Prioritaskan Keselamatan Warga dan Pendaki

Jumat, 21 Nov 2025, 03:03 WIB

JAKARTA - Pemerintah dan tim SAR diminta untuk memprioritaskan keamanan dan keselamatan warga serta pendaki dalam penanganan bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim).

“Keselamatan dan keamanan warga harus menjadi prioritas, termasuk bagi pendaki yang sempat terjebak saat erupsi Semeru,” kata Ketua DPR RI Puan Maharani di Jakarta, Kamis (20/11).

Ket. Foto: Warga melintasi kondisi mushala yang terdampak erupsi Gunung Semeru di Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (20/11/2025). — Sumber: Antara

Gunung Semeru kembali erupsi pada Rabu (19/11) siang dengan mengeluarkan awan panas guguran sejauh 13 kilometer. Erupsi itu membuat status Gunung Semeru ditingkatkan menjadi Level IV atau Awas.

Puan pun mendorong seluruh aktivitas masyarakat di zona berbahaya, terutama di wilayah aliran Besuk Kobokan, harus segera dihentikan. “Kami meminta pemerintah daerah dan aparat terkait untuk memastikan evakuasi berlangsung cepat, terarah, dan berlandaskan pada rekomendasi PVMBG. Pastikan tak ada warga di sekitar lereng Semeru yang tertinggal untuk dievakuasi. Semua warga harus diselamatkan,” tambah Puan.

Ketua DPR juga menyoroti keberadaan para pendaki yang masih tertahan di kawasan Semeru dan meminta agar proses penyelamatan para pendaki dilakukan dengan pengamanan maksimal dan koordinasi penuh di lapangan. “Mengingat potensi bahaya lanjutan, jalur pendakian dan area wisata di sekitar Semeru sebaiknya memang ditutup sementara secara disiplin,” ujarnya.

Menurut informasi, sebanyak 178 orang pendaki sempat terjebak di kawasan Ranu Kumbolo saat Gunung Semeru erupsi. Pendakian memang masih dibuka pada Rabu (19/11) pagi karena radius aman saat itu masih berada di kisaran 5-8 kilometer.

Usai erupsi Semeru, semua pendaki yang sempat terjebak di Ranu Kumbolo pun dipastikan berada dalam kondisi aman dan tidak terkena awan panas karena arah guguran awan panas Semeru mengarah ke Gladak Perak.

Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso mengatakan bahwa pemantauan dan pendataan dilakukan sejak informasi peningkatan aktivitas Semeru diterima dan meski lokasi pos pendakian tidak terdampak erupsi keamanan mereka tetap diprioritaskan.

Lakukan Penutupan

Saat ini, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) telah menutup semua aktivitas pendakian, termasuk jalur Ranu Kumbolo, sebagai langkah mitigasi setelah PVMBG menaikkan status Semeru menjadi Level IV atau Awas.

Hal ini karena potensi bahaya erupsi masih sangat tinggi dan zona sektoral 20 kilometer arah selatan-tenggara dinyatakan berisiko besar. Diharapkan, keputusan ini agar dipatuhi semua pihak demi mencegah korban jiwa.

Di sisi lain, hal tak kalah penting yakni perlindungan bagi warga di pengungsian. Pemerintah daerah harus memastikan lokasi pengungsian benar-benar aman dan layak, mulai dari logistik, air bersih, layanan kesehatan, hingga perlindungan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

Informasi resmi dari pemerintah harus disampaikan secara jelas, cepat, dan tidak tumpang tindih, sehingga masyarakat tidak terjebak pada rumor atau informasi keliru. Selain itu, koordinasi lintas lembaga yang lebih sigap, sekaligus menekankan pentingnya respons terpadu antara BNPB, PVMBG, TNI/Polri, pemerintah daerah, hingga relawan.

Terpisah, Kementerian Pariwisata mengimbau wisatawan untuk menjauhi Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitar Gunung Semeru imbas kejadian erupsi beberapa waktu lalu. “Terkait dengan Semeru, kami juga mengamplifikasi apa yang disampaikan Taman Nasional untuk menghindari daerah aliran sungai sepanjang Besuk Kobokan itu,” kata Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Manajemen Krisis Fadjar Hutomo, Kamis.

Fadjar mengatakan hal tersebut dimaksud agar wisatawan tidak mengalami pengalaman menyenangkan seperti bertemu dengan banjir lahar akibat letusan kemarin. “Jadi kami minta untuk mohon jauhi daerah aliran sungai,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia turut mengimbau agar wisatawan yang ingin melakukan perjalanan untuk rajin memeriksa perkiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) karena adanya potensi cuaca ekstrem belakangan ini. Ant/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.