- Home
-
- Luar Negeri
-
- Thailand dan Kamboja Bahas...
Thailand dan Kamboja Bahas Ketegangan Perbatasan dengan AS
Minggu, 16 Nov 2025, 12:05 WIBISTANBUL - Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, Sabtu (15/11), mengatakan bahwa mereka berdua membahas ketegangan perbatasan antara kedua negara dalam panggilan telepon terpisah dengan Presiden AS Donald Trump pada Jumat (14/11).
Panggilan telepon tersebut dilakukan "untuk membahas perkembangan di sepanjang perbatasan Kamboja-Thailand, dengan tujuan melanjutkan implementasi perjanjian damai antara Kamboja dan Thailand," kata Hun Manet di media sosial Facebook.
Sambil berterima kasih kepada Trump atas "inisiatifnya" terkait gencatan senjata dan Deklarasi Bersama Kuala Lumpur, Hun Manet juga menyampaikan "komitmen kuat Phnom Penh untuk menjunjung tinggi semangat Deklarasi Bersama Kuala Lumpur."
Dia juga menyatakan harapan bahwa kedua pihak akan terus bekerja sama sesuai dengan prinsip dan mekanisme bilateral yang disepakati.
Di sisi lain, Trump menekankan "posisinya yang jelas" bahwa dia ingin melihat perdamaian abadi antara Kamboja dan Thailand, kata Hun Manet.
"Dalam hal ini, Presiden akan terus memantau masalah ini secara ketat untuk memastikan tidak ada bentrokan bersenjata yang terulang di sepanjang perbatasan Kamboja-Thailand," tambahnya.
Kamboja mempertahankan pendiriannya untuk "menyelesaikan masalah perbatasan secara damai, sesuai dengan prinsip dan mekanisme yang telah disepakati sebelumnya, guna menyelesaikan masalah perbatasan Kamboja-Thailand dan membangun perdamaian abadi antara kedua negara," tegas Hun Manet.
Di akun Facebook-nya, Anutin mengatakan dia telah berbicara dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Trump pada Jumat (14/11).
Perdana Menteri Thailand tersebut mengatakan kepada Trump bahwa "kedua pihak harus mematuhi komitmen yang disepakati bersama untuk memungkinkan tercapainya perdamaian," menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Thailand.
Anutin, seraya menekankan komitmen Bangkok terhadap perdamaian, juga mendesak Kamboja untuk "mengakui fakta dan bertanggung jawab" atas ledakan ranjau awal pekan ini.
Thailand menuduh Kamboja menanam bahan peledak baru, serta "operasi penjinakan ranjau di 13 wilayah yang telah dibahas sebelumnya."
Dia juga mengatakan bahwa "dalam situasi saat ini, Thailand harus memiliki hak untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna melindungi kedaulatan Thailand."
Satu warga sipil tewas dan tiga lainnya terluka dalam bentrokan lintas perbatasan antara Thailand dan Kamboja pada Rabu (12/11), dengan kedua pihak saling menyalahkan, hanya beberapa hari setelah Thailand menangguhkan pakta perdamaian.
Negara-negara Asia Tenggara itu menandatangani pakta tersebut bulan lalu di Kuala Lumpur di hadapan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Pada 28 Juli, Kamboja dan Thailand setelah menyepakati gencatan senjata tanpa syarat dalam pertemuan trilateral yang diselenggarakan oleh Anwar setelah berminggu-minggu permusuhan
- Konflik Thailand-Kamboja
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Thailand Tak Mau Ditekan dalam Pertemuan Menlu ASEAN Soal Konflik dengan Kamboja
-
Kuil Abad ke-11 Kamboja Hancur dalam Serangan Thailand
-
Sekjen PBB Desak Thailand-Kamboja Menahan Diri dan Hindari Eskalasi
-
Topan Kajiki Terjang Pulau Hainan Akibatkan 100.000 Orang Terluka
-
Film "Surat Untuk Presiden" Garapan TVRI Kisahkan Perjuangan Anak SD di NTT
-
Jet Tempur JAS39 Gripen Thailand Luncurkan Serangan Presisi pada Markas Militer dalam Kasino Kamboja
-
Peneliti Tiongkok Sukses Transplantasi Paru-Paru Babi pada Pasien Manusia
Satlap Tri Cakti dan Satgas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Bijih Timah Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.