Rupiah Terkapar 3,62 persen ke Rp16.716 Sepanjang Tahun Ini, Jauh Tinggalkan Asumsi APBN 2025

Jumat, 21 Nov 2025, 19:37 WIB

JAKARTA – Sepanjang 2025 hingga Jumat (21/11), rupiah melemah 584 poin atau sekitar 3,62 persen ke level Rp16.716 per dolar AS, jauh melampaui asumsi APBN 2025 sebesar Rp16.000.

Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat, terutama dari ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed dan menguatnya dolar secara global.

Ket. Foto: Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Akbar Nugroho Gumay

Di sisi domestik, kebutuhan impor dan aliran modal asing yang belum stabil turut memperdalam depresiasi rupiah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang stabilisasi nilai tukar membutuhkan bauran kebijakan yang lebih agresif, mulai dari penguatan fundamental hingga stabilisasi arus modal.

Sebelumnya, nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan, Jumat (21/11) sore, menguat sebesar 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.716 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.736 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga menguat di level Rp16.719 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.742 per dolar AS.

Sebagai perbandingan, kurs rupiah terhadap dolar AS di penghujung tahun lalu atau pada perdagangan 31 Desember 2024 berada di level Rp 16.132 per dolar AS.

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) menilai bahwa nilai tukar rupiah terkendali di tengah besarnya tekanan akibat ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa pelemahan ini sejalan dengan pergerakan mata uang regional dan mitra dagang Indonesia.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah besarnya tekanan dari ketidakpastian global, Bank Indonesia menempuh langkah stabilisasi melalui intervensi.

Langkah intervensi dilakukan baik transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, peningkatan konversi valuta asing (valas) ke rupiah oleh eksportir seiring penerapan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) serta tambahan pasokan valas dari korporasi juga mendukung tetap terkendalinya nilai tukar rupiah.

Ke depan, tegas Perry, Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah termasuk melalui intervensi terukur di pasar spot, off-shore NDF dan domestik NDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder sehingga dapat mendukung pencapaian sasaran inflasi.

“Nilai tukar rupiah diprakirakan stabil didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Perry.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.