Macron Desak Tiongkok Seimbangkan Perdagangan

Jumat, 05 Des 2025, 00:10 WIB

BEIJING - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, pada Kamis (4/12) mengimbau pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, untuk membantu mengakhiri perang di Ukraina dan mengatasi defisit perdagangan saat kedua pemimpin bertemu di Balairung Agung di Beijing.

Bagi Macron, yang melakukan kunjungan keempatnya ke Tiongkok saat masih menjabat, perjalanan tiga hari tersebut merupakan kesempatan untuk menggalang dukungan bagi gencatan senjata dalam konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II, sekaligus untuk menarik lebih banyak investasi Tiongkok di Prancis.

Ket. Foto: Presiden Prancis, Emmanuel Macron (kiri) dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. — Sumber: Sarah Meyssonnier/AFP

Defisit perdagangan negara itu dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tercatat tumbuh menjadi 46 miliar euro (54 miliar dollar AS) pada tahun 2024.

Usai upacara penyambutan, Macron mengatakan kepada Xi bahwa Prancis dan Tiongkok harus mengatasi perbedaan mereka. Pemimpin Tiongkok tersebut sependapat dengan Macron, yang menyerukan hubungan yang lebih stabil.

Macron, yang akan menjadi tuan rumah KTT G7 tahun depan, mendesak Beijing untuk bekerja sama dengan kelompok tersebut demi tata kelola ekonomi berbasis aturan yang lebih seimbang dan adil.

Macron juga membahas perdagangan dengan Xi karena Uni Eropa menghadapi defisit perdagangan besar sebesar 357 miliar dollar AS dengan negara kekuatan Asia tersebut.

“Tiongkok perlu meningkatkan konsumsi dan mengurangi ekspor dan Eropa perlu mengurangi tabungan dan meningkatkan produksi,” ujar seorang penasihat Macron.

Macron sebelumnya telah meminta Uni Eropa untuk mengurangi ketergantungannya pada Tiongkok dan untuk mengutamakan preferensi Eropa di sektor teknologi.

Rencana Akhir Perang

Kunjungan tiga hari Macron ke Beijing menyusul kunjungan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, ke Paris, yang mendesak Eropa untuk mendukung Kyiv saat Washington DC mendorong rencana untuk mengakhiri perang.

"Kami sependapat bahwa perang harus diakhiri dengan adil," tulis Zelenskyy di media sosial setelah perundingan pada Senin (1/12) dengan Macron, yang juga mencakup panggilan telepon dengan para pemimpin Eropa lainnya.

Tiongkok secara teratur menyerukan perundingan damai dan penghormatan terhadap integritas teritorial semua negara, tetapi tidak pernah mengutuk Russia atas invasinya pada tahun 2022.

Pemerintah Barat menuduh Beijing memberi Russia dukungan ekonomi penting untuk upaya perangnya, terutama dengan memasok komponen militer untuk industri pertahanannya.

Kepresidenan Prancis mengatakan Macron akan memberi tahu Xi bahwa Tiongkok harus menahan diri untuk tidak memberikan cara apa pun, dengan cara apa pun, kepada Russia untuk melanjutkan perang.

“Kita harus terus berupaya mewujudkan perdamaian dan stabilitas di dunia, di Ukraina, dan di kawasan lain yang terdampak perang,” ujar Macron kepada Xi, seraya menambahkan bahwa kapasitas kedua negara untuk bekerja sama sangatlah menentukan.

“Konflik ini menimbulkan ancaman vital bagi keamanan Eropa, tetapi juga bagi penghormatan terhadap tatanan internasional yang berdasarkan hukum,” ujar dia.

Sedangkan Xi menekankan dukungan Beijing terhadap langkah gencatan senjata. Tiongkok sendiri mendukung semua upaya yang dilakukan untuk perdamaian dan berharap semua pihak akan mencapai perjanjian perdamaian yang adil, langgeng, dan mengikat yang dapat diterima semua pihak melalui dialog dan negosiasi. SB/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.