SBIN Dorong Manufaktur Menuju Ekonomi 8 Persen
Kamis, 27 Nov 2025, 01:00 WIBTanpa penguatan industri pengolahan yang memiliki efek multiplier luas terhadap tenaga kerja, investasi, dan ekspor, target pertumbuhan tinggi akan sulit dicapai.
Jakarta â Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional dengan memperkuat sektor manufaktur.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) menjadi instrumen utama untuk mendorong kontribusi manufaktur sehingga Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen di masa mendatang.
âIni keterpanggilan kami untuk bisa mendetailkan sektor manufaktur itu, bagaimana kami bisa memberikan kontribusi agar target 8 persen itu bisa tercapai,â kata Menperin di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (26/11).
Seperti dikutip dari Antara, Agus menjelaskan SBIN disusun dengan tujuan menjawab berbagai tantangan sekaligus menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto.
Strategi baru itu didesain per sektor dengan detail yang sangat ketat. Namun, kata Menperin lagi, seluruh penyusunan SBIN tetap dalam koridor yang digariskan oleh Presiden Prabowo Subianto maupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
âIni strategi. Seperti sepak bola, kalau ingin menang 2-0 dan 3-0, itu strateginya berbeda. Ini yang disebut strategi untuk mendapatkan apa yang sudah digariskan oleh Bapak Presiden, yaitu pertumbuhan ekonomi mendekati 8 persen,â ujarnya lagi.
Sebelumnya, Menperin mengatakan SBIN merupakan kerangka strategis untuk mewujudkan industri domestik yang tumbuh dan berdaulat.
Menurut Menperin, SBIN hadir sebagai cetak biru industrialisasi Indonesia di era pasca-pandemi dan pasca-karbon. Strategi ini memadukan nilai-nilai kemandirian ekonomi, transformasi teknologi, serta keberlanjutan lingkungan dalam satu kerangka terpadu.
Kebijakan Industrialisasi
Lebih lanjut, Agus menyampaikan arus penanaman modal asing (PMA/FDI) semakin kuat mengarah ke industri manufaktur seperti logam hingga elektronik yang menjadi bukti industrialisasi berjalan optimal.
"Data terbaru menunjukkan bahwa arus investasi asing kini semakin kuat mengarah ke industri manufaktur seperti logam, kimia, mesin dan elektronik. Ini membuktikan bahwa kebijakan industrialisasi yang dijalankan oleh Bapak Presiden Prabowo sudah berjalan pada jalur yang tepat dan semakin menarik minat investor global untuk berinvestasi di sektor manufaktur Indonesia,â katanya.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, peranan sektor industri manufaktur dalam perekonomian Indonesia semakin menguat di tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo.
Riset tersebut mengungkapkan bahwa komposisi PMA ke sektor sekunder terus naik signifikan, dari 35,3 persen pada tahun 2018 menjadi 59,6 persen sepanjang Januari-September 2025.
Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, setiap PMA senilai 1 triliun rupiah di luar Jawa menghasilkan tambahan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) sekitar 1,76 triliun rupiah. Sebagai pembanding, PMA senilai 1 triliun rupiah di Jawa hanya menghasilkan tambahan PMTB senilai 140 miliar rupiah.
Sementara itu, Chief of Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto menyampaikan, dominasi sektor manufaktur ini membawa dampak positif bagi peningkatan dan pemerataan kesejahteraan. Sebab, PMA di sektor manufaktur menciptakan efek pengganda sangat kuat di luar Jawa.
âSecara regional, PMA di luar Jawa menghasilkan PMTB yang jauh lebih besar, mencerminkan kebutuhan modal yang lebih dalam di wilayah tersebut dan menegaskan peran PMA dalam mendukung pertumbuhan yang lebih seimbang secara geografis," katanya.
- Pertumbuhan Nasional
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.