Pyongyang sekitar pukul 07.50 waktu setempat.

Ket. Foto: Sejumlah warga Korsel duduk di peron sebuah stasiun kereta di Seoul menyaksikan monitor televisi yang menayangkan berita peluncuran misil balistik oleh Korut pada Minggu (4/1). Korut meluncurkan sejumlah misil balistik beberapa jam sebelum presiden Korsel berkunjung ke Tiongkok. — Sumber: AFP/Jung Yeon-je

“Misil-misil tersebut terbang sekitar 900 kilometer," kata militer Korsel, seraya menambahkan bahwa Korsel  dan Amerika Serikat (AS) telah menganalisis dengan cermat spesifikasi misil-misil tersebut sambil menyiagakan postur kesiapan penuh.

Dewan Keamanan Nasional di Seoul mengadakan pertemuan darurat setelah peluncuran, yang menurut pernyataan kantor kepresidenan merupakan tindakan provokatif yang melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kementerian Pertahanan Jepang juga mengatakan bahwa mereka telah mendeteksi kemungkinan misil balistik, dan mencatat bahwa dua misil mencapai ketinggian 50 kilometer dan masing-masing terbang pada jarak 900 dan 950 kilometer.

"Pengembangan nuklir dan misil Korut mengancam perdamaian dan stabilitas negara kita dan masyarakat internasional, dan hal ini sama sekali tidak dapat ditoleransi," kata Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, kepada wartawan.

Ini adalah peluncuran misil balistik pertama Pyongyang sejak November, ketika melakukan uji coba setelah Presiden AS, Donald Trump, menyetujui rencana Korsel untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir.

Tanggapan Analis

Seorang analis mengatakan operasi militer Trump terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1) kemungkinan memainkan peran dalam keputusan untuk melakukan peluncuran.

Pyongyang selama beberapa dekade berpendapat bahwa mereka memerlukan program nuklir dan misil sebagai pencegah terhadap dugaan upaya perubahan rezim yang dilakukan Washington DC. AS sendiri telah menawarkan jaminan berulang kepada Pyongyang bahwa mereka tidak memiliki rencana seperti itu.

"Mereka mungkin khawatir jika AS akan melancarkan serangan presisi kapan saja, sehingga mengancam kelangsungan hidup rezim," kata Hong Min, analis di Institut Unifikasi Nasional Korea. "Pesan yang mendasarinya kemungkinan besar adalah bahwa menyerang Korut tidak akan semudah serangan terhadap Venezuela," imbuh dia.

Peluncuran misil Korut juga dilakukan hanya beberapa jam sebelum Presiden Korsel, Lee Jae- myung, berangkat ke Beijing untuk melakukan pembicaraan dengan mitranya, Xi Jinping, yang pemerintahannya merupakan pendukung ekonomi utama Korut.

Lee berharap untuk mungkin memanfaatkan pengaruh Tiongkok atas Korut untuk mendukung upayanya untuk meningkatkan hubungan dengan Pyongyang.

Koruttelah meningkatkan pengujian misil secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Analis mengatakan dorongan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan serangan presisi, menantang AS serta Korsel dan menguji senjata sebelum berpotensi mengekspornya ke Russia. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.