Presiden FIFA Gianni Infantino Tuai Kecaman, Pernyataannya Dinilai Menyakiti Suporter Skotlandia

Kamis, 01 Jan 2026, 16:37 WIB

JAKARTA - Presiden FIFA Gianni Infantino menuai gelombang kritik dari komunitas penggemar sepak bola setelah melontarkan pernyataan kontroversial terkait peran FIFA dalam keberlangsungan sepak bola dunia. Ucapan tersebut memicu kemarahan, terutama di kalangan suporter Skotlandia, yang menilai FIFA semakin jauh dari realitas penggemar.

Kontroversi bermula ketika Infantino menyatakan bahwa tanpa FIFA, sepak bola tidak akan ada di 150 negara. Pernyataan itu disampaikannya sebagai pembelaan atas kebijakan harga tiket Piala Dunia 2026 yang dinilai sangat mahal dan eksploitatif oleh banyak penggemar.

Ket. Foto: — Sumber: CNN

Kebijakan harga tiket Piala Dunia 2026 memang memicu protes global. Banyak pihak menilai lonjakan harga tidak sebanding dengan aksesibilitas penggemar, terutama mereka yang selama ini menjadi tulang punggung atmosfer sepak bola. Namun alih-alih merespons kritik tersebut dengan refleksi, Infantino justru menegaskan klaim bahwa pendapatan dari Piala Dunia adalah alasan utama sepak bola bisa berkembang di banyak negara.

“Tanpa FIFA, tidak akan ada sepak bola di 150 negara di dunia. Sepak bola ada karena, dan berkat, pendapatan yang kami hasilkan dari Piala Dunia, yang kami investasikan kembali ke seluruh dunia,” ujar Infantino dalam sebuah forum di Dubai.

Pernyataan itu langsung menuai respons keras. Salah satunya datang dari Paul Goodwin, pendiri Scottish Football Supporters Association. Ia menilai klaim Infantino sebagai bentuk arogansi dan bukti bahwa FIFA telah kehilangan koneksi dengan para penggemar.

Menurut Goodwin, pernyataan tersebut merendahkan sejarah panjang sepak bola yang telah hidup dan berkembang jauh sebelum FIFA berdiri. Ia menegaskan bahwa sepak bola bukanlah ciptaan FIFA dan akan selalu menemukan jalannya sendiri tanpa klaim kepemilikan dari satu organisasi.

“Ini menghina semua negara di dunia jika mengatakan tanpa FIFA tidak akan ada sepak bola. Banyak penggemar melihat FIFA sebagai organisasi yang hanya berorientasi pada uang,” kata Goodwin.

Ia juga menyoroti dampak langsung kebijakan FIFA terhadap penggemar, termasuk suporter Skotlandia yang harus berutang demi mendukung tim nasional mereka di Piala Dunia. Meski mengakui sebagian dana FIFA digunakan untuk program positif, Goodwin mempertanyakan transparansi alokasi dana tersebut.

“Tidak diragukan ada uang yang digunakan untuk hal baik, tapi kita tidak pernah tahu seberapa besar yang benar-benar sampai ke sepak bola akar rumput,” ujarnya.

Kemarahan penggemar semakin memuncak setelah harga tiket Piala Dunia 2026 diumumkan jauh lebih mahal dibandingkan edisi sebelumnya. Untuk pertandingan fase grup yang melibatkan Skotlandia, harga tiket disebut mencapai tiga kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022. Bahkan tiket termurah untuk laga final dikabarkan menyentuh angka 3.129 pound, membuat banyak penggemar merasa tersingkir secara ekonomi.

Goodwin menilai situasi ini sebagai bukti dominasi dan monopoli FIFA yang semakin sulit dilawan. Ia menyoroti kurangnya transparansi, minimnya komunikasi, serta ketertutupan FIFA terhadap suara penggemar.

“Tidak ada rem tangan, tidak ada yang bisa memperlambat laju ini. Harga tiket Piala Dunia menjadi bukti bahwa uang adalah raja bagi FIFA,” tegasnya.

FIFA memang menawarkan tiket murah seharga 45 pound, namun jumlahnya disebut sangat terbatas, hanya sekitar 10 persen dari total alokasi. Untuk penggemar Skotlandia, jumlah tiket murah itu bahkan diperkirakan kurang dari 400 lembar.

Tekanan finansial juga diperparah dengan biaya akomodasi yang melonjak. Goodwin mengungkapkan kisah penggemar yang ditawari paket hotel enam malam di Boston dengan harga mencapai 6.000 pound, sebuah angka yang dinilainya tidak masuk akal.

Di sisi lain, muncul pula kekhawatiran terkait aturan masuk ke Amerika Serikat. Goodwin mengaku khawatir kritik terbuka terhadap FIFA bisa berdampak pada izin masuk penggemar ke negara tuan rumah Piala Dunia.

Ironisnya, di tengah kritik tersebut, Infantino justru memamerkan kekuatan finansial FIFA. Ia mengungkap bahwa dalam waktu 15 hari, FIFA menerima 150 juta permintaan tiket dari total enam hingga tujuh juta tiket yang tersedia.

Bagi Goodwin, satu hal yang tidak berubah adalah keyakinan bahwa seluruh pendapatan FIFA berasal dari penggemar. Karena itu, ia menegaskan bahwa para penggemar berhak mengetahui bagaimana uang mereka digunakan.

Kontroversi ini kian menegaskan adanya jurang yang semakin lebar antara FIFA dan komunitas penggemar sepak bola. Sebuah jarak yang, menurut banyak pendukung, terus melebar seiring komersialisasi ekstrem yang mengorbankan akses dan nilai-nilai dasar olahraga tersebut.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.