Dugaan Kontaminasi Radioaktif di Sepatu! Satgas Penanganan Cs-137 Tahan Nafas Tunggu Hasil Investigasi dari BRIN

Senin, 17 Nov 2025, 18:42 WIB

JAKARTA – Satuan Tugas Penanganan Cs-137 menyatakan masih menunggu hasil investigasi lanjutan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait dugaan kontaminasi radioaktif Cesium-137 pada dua kontainer berisi produk alas kaki.

Sikap berhati-hati ini mencerminkan pentingnya verifikasi ilmiah sebelum penetapan langkah mitigasi, mengingat temuan radioaktif dapat berdampak pada keamanan publik dan reputasi industri ekspor.

Ket. Foto: Ilustrasi-Penyegelan kawasan mengandung radioaktif cesium-137 oleh Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup di sebuah pabrik di Cikande, Kabupaten Serang, Kamis (11/9/2025). — Sumber: ANTARA/HO-KLH

Investigasi BRIN menjadi krusial untuk memastikan sumber kontaminasi, tingkat paparan, serta potensi risiko bagi pekerja maupun konsumen.

Hasil final nantinya akan menentukan apakah diperlukan tindakan karantina, penanganan khusus, atau pengetatan prosedur inspeksi di jalur logistik guna mencegah terulangnya insiden serupa.

Hasil pemeriksaan laboratorium BRIN diharapkan keluar pekan ini, kata Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Satgas Penanganan Cs-137 Bara Krishna Hasibuan usai menghadiri 13th US-Indonesia Investment Summit di Jakarta, Senin (17/11).

Pemeriksaan awal yang dilakukan Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) memang menemukan jejak kontaminasi di dalam salah satu kontainer. Namun, kontaminasi tidak terdeteksi di bagian luar kontainer.

"Ada dua kontainer yang membawa footwear yang terkontaminasi. Satu sedang dilakukan pengecekan. Jadi sudah dilakukan pengecekan awal oleh Bapeten, memang ada indikasi kontaminasi luar boks, jadi di luar kontainernya tidak ada, tapi di dalamnya (kontainer) ada," katanya.

Menurut dia, kedua kontainer tersebut saat ini berada di Pelabuhan Tanjung Priok dan berasal dari perusahaan berinisial NM yang berada di kawasan Cikande.

Bara mengatakan satgas memastikan proses ekspor perusahaan tersebut tetap berjalan karena dugaan kontaminasi dinilai bukan kasus baru. Kasus kontaminasi radioaktif yang ditemukan pada produk udang maupun sepatu sebenarnya berasal dari satu rangkaian kejadian yang sama dan terjadi pada periode waktu yang sama, yakni sekitar bulan Mei 2025.

Sumber kontaminasi tersebut disinyalir berasal dari fasilitas smelting milik PT Peter Metal Technology (PMT).

Lebih lanjut ia mengatakan sumber paparan berasal dari scrap metal yang ternyata mengandung bahan radioaktif, di mana ketika proses peleburan berlangsung, terjadi penguapan material radioaktif yang kemudian terbawa melalui udara (airborne). Aliran udara inilah yang membawa partikel radioaktif tersebut ke berbagai titik lain di dalam kawasan industri.

"Kita ingin menegaskan bahwa kontaminasi yang terjadi pada udang, dan pada footwear ini kelihatannya terjadi pada periode waktu yang sama, kira-kira bulan Mei. Sumbernya juga sama yaitu fasilitas smelting yang dimiliki oleh PT Peter Metal Technology (PMT) itu, yang (scrap metal) terkontaminasi waktu itu," ujar dia.

Lebih lanjut, Bara menambahkan bahwa untuk saat ini tidak ada penyebaran kandungan radioaktif baru.

"Jadi tidak ada penyebaran secara masif, dan produk sepatu yang terkontaminasi itu, walaupun laporan baru kita terima baru-baru ini, sebetulnya itu juga bukan kontaminasi baru. Itu kontaminasi lama," katanya.

  • Dekontaminasi Cesium-137

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.