Empat Pilar Ketahanan Pangan Jadi Kunci Penguatan Pertanian di DIY

Kamis, 18 Des 2025, 17:30 WIB

YOGYAKARTA - Ketahanan pangan kerap direduksi sebagai urusan kecukupan produksi. Padahal, pengalaman Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan bahwa pangan baru benar-benar tangguh ketika dibangun di atas empat pilar yang berjalan beriringan: ketersediaan, keterjangkauan, pemanfaatan, dan kelembagaan. Tanpa keseimbangan keempatnya, sistem pangan mudah goyah saat menghadapi gejolak harga, perubahan iklim, maupun krisis.

Kerangka empat pilar tersebut disampaikan Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti dalam Rapat Koordinasi Penguatan Ketahanan Pangan dan Pertanian Berbasis Kearifan Lokal di Yogyakarta, Rabu (17/12). Ia menilai pendekatan parsial justru berisiko melemahkan ketahanan wilayah.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemda DIY

“Karenanya, kami ingin mengingatkan kembali, pembangunan ketahanan pangan mestinya mencakup empat pilar utama, yaitu ketersediaan, keterjangkauan, pemanfaatan, dan kelembagaan. Empat pilar ini harus berjalan serentak. Sebab, jika satu pilar rapuh, seluruh sistem ikut rapuh,” ujarnya.

Bagi DIY, pangan dan pertanian tidak sekadar diposisikan sebagai sektor ekonomi, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup masyarakat. Sejarah panjang pengelolaan sumber daya air, lahan, dan pangan mengajarkan bahwa ketahanan pangan menjadi fondasi ketahanan daerah secara menyeluruh.

“Sejak awal Pemda DIY memahami bahwa kesejahteraan rakyat dan ketahanan wilayah sangat ditentukan oleh kemampuan daerah dalam mengelola sumber daya air, lahan, dan sistem pangan secara berkelanjutan. Dan dari sejarah panjang DIY, kami belajar bahwa ketahanan pangan adalah fondasi ketahanan daerah,” kata Made.

Pada pilar ketersediaan, DIY tidak hanya bertumpu pada produksi lokal, tetapi juga pada perlindungan lahan pertanian, penguatan irigasi, efisiensi air, serta pengelolaan cadangan pangan. Distribusi antardaerah dipandang sama pentingnya agar pasokan tetap terjaga ketika terjadi gangguan produksi.

“Bagi DIY, ini berarti menjaga lahan pertanian, memperkuat irigasi dan efisiensi air. Selain itu, meningkatkan produktivitas dengan cara yang ramah lingkungan, sekaligus memastikan rantai pasok antar daerah berjalan stabil,” imbuhnya.

Namun ketersediaan saja tidak cukup. Pilar keterjangkauan menjadi penentu apakah pangan yang ada benar-benar bisa diakses masyarakat. Stabilitas harga dan daya beli dipandang sebagai faktor krusial agar pangan tidak hanya tersedia di pasar, tetapi juga sampai ke meja makan warga.

Pilar pemanfaatan kemudian menempatkan kualitas konsumsi sebagai inti ketahanan pangan. Made menekankan bahwa pangan harus aman, bergizi, dan didukung lingkungan sehat agar manfaatnya dapat diserap tubuh secara optimal.

“Pilar pemanfaatan mencakup gizi, keamanan pangan, perilaku konsumsi, air bersih, sanitasi, serta layanan kesehatan yang menentukan kemampuan tubuh menyerap gizi. Karena itu, ketahanan pangan harus terintegrasi dengan program kesehatan, pendidikan, air minum, sanitasi, dan penguatan pangan lokal bergizi sebagai bagian dari investasi kualitas sumber daya manusia DIY,” jelasnya.

Sementara itu, pilar kelembagaan disebut sebagai fondasi yang sering diabaikan, padahal berperan menggerakkan tiga pilar lainnya. Kelembagaan mencakup tata kelola yang kuat, data yang akurat, koordinasi lintas perangkat daerah, hingga penguatan peran desa, petani, dan pelaku usaha pangan.

“Kelembagaan juga berarti sistem peringatan dini, manajemen cadangan pangan, dan mekanisme respons cepat ketika terjadi kenaikan harga, gangguan pasokan, atau bencana. Tanpa kelembagaan yang solid, program ketersediaan akan parsial, kebijakan keterjangkauan tidak tepat sasaran, dan upaya pemanfaatan tidak berkesinambungan,” ujarnya.

Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden RI Agus Widodo yang hadir dalam forum tersebut menilai praktik DIY memberi gambaran konkret bagaimana kearifan lokal dapat menopang ketahanan pangan nasional. Ia menyebut kinerja sektor pertanian DIY menunjukkan tren positif.

“Dan hari ini, kami datang untuk menggali lebih jauh informasi, bagaimana praktik baik dari kearifan lokal dapat mendorong ketahanan pangan di DIY. Karena menurut data, DIY sudah menghadirkan praktik terbaiknya, di mana pertanian DIY tumbuh positif mencapai 7,8% di 2025, disertai nilai tukar petani hingga 1,9% di 2025,” ungkapnya.

Menurut Agus, berbagai program berbasis kearifan lokal seperti Lumbung Mataraman dan Petani Milenial memperlihatkan bahwa penguatan empat pilar ketahanan pangan dapat berjalan seiring dengan transformasi digital dan keberlanjutan.

“Tidak hanya resiliensi terhadap pertumbuhan nasional, upaya yang dilakukan DIY ini juga berpengaruh terhadap mengembangkan ekosistem pangan yang inklusif dan keberlanjutan. Karena itu, kami berharap dapat menggali informasi untuk diaplikasikan di tingkat nasional, demi Indonesia yang lebih sejahtera,” katanya.

  • pertanian
  • ketahanan pangan

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.