• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Gadget Tak Lagi Aman: Tekn...

Gadget Tak Lagi Aman: Teknologi Melesat, Kesehatan Mental Anak-Remaja Tertekan

Sabtu, 06 Des 2025, 23:00 WIB

JAKARTA – Di ruang keluarga yang remang sore itu, seorang remaja duduk terpaku pada layar ponselnya. Jemarinya bergerak cepat, namun sorot matanya kosong.

Notifikasi yang tak henti berdenting membuatnya terus terjaga—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara mental.

Ket. Foto: Ilustrasi - Anak-anak nermain gadget. — Sumber: Istimewa.

Di rumah lain, seorang anak yang baru pulang sekolah langsung membuka tablet, tenggelam dalam dunia game dan video tanpa sempat bertanya bagaimana harinya berjalan.

Fenomena ini kini terasa di banyak keluarga. Teknologi digital memang membuka ruang kreativitas, belajar, dan hiburan.

Namun, di sisi lain, para ahli mulai melihat tanda-tanda yang tak bisa lagi diabaikan: meningkatnya kecemasan, sulit tidur, rasa cemas berlebih, hingga tekanan sosial dari dunia maya yang tak pernah benar-benar sunyi.

Anak dan remaja tumbuh di era ketika perbandingan sosial terjadi setiap detik, di mana jumlah like bisa terasa seperti penilaian terhadap harga diri.

Bagi sebagian remaja, ruang digital menjadi tempat pelarian; bagi sebagian lainnya, justru sumber tekanan. Cyberbullying, FOMO, hingga konten yang memicu rasa cemas membuat kesehatan mental mereka semakin rapuh.

Bahkan anak-anak pun kini mudah gelisah saat gadget disita, seakan dunia nyata kalah menarik—atau mungkin terasa lebih menakutkan.

Pemulihan dari kondisi ini tidak selalu membutuhkan terapi rumit. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang untuk bicara tanpa dihakimi, jeda dari layar, serta aktivitas bersama yang mendekatkan kembali hubungan keluarga.

Orang tua, guru, dan komunitas juga perlu memahami bahwa kesehatan mental bukan sekadar isu mood remaja, melainkan fondasi masa depan mereka.

Teknologi tidak harus menjadi musuh. Yang penting adalah membantu anak dan remaja memahami cara mengelola diri di tengah derasnya arus digital.

Sebab di balik layar yang selalu menyala, ada generasi yang membutuhkan lebih banyak cahaya dari dunia nyata.

Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menyoroti peningkatan masalah kesehatan mental pada anak dan remaja seiring dengan peningkatan penggunaan teknologi digital.

Dalam forum bertajuk Next Gen Health: Tech, Safety, Mental Health & Community for a Resilient Future yang dilaksanakan di kampus Universitas Indonesia, Sabtu (6/12), ia menyampaikan bahwa angka percobaan bunuh diri mencapai sekitar 2 persen pada kelompok usia di atas 15 tahun yang mengalami depresi di Indonesia.

"Sebagian dari mereka juga mengalami psikosis, dan empat dari setiap 1.000 keluarga memiliki anggota dengan masalah kesehatan mental," katanya.

Ia mengemukakan bahwa penggunaan teknologi digital sejak usia dini berkaitan dengan peningkatan masalah kesehatan mental pada anak dan remaja.

Menurut dia, dari total 79,8 juta anak di Indonesia ada sekitar 28,65 juta anak berusia tujuh sampai 17 tahun yang menggunakan telepon seluler dan mengakses internet.

Dia mengatakan bahwa munculnya perubahan perilaku dan masalah-masalah terkait kesehatan mental akibat penggunaan gawai dan internet perlu direspons dengan pendekatan kesehatan masyarakat yang komprehensif.

"Pendekatan ini tidak bisa dilakukan secara langsung, kadang-kadang butuh transisi dan usaha yang cerdas," katanya.

Ia menyampaikan bahwa pada masa sekarang akses pelayanan kesehatan mental bisa diperluas dengan dukungan teknologi.

Dalam hal ini, pemerintah telah menghadirkan layanan Healing 119.id yang memungkinkan warga berkonsultasi melalui WhatsApp atau telepon tanpa biaya.

"Mereka yang biasanya tertutup untuk mengungkapkan masalah bisa merasa lebih aman. Di sini mereka boleh curhat secara gratis," kata Dante.

Namun, dia melanjutkan, intervensi melalui penyediaan layanan digital saja tidak cukup untuk mengatasi masalah kesehatan mental maupun membangun ketahanan mental anak dan remaja.

Menurut dia, keluarga memegang peranan penting dalam upaya untuk membangun kesehatan mental anak sejak fase awal kehidupan.

"Ini harus dimulai dari keluarga, dan bukan hanya dari anak-anak, tetapi sejak konsepsi. Kita mencoba membuat ibu dan bapak yang sehat, bahagia, dan siap menghadapi tantangan," katanya.

Wakil Menteri Kesehatan mengatakan bahwa pemerintah juga berupaya meningkatkan peran komunitas dalam upaya pembangunan kesehatan mental.

Melalui Posyandu, pemerintah melibatkan lebih dari 1,48 juta kader kesehatan di 84.019 desa dan kelurahan dalam upaya edukasi kesehatan dasar, deteksi dini masalah kesehatan, serta pendampingan kesehatan mental bagi anak, remaja, ibu hamil, hingga lansia.

Dalam sesi terpisah, Wakil Menteri Kesehatan Timor-Leste Flavio Brandao Mendes den Araujo menyampaikan bahwa inovasi digital bisa membantu upaya pelayanan kesehatan, tapi juga berpeluang mendatangkan masalah kesehatan mental.

Menurut dia, Pemerintah Timor-Leste juga melaksanakan digitalisasi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk menggunakan kecerdasan buatan untuk mendukung pemeriksaan kesehatan mental.

Namun, dia menekankan bahwa bagaimanapun juga teknologi tidak akan sepenuhnya bisa menggantikan peran tenaga kesehatan.

"Teknologi itu cerdas, tapi tidak bisa menggantikan dokter dan perawat. Mental health issues harus dihadapi oleh manusia, bukan teknologi," katanya.

​​​​​​​Penanganan masalah kesehatan mental membutuhkan dukungan keluarga, komunitas, dan profesional kesehatan serta pemanfaatan inovasi teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

​​​​​​​

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.