AS Desak Gencatan Senjata Segera di Sudan

Jumat, 14 Nov 2025, 01:00 WIB

Washington - Amerika Serikat (AS) pada Rabu (12/11), mendesak pihak-pihak yang bertikai di Sudan untuk segera menyepakati gencatan senjata demi menghentikan penderitaan warga sipil yang terus meningkat akibat konflik berkepanjangan.

“Amerika Serikat mendesak pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Sudan agar segera menyetujui dan melaksanakan gencatan senjata kemanusiaan yang diusulkan,” tulis Penasihat Senior untuk Urusan Arab dan Afrika, Massad Boulos, melalui platform media sosial X milik pemerintah AS.

Ket. Foto: Amerika Serikat (AS) — Sumber: istimewa

Dikutip dari Antara, Boulos mengatakan jutaan warga sipil kini kekurangan makanan, air, dan perawatan medis. Ia mendesak Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) untuk segera berkomitmen pada gencatan senjata “tanpa manuver politik atau militer yang justru akan menelan lebih banyak korban jiwa.”

“Semua pihak harus menepati komitmennya, menghentikan permusuhan, dan memberikan akses kemanusiaan secara penuh, aman, dan tanpa hambatan,” tulis Boulos, seraya menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut seharusnya menjadi “langkah penting menuju dialog berkelanjutan dan perdamaian yang langgeng.”

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Washington bersama mitra internasional terus berupaya memfasilitasi perundingan damai agar kedua pihak segera menurunkan ketegangan.

AS juga menegaskan pentingnya akses kemanusiaan tanpa hambatan untuk menyalurkan bantuan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya kepada warga yang terdampak perang.

Seruan itu disampaikan di tengah peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa situasi kemanusiaan di Sudan terus memburuk, sementara lembaga-lembaga bantuan melaporkan akses ke wilayah terdampak masih sangat terbatas akibat pertempuran.

Konflik antara militer Sudan dan RSF yang pecah sejak April 2023 telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sedikitnya 40.000 orang tewas dan 12 juta lainnya kehilangan tempat tinggal akibat perang tersebut.

Bulan lalu, RSF merebut ibu kota Darfur Utara, El-Fasher, dan dituduh melakukan pembantaian. Kelompok itu kini menguasai seluruh lima negara bagian di wilayah Darfur dari total 18 negara bagian Sudan, sementara militer masih memegang kendali atas 13 negara bagian lainnya, termasuk Khartoum.

  • Konflik Bersenjata

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.