Likuiditas Mengendur: Pertumbuhan Uang Beredar Oktober 2025 Sedikit Melambat
Jumat, 21 Nov 2025, 14:20 WIBJAKARTA â Pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Oktober 2025 tercatat sedikit melambat dibanding bulan sebelumnya.
Perlambatan ini mengindikasikan aktivitas likuiditas di perekonomian mulai tertahan, sejalan dengan penyaluran kredit yang belum sepenuhnya pulih dan sentimen pelaku usaha yang masih berhati-hati.
Meski demikian, stabilnya komponen dana pihak ketiga serta terkendalinya inflasi membantu menjaga struktur likuiditas tetap sehat.
Secara keseluruhan, dinamika M2 yang melemah tipis ini mencerminkan proses penyesuaian wajar di tengah normalisasi permintaan domestik dan kebijakan moneter yang masih cenderung ketat.
Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Oktober 2025 tumbuh positif, yakni sebesar 7,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp9.783,1 triliun.
âPosisi M2 pada Oktober 2025 tercatat sebesar Rp9.783,1 triliun atau tumbuh sebesar 7,7 persen (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 8,0 persen (yoy),â kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (21/11).
Lebih lanjut, perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 11,0 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,5 persen (yoy).
Perkembangan M2 pada Oktober 2025 dipengaruhi oleh aktiva luar negeri bersih, penyaluran kredit, dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus).
Aktiva luar negeri bersih pada Oktober 2025 tumbuh sebesar 10,4 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada September 2025 sebesar 12,6 persen (yoy).
Sementara penyaluran kredit pada Oktober 2025 tumbuh 6,9 persen (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 7,2 persen (yoy).
Dalam hal ini, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), dan tagihan repo.
Kredit yang masuk dalam perhitungan juga tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada Pemerintah Pusat dan bukan penduduk.
Selanjutnya, tagihan bersih kepada Pempus tercatat tumbuh sebesar 5,4 persen (yoy), setelah pada September 2025 tumbuh sebesar 6,5 persen (yoy).
Di sisi lain, bank sentral juga mencatat uang primer (M0) adjusted pada Oktober 2025 yang tumbuh sebesar 14,4 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 18,6 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.117,6 triliun.
Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 27,1 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 13,4 persen (yoy).
BerdasarkÂan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
KKI 2026 Catat Transaksi Rp177,21 Miliar, UMKM DKI Kuatkan Ekspor & Pembiayaan
-
30 UMKM Binaan BI DKI Mejeng di KKI 2026, Target Perluas Pasar & Akses Pembiayaan
-
Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo, dan BP Alami Penyesuaian
-
Mawar de Jongh Rilis Single Terbaru "Kan"
-
Antiklimaks! Kasus Ruben Onsu soal Penggelapan Dana Rp3,5 Miliar, Pelapor Cabut Laporan, Ini Kesepakatannya!
-
Persija Pinjamkan Striker Mauro Zijlstra ke Arema Malang
-
Youth Today, Leaders Tomorrow: BI dan Pemprov DKI Bentuk 500 Pemimpin Muda Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.