Tempe Tak Sekadar Lauk, Kemenbud Dorong Jadi Pengetahuan Global

Jumat, 19 Des 2025, 21:40 WIB

JAKARTA – Kementerian Kebudayaan mendorong pengembangan tempe agar tidak semata diposisikan sebagai pangan tradisional khas Indonesia, tetapi juga sebagai pengetahuan budaya dan ilmiah yang memiliki dampak global.

Upaya ini menempatkan tempe sebagai warisan berbasis pengetahuan, mulai dari proses fermentasi, nilai gizi, hingga praktik sosial yang menyertainya.

Ket. Foto: Ilustrasi - Seorang pekerja menunjukkan hasil produksi tempe di salah satu industri rumahan di Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Erlangga Bregas Prakoso

Secara strategis, pendekatan tersebut membuka peluang diplomasi budaya dan inovasi pangan berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam wacana pangan dunia.

“Dan kita inginnya juga budaya, tradisi tempe ini bukan hanya sebagai sajiannya tapi jadi pengetahuan lokal yang menjadi pengetahuan global,” kata Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kemenbud Endah Tjahjani Dwirini usai menghadiri Seminar Budaya Tempe 2025 di Jakarta, Jumat (19/12).

Endah mengatakan tempe dapat memberikan banyak manfaat baik pada komunitas, industri sampai dengan pihak-pihak yang akan mengonsumsinya.

Produk turunan dari tempe bisa dikembangkan menjadi beragam makanan menarik dari olahan tempe. Endah menyebut salah satunya bisa saja tempe dihadirkan dalam bentuk jus.

Dari inovasi-inovasi baru yang dihadirkan, tempe akan berubah dari yang semula hanya dianggap sebagai sekadar makanan menjadi ilmu pengetahuan yang bisa terus dikulik. Sehingga baik ekosistem, pemanfaatan maupun dokumentasi soal tempe dapat lestari.

Selain itu, diharapkan perkembangan pengetahuan tersebut dapat mencari solusi dari berbagai masalah dalam produksi tempe dalam negeri, seperti masih impornya kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe.

"Tapi kalau misalnya memang dikembangkan dan terus-menerus disosialisasikan ke masyarakat, ya mudah-mudahan kita suatu hari akan suka juga proses pengolahan tempe ini dari bentuk kacang-kacang lain selain kedelai," ucap Endah.

Temuan-temuan lain itu menurutnya perlu disosialisasikan secara masif pada masyarakat, agar di masa depan generasi penerus memiliki banyak pilihan makanan.

Hal lain yang disampaikan Endah yakni UNESCO sedang mengkaji pengusulan kelayakan tempe sebagai warisan budaya takbenda. Jika lolos tahun depan, tempe akan jadi warisan ke-17 dari Indonesia yang diakui dunia.

Keberhasilan itu, katanya, juga akan mengangkat nilai dari produk olahan karena akan disertakan tulisan bahwa tempe telah jadi warisan budaya takbend UNESCO.

"Nanti ke depan kita inginnya kalau sudah diinskripsi oleh UNESCO produk-produk tempe itu ada tulisannya tuh sudah diinskripsi menjadi warisan tak benda UNESCO tahun 2026," ujar Endah.

Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan sedang memperjuangkan tempe untuk masuk menjadi warisan budaya takbenda UNESCO dari Indonesia. Pengajuan itu telah dilakukan pada 31 Maret 2025 bersama dengan Teater Mak Yong dan Jaranan: Seni Pertunjukan dan Ritual.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.