Depok Blind Thrust Terdeteksi Aktif, Berpotensi Picu Gempa M 6,9 di Jakarta Selatan

Senin, 08 Des 2025, 15:35 WIB

JAKARTA - Wilayah selatan Jakarta, termasuk Kota Depok, berada di atas jalur sesar aktif yang dikenal sebagai Depok blind thrust. Sesar ini merupakan bagian dari sistem West Java back-arc thrust dan memiliki potensi sebagai sumber gempa meski tidak terlihat langsung di permukaan.

Depok blind thrust dikategorikan sebagai patahan naik yang gerakannya terjadi di bawah tanah tanpa menampakkan jejak di permukaan. Keberadaan jalur ini dinilai penting sebagai dasar perencanaan mitigasi bencana di kawasan padat penduduk seperti Depok dan selatan Jakarta.

Ket. Foto: — Sumber: Pexels

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sonny Aribowo, menjelaskan alasan penamaan segmen sesar tersebut.

"Kita menamakannya sebagai segmen Depok blind thrust, dari sistem West Java back-arc thrust yaitu sistem yang lebih dikenal banyak orang, kalau segmen ini berada di sisi selatan Jakarta," kata Sonny.

Sonny memaparkan hasil penelitian yang menunjukkan adanya jalur terdeformasi di selatan Jakarta dengan lipatan yang semakin intens ke arah barat. Ia menegaskan bahwa sesar ini termasuk aktif dan bergerak setidaknya sekali dalam kurun waktu sekitar 11.000 tahun.

"Dari penelitian terakhir juga dikatakan sisi selatan Jakarta sesar bergerak dengan kecepatan 3,2 mm per tahun dan itu bisa dikatakan tidak terlalu cepat (gerakannya)," ujarnya.

Depok blind thrust diperkirakan membentang dari kawasan Universitas Indonesia (UI) di Depok menuju barat hingga mendekati Sungai Cisadane. Panjang sesarnya ditaksir sekitar 25 kilometer dengan potensi memicu gempa hingga magnitudo 6,9, meski data tersebut masih bersifat tentatif.

"Untuk Depok blind thrust, panjang segmen masih dihitung dan itu bersifat tentatif. Dari data seismik mungkin tidak terlalu terlihat, hanya memang di sebelah barat Depok lipatannya lebih intens dibandingkan sebelah timur," jelas Sonny.

Secara historis, belum ada catatan pasti yang menyebut Depok blind thrust memicu gempa besar. Namun beberapa peristiwa gempa besar di sekitar Jakarta pada 1699, 1780, dan 1834 diduga berkaitan dengan aktivitas patahan di wilayah tersebut.

"Kalau kita lihat secara kegempaan, boleh jadi Depok blind thrust ikut aktif di 1699, 1780, dan 1834. Tapi sampai saat ini, sumber kegempaan dari ketiga event belum diketahui," kata Sonny.

Ia menjelaskan bahwa setiap sesar aktif memiliki periode pengulangan gempa yang berbeda, mulai dari 100 hingga ribuan tahun. Ketika tidak sedang aktif, masyarakat tidak merasakan apa pun, namun potensi bahaya tetap ada.

Sebagai langkah mitigasi, Sonny menyarankan warga memastikan ketahanan struktur rumah, termasuk menguatkan pengait barang-barang yang menempel di dinding. Ia mengingatkan bahwa wilayah Jawa Barat dapat mengalami kerusakan parah bahkan pada gempa berkekuatan di bawah magnitudo 6, seperti kejadian di Cianjur dan Sumedang.

"Oleh karena itu, perlu ketahanan dari bangunan, langkah mitigasi bencana ke anak usia dini dan sekolah biar mereka tertanam bahwa mereka hidup di tanah rawan bencana," ujarnya.

Selain itu, pemerintah diimbau untuk terus memperbarui data jalur sesar aktif agar informasi kebencanaan semakin akurat dan mudah diakses publik. Pembaruan data ini diharapkan dapat mendukung mitigasi dan penanganan bencana yang lebih efektif di kawasan selatan Jakarta dan daerah sekitar.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.