Kemegahan Gerbang Gedung Sate Tak Dibarengi Manfaat

Senin, 24 Nov 2025, 08:41 WIB

BANDUNG – Gerbang bergaya candi bentar di Gedung Sate memiliki paradoks, yakni megah secara visual namun hampa manfaat bagi masyarakat Jabar yang tengah bergulat dengan realitas ekonomi. Penilaian ini disampaikan Pengamat kebijakan publik dari Universitas Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono.

Proyek pilar gerbang yang kini masih dalam tahap pembangunan itu, menurut Kristian, mencerminkan ketimpangan fatal dalam politik anggaran antara prioritas pemerintah dengan kebutuhan riil warga.

Ket. Foto: gerbang gedung sate — Sumber: ist

"Secara fisik tampak megah, seolah menunjukkan ada pergerakan pembangunan. Tapi ketika dibenturkan dengan realitas ekonomi masyarakat Jawa Barat saat ini, itu terasa hampa karena tidak menyentuh akar persoalan publik," ujarnya di Bandung, Minggu. Menurut Kristian, lolosnya anggaran ini dalam APBD memang menandakan adanya kesepakatan formal antara pemerintah daerah dan DPRD.

Namun, ia juga mempertanyakan urgensi "mempercantik" pagar kantor pemerintahan di saat daya beli dan kesejahteraan masyarakat sedang membutuhkan stimulus nyata. Lebih lanjut, Kristian menyebut fenomena ini sebagai proyek "mercusuar" pembangunan yang mengejar efek visual dan simbolik semata.

Sehingga, kata dia, publik berhak menggugat transparansi alasan di balik prioritas pemugaran pagar dibandingkan program yang berdampak langsung pada kualitas hidup manusia. Utamanya pada angka Rp3,9 miliar yang digelontorkan untuk gerbang itu, ditambah paving blok area parkir.

Kristian menekankan bahwa narasi efisiensi yang selama ini didengungkan pemerintah, seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai pemotongan anggaran, melainkan juga soal ketepatan alokasi "input" untuk menghasilkan "output" yang bermakna.

"Apakah Rp3,9 miliar untuk pagar dan gapura (dan lapangan parkir) itu lebih bermakna dibanding jika dialokasikan untuk program yang berdampak langsung pada kesejahteraan ekonomi warga?" katanya menambahkan.

Ironi Anggaran

Sebelumnya, Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar) Maulana Yusuf Erwinsyah mengungkapkan ironi kebijakan anggaran pemerintah provinsi yang menggelontorkan Rp3,9 miliar untuk gapura Gedung Sate, namun hanya mengalokasikan Rp156 juta untuk pelestarian 50 situs budaya Sunda asli pada 2026.

Maulana Yusuf menilai anggaran Rp3,9 miliar untuk proyek perbaikan lapangan parkir dan utamanya pembangunan gapura gerbang bergaya Candi Bentar tersebut, tidak hanya cacat prioritas, tetapi juga salah kaprah dalam merepresentasikan identitas budaya.

"Saya pikir mengurus situs cagar budaya peninggalan orang Sunda zaman dahulu lebih wajib, ketimbang membuat bangunan-bangunan baru, sekalipun niatnya memperlihatkan simbol-simbol Sunda," kata Maulana Yusuf di Bandung, Sabtu.

Ia juga mempertanyakan urgensi pembangunan fisik yang diklaim sebagai "wajah baru" tersebut di tengah pemangkasan belanja pegawai dan kondisi infrastruktur publik yang memburuk.

Maulana Yusuf mencontohkan jalan provinsi Cisarua-Padalarang menuju Lembang yang kini rusak dan minim penerangan hingga membahayakan keselamatan warga, namun luput dari prioritas eksekutif.

Sorotan tajam Yusuf juga diarahkan pada pemilihan desain Candi Bentar yang dinilai ahistoris dengan jati diri Kasundaan. Menurut dia, pemaksaan simbol budaya luar dalam ikon pemerintahan Jabar justru menunjukkan dangkalnya riset budaya dalam perencanaan pembangunan daerah.

Terkait lolosnya anggaran ini dalam APBD Perubahan 2025, Maulana Yusuf menyebut hal itu terjadi bukan karena kesepakatan bulat, melainkan akibat dominasi kehendak eksekutif yang memanfaatkan keterbatasan waktu pembahasan anggaran.

"Sebenarnya bukan disepakati, lebih kepada membiarkan keinginan Pak Gubernur yang keukeuh (bersikukuh) dengan keinginan sendiri," tuturnya. Lebih jauh legislator tersebut menolak keras rencana lanjutan pada 2026 yang menganggarkan lebih dari Rp10 miliar untuk pembangunan gerbang batas provinsi dan kabupaten/kota bergaya Sunda. Ia menilai proyek mercusuar semacam itu kontradiktif dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap situs-situs sejarah yang nyata-nyata terancam punah.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.