Presiden Filipina Tahan Sejumlah Tersangka Koruptor

Selasa, 25 Nov 2025, 02:50 WIB

MANILA - Pihak berwenang Filipina telah menahan tujuh tersangka dan beberapa lagi sedang dicari dalam skandal korupsi besar yang melibatkan proyek pengendalian banjir, kata Presiden Ferdinand Marcos Jr pada Senin (24/11) saat ia mencoba meredakan kemarahan publik terkait keterlibatan anggota kongres yang kuat.

Korupsi besar-besaran telah disalahkan atas proyek-proyek pengendalian banjir yang tidak memenuhi standar atau bahkan fiktif di Filipina yang telah lama rentan terhadap banjir mematikan dan cuaca ekstrem. Dua presiden Filipina sebelumnya, termasuk mendiang ayah Presiden Marcos Jr, digulingkan dalam pemberontakan rakyat akibat dugaan penjarahan dan kesalahan pemerintahan.

Ket. Foto: Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, saat berbicara mengenai upaya pemerintah dalam memberantas korupsi dalam konferensi pers di Istana Malacanang di Manila pada 13 November lalu. Pada Senin (24/11) Presiden Marcos Jr menegaskan akan menggencarkan kampanye antikorupsi yang melibatkan banyak pejabat dalam proyek pengendalian banjir. — Sumber: AFP/Jam STA ROSA

Gelombang pertama penahanan yang terdiri lebih dari selusin tersangka, termasuk Zaldy Co, mantan anggota DPR dan insinyur pekerjaan umum pemerintah yang didakwa oleh Sandiganbayan, pengadilan antikorupsi khusus, dalam kasus tuntutan yang mengawali puluhan tuntutan hukum pidana korupsi dan suap lainnya yang dijanjikan Presiden Marcos Jr akan memenjarakan senator, anggota DPR, dan pemilik perusahaan konstruksi kaya yang terlibat menjelang Natal.

Kasus korupsi pertama melibatkan penyimpangan dalam proyek pengendalian banjir di Provinsi Oriental Mindoro, termasuk proyek tanggul sungai senilai 289 juta peso (4,8 juta dollar AS) yang dibangun oleh Sunwest, sebuah perusahaan konstruksi yang menurut pejabat dimiliki oleh keluarga Co.

Presiden Marcos Jr mengatakan satu tersangka telah ditangkap dan enam lainnya telah menyerahkan diri kepada polisi selama akhir pekan. Tersangka yang ditangkap ditemukan di sebuah rumah di pinggiran Quezon City di wilayah ibu kota, di mana sejumlah orang yang tidak disebutkan namanya yang berusaha membantu menyembunyikan tersangka juga ditangkap, ujar dia.

"Saran saya kepada para tersangka yang tersisa adalah agar kalian semua menyerah, jangan menunggu untuk dikejar," kata Presiden Marcos Jr dalam unggahan Senin pagi di akun Facebook-nya. "Ini akan terus berlanjut dan kami tidak akan berhenti," imbuh dia.

Kejar Tersangka

Menteri Dalam Negeri Jonvic Remulla mengatakan keberadaan Co, yang diyakini berada di luar Filipina, tidak diketahui, tetapi tiga tersangka lainnya mungkin akan segera menyerahkan diri ke Kedutaan Besar Filipina di Amerika Serikat, New Zealand, serta Yordania, dan mereka akan diterbangkan pulang.

"Dimanapun kalian berada di dunia, kami akan menemukan kalian," kata Remulla dalam sebuah konferensi pers.

Para saksi telah bersaksi dalam sidang Senat dan dalam komisi pencari fakta independen yang dibentuk oleh Marcos Jr bahwa beberapa mantan senator dan petahana serta anggota DPR telah menerima suap besar-besaran dari perusahaan konstruksi yang diuntungkan, yang telah memegang kontrak pengendalian banjir selama bertahun-tahun.

Sejumlah pejabat dan insinyur Dinas Pekerjaan Umum dan Jalan Raya bahkan telah bersaksi di bawah sumpah dalam sidang Senat bahwa mereka membantu mengatur transaksi korup dan memperoleh keuntungan besar darinya.

Mereka yang terlibat termasuk anggota DPR Martin Romualdez, sepupu sekaligus sekutu utama presiden, yang membantah terlibat tetapi telah mengundurkan diri sebagai ketua DPR. Mantan Ketua Senat Chiz Escudero juga dituduh menerima suap dan telah mengundurkan diri dari jabatannya, tetapi dengan tegas membantah melakukan kesalahan.

Setidaknya ada 9.855 proyek pengendalian banjir senilai lebih dari 545 miliar peso yang seharusnya telah dilaksanakan sejak Marcos Jr menjabat pada pertengahan 2022, sedang diselidiki. Pada bulan September, Menteri Keuangan Ralph Recto mengatakan kepada para legislator bahwa hingga 118,5 miliar peso untuk proyek pengendalian banjir mungkin telah hilang akibat korupsi sejak 2023. CNA/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.