Penyelenggara Lari Marathon di Iran Ditangkap Usai Peserta Perempuan Berlari Tanpa Hijab

Senin, 08 Des 2025, 03:20 WIB

JAKARTA - Otoritas yudisial Iran menangkap dua penyelenggara sebuah ajang marathon di Pulau Kish setelah beredar foto dan video yang menunjukkan sejumlah perempuan berlari tanpa mengenakan hijab. Penangkapan ini dilakukan pada Sabtu, sehari setelah lomba yang diikuti sekitar 5.000 peserta tersebut berlangsung.

Menurut laporan situs resmi Mizan, keduanya ditahan berdasarkan surat perintah penangkapan. Salah satu yang ditahan merupakan pejabat di kawasan bebas Kish, sementara lainnya adalah staf dari perusahaan swasta yang menjadi pelaksana acara. Pihak yudisial menegaskan bahwa sebuah perkara pidana telah dibuka untuk menyelidiki penyelenggaraan ajang lari tersebut.

Ket. Foto: — Sumber: Kurdistan 24

Dikritik Kelompok Konservatif

Marathon tersebut memicu reaksi keras dari kelompok ultrakonservatif Iran. Media pro-konservatif seperti Tasnim dan Fars mengecam penyelenggaraan lomba yang dianggap “tidak senonoh” dan melanggar aturan kesopanan publik yang diberlakukan sejak Revolusi Islam 1979.

Jaksa setempat mengatakan bahwa penyelenggara telah mendapat peringatan sebelumnya mengenai kewajiban mematuhi peraturan negara, termasuk aturan berpakaian. Namun, acara tetap berlangsung dengan cara yang dianggap bertentangan dengan “norma religius dan adat setempat”.

Aturan Hijab yang Makin Longgar di Lapangan

Perempuan di Iran diwajibkan menutup rambut dan mengenakan pakaian longgar di ruang publik. Namun, tingkat kepatuhan terhadap aturan hijab semakin longgar sejak gelombang protes nasional pada 2022 menyusul kematian Mahsa Amini setelah ditahan polisi moral.

Tekanan politik juga meningkat. Awal pekan ini, mayoritas anggota parlemen menuding lembaga peradilan tidak cukup tegas dalam menegakkan aturan hijab. Sebagai respons, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei menyerukan penegakan yang lebih ketat.

Meski begitu, pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian menolak mengesahkan rancangan undang-undang yang diajukan parlemen untuk memperberat sanksi bagi pelanggar aturan berpakaian.

Bukan Kejadian Pertama

Kontroversi terkait olahraga dan aturan hijab bukan hal baru di Iran. Pada Mei 2023, ketua federasi atletik Iran mengundurkan diri setelah sejumlah perempuan mengikuti kompetisi olahraga di Shiraz tanpa penutup kepala.

Penangkapan penyelenggara marathon di Pulau Kish ini kembali memperlihatkan betapa sensitifnya isu hijab di ruang publik Iran, terutama ketika muncul di tengah meningkatnya tekanan politik dan perdebatan mengenai masa depan kebebasan perempuan di negara tersebut.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.