Trump Kirim Utusan ke Russia untuk Selesaikan Kesepakatan Damai Ukraina
📅 Kamis, 27 Nov 2025, 01:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: AFP/CHARLY TRIBALLEAU
WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (25/11), mengatakan bahwa ia akan mengirim utusannya, Steve Witkoff, untuk bertemu dengan Presiden Russia Vladimir Putin di Moskow minggu depan, sebagai bagian dari upaya AS mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Trump menyampaikan melalui platform Truth Social miliknya bahwa “hanya ada beberapa poin perselisihan yang tersisa,” meski para pemimpin Eropa tetap bersikap skeptis dan serangan rudal Russia masih menghantam wilayah Ukraina.
Dikutip dari AFP, Trump juga menyatakan harapannya untuk segera bertemu langsung dengan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, “namun HANYA ketika kesepakatan untuk mengakhiri perang ini sudah FINAL atau berada pada tahap akhir.”
Trump kemudian mengatakan kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One bahwa menantunya, Jared Kushner, mungkin akan bergabung dengan Witkoff dalam kunjungan ke Moskow.
Proposal 28 poin yang disusun Washington untuk mengakhiri perang itu diduga dimulai dari percakapan telepon antara Witkoff dan penasihat kebijakan luar negeri Putin, menurut transkrip pembicaraan yang dilaporkan diperoleh Bloomberg.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam transkrip tersebut, Witkoff disebut menyarankan penyusunan rencana perdamaian 20 poin untuk Ukraina, “seperti yang kami lakukan di Gaza,” serta mendorong Putin untuk membahasnya langsung dengan Trump.
Namun, rencana 28 poin itu yang disebut banyak pihak lebih menguntungkan Moskow — kini telah digantikan oleh versi baru yang dinilai lebih memperhatikan kepentingan Kyiv. Seorang pejabat yang mengetahui versi pembaruan tersebut mengatakan kepada AFP bahwa rencana baru itu “jauh lebih baik.”
Witkoff dijadwalkan mempresentasikan versi terbaru rencana itu kepada Putin di Moskow, meskipun Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak gagasan solusi cepat. Berbicara setelah panggilan telepon antara anggota “koalisi yang bersedia” yang mendukung Ukraina, Macron memperingatkan pada Selasa bahwa “jelas tidak ada kesediaan Russia” untuk gencatan senjata ataupun proposal baru yang lebih menguntungkan Ukraina.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jalan Terjal
Trump, yang telah lama membanggakan dirinya mampu menegosiasikan akhir perang Ukraina dalam 24 jam, mengumumkan pekan lalu bahwa ia ingin proposalnya disetujui oleh Kyiv selambat-lambatnya Kamis ini, bertepatan dengan libur Thanksgiving di AS.
Namun, rencana awal yang dianggap memberi keuntungan besar bagi tujuan perang Russia memicu kekhawatiran di Ukraina dan Eropa. Di antara poin yang menuai kritik adalah larangan bagi Ukraina untuk bergabung dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO) serta penyerahan sebagian besar wilayah baru kepada Russia.
Rencana yang diperbarui kini dinilai lebih menguntungkan bagi Kyiv. Pejabat yang mengetahui isi proposal tersebut mengatakan kepada AFP bahwa salah satu pembaruan utama adalah peningkatan batas jumlah pasukan militer Ukraina di masa depan dari 600.000 menjadi 800.000 personel.
Negosiator Ukraina, Rustem Umerov, pada Selasa menyampaikan bahwa telah tercapai “kesepahaman bersama mengenai inti” dari kesepakatan antara Ukraina dan AS. Namun, ia menegaskan bahwa rincian kesepakatan masih harus diselesaikan dalam perundingan langsung “secepat mungkin.”
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengingatkan bahwa “jalan masih panjang dan akan sangat terjal ke depannya.”
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!