Perkuat Program MBG, Pemerintah Tancap Gas Bangun SPPG Nasional di 152 Lokasi Sekaligus

Jumat, 21 Nov 2025, 20:20 WIB

JAKARTA – Membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara masif menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem distribusi dan layanan publik yang lebih efisien.

Kehadiran SPPG memungkinkan standarisasi proses, peningkatan kualitas layanan, serta percepatan arus barang maupun data di berbagai sektor.

Ket. Foto: Petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cilegon, Banten, mengemas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dikirim ke sejumlah sekolah di sekitarnya. — Sumber: ANTARA/ Andi Firdaus

Dengan cakupan yang luas, SPPG dapat mengurangi ketimpangan akses antarwilayah, menekan biaya operasional, dan meningkatkan transparansi.

Pembangunan masif juga memberi fondasi bagi integrasi digital dan pemantauan real-time, sehingga pemerintah maupun pelaku usaha dapat merespons kebutuhan lebih cepat.

Pada akhirnya, SPPG yang tersusun secara nasional menciptakan layanan yang lebih merata, efisien, dan mendukung percepatan pembangunan ekonomi.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menandatangani kontrak pembangunan untuk membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 152 lokasi.

Penandatanganan itu mencakup dua paket pekerjaan konstruksi dan dua paket konsultan supervisi dengan PT Hutama Karya sebagai kontraktor, dan PT Kanta Karya Utama sebagai konsultan supervisi.

Direktur Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PU Bisma Staniarto di Jakarta, Jumat (21/11), menjelaskan sebenarnya pihaknya berencana membangun SPPG di 264 lokasi, namun tahun ini Kementerian PU hanya bisa membangun di 222 lokasi.

Sebab, lokasi lainnya belum dapat dilaksanakan karena terkendala proses pengalihan status lahan ke pemerintah daerah (pemda) yang masih berlangsung.

"Memperhatikan sisa waktu pelaksanaan tahun 2025 yang sangat terbatas, maka alokasi anggaran dan proses pengadaan barang jasa untuk pembangunan SPPG tahun 2025 dilaksanakan di Unit Kerja Pusat Ditjen Prasarana Strategis yaitu Direktorat Inspektur Dukungan Perekonomian, Peribadatan, Kesehatan, Olahraga dan Sosial Budaya," katanya.

Bisma mengatakan bahwa paket pekerjaan dibagi menjadi tiga wilayah berdasarkan sebaran lokasi.

Pada penandatanganan kali ini, pemerintah meneken dua paket fisik dan dua paket supervisi.

Paket SPPG 1 mencakup 78 lokasi yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Seribu, Jambi dan Sumatera Selatan.

Paket ini dikerjakan oleh PT Hutama Karya dengan nilai kontrak sekitar Rp639,23 miliar, sementara supervisinya dilakukan PT Kanta Karya Utama senilai Rp7,31 miliar.

Sementara itu, Paket SPPG 2 mencakup 74 lokasi di Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Pelaksana konstruksinya adalah PT Adhi Karya dengan nilai kontrak Rp581,23 miliar, sedangkan supervisinya dilakukan oleh PT Ciriajasa Cipta Mandiri dengan nilai Rp6,31 miliar.

Adapun Paket SPPG 3 yang mencakup 70 lokasi dijadwalkan bakal diteken pada Senin, 24 November 2025 mendatang.

Dalam kesempatan itu, Bisma juga menyampaikan bahwa prototipe bangunan SPPG mengikuti arahan Presiden agar dapur layanan gizi dibangun dengan standar higienis.

Material yang digunakan harus aman terhadap bakteri dan jamur, area dapur dilengkapi pelapis tahan api, lantai menggunakan epoxy, serta dilengkapi sistem tata udara, filter air bersih, instalasi pengolahan limbah, perlengkapan pemadam kebakaran, hingga konstruksi modular untuk mempercepat proses pembangunan.

Sebelumnya, Kementerian PU dan Badan Gizi Nasional (BGN) telah menandatangani MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai dasar percepatan pembangunan SPPG.

  • Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
  • Dapur MBG

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.